Sumber Cahaya (?)

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Sumber Cahaya (?)

Cerita tentang cinta, selalu saja menarik. Layaknya sebuah penelitian yang menggunakan metode studi kasus, unik. Kenapa unik? Karena tidak akan pernah ada cerita yang persis serupa, sama seperti kamu tidak akan menemukan orang yang benar-benar sama. Cerita kali ini adalah tentang laki-laki yang mengajarkan aku bagaimana tetap berada di sisi seseorang, seseorang yang bertahan di sisi orang lain.

Mereka awalnya dipertemukan oleh waktu, dipaksa duduk bersama, hampir setiap hari. Mereka bertukar pikiran, mencari masalah, menemukan solusi, selalu begitu, seperti cerita Ilona dan Rudy. Dari yang hanya saling mengenal, saling mendukung, kemudian saling peduli dan memperhatikan.  

Laki-laki ini, nyaris sempurna terutama rasa sabarnya. Aku mungkin akan kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan bagaimana dia, bersikap pada seorang perempuan yang sedang mengharapkan orang lain. Tak habis pikirku, membayangkan bagaimana dirinya, mungkin berkali-kali terluka tapi tak pernah menunjukan, masih bisa tersenyum. Ingin aku bertanya pada perempuan yang diharapkannya, memang sesempurna apa priamu?

Perempuan itu? Aku kenal baik dengan dia. Aku tahu segalanya tentang dia, tentang cerita mereka. Tapi ada hal yang tidak dapat aku tahu dan tidak dapat aku pahami, bagaimana ia begitu dibutakan oleh perasaan. Mengharapkan yang satu, tapi tak bisa melepaskan yang lain. Dia tak membiarkan laki-laki ini pergi untuk mencari kebahagiaannya. Kenapa perempuan ini menahannya jika memang dia malah merindukan orang lain? Entahlah hanya dia, dan pikirannya yang tahu.

Jika boleh aku bandingkan, aaaah sebenarnya tidak boleh. Setiap orang mempunyai karakternya sendiri. Tapi tak apa, ini hanya sekedar sudut pandangku. Salahkan saja aku jika kemudian ada yang protes.

“Hai Ukhti cantik, kau pernah berkata, laki-lakimu ini dewasa. Apa bedanya dengan dia? Ayolah sejak kapan usia menjadi indikator kedewasaan. Kau bilang laki-lakimu telah kau kagumi sejak lama. Kau yang mengagumi, tapi laki-lakimu itu, bahkan melihatmu saja mungkin tidak. Sedang dia? Dia mengagumimu, mungkin lebih dari itu. Kau bilang laki-lakimu humoris. Apa artinya humoris, jika pada akhirnya perasaan pun menjadi bahan lelucon. Perasaan tidak sebercanda itu bukan? Sedang dia? Cobalah kamu hitung berapa kali dia berusaha membuatmu bahagia, membuatmu tersenyum, meski dengan caranya sendiri. Dan, kau bilang laki-lakimu selalu memberikanmu semangat, selalu berusaha ada untukmu, dan kamu bahagia akan itu, bukan? Faktanya, kembali hitunglah siapa yang lebih sering memberikanmu semangat, yang selalu berusaha ada dan memang benar-benar ada untukmu? Kamu bahagia hanya karena laki-lakimu berusaha ada untukmu, tapi dia tidak pernah benar-benar ada. Dan kamu sebenarnya hanya berusaha bahagia, tidak benar-benar bahagia. Ayolah, hatimu tahu itu, kau hanya terlalu naïf, terlanjur mengatakan laki-lakimu sempurna. Padahal tidak. Terlalu sarkas kah apa yang aku katakan? Ku harap tidak. Aku hanya sedikit kecewa. Kau tak pandai memilah, memang mungkin terkadang cinta itu membutakan, membutakan kalian berduaaa, membutakanmu yang selalu mengharapkan orang lain, membutakan diaa yang selalu setia bersamamu. Aah kenapa kisah cinta kalian itu terlalu rumit.”

Aku heran. Dimakan rasa penasaran. Sebenarnya tak ada untungnya bagiku untuk tahu. Itu kisah cinta mereka, tak ada sangkut pautnya dengan aku. Tapi aku ingin tahu, biar tak salah sudut pandangku, biar aku tak menyudutkan siapapun, tak membela siapapun. Kemudian aku menemukan jawaban, tentang bagaimana perasaan sederhana ternyata bisa jadi begitu sulit untuk seorang perempuan.

“Silakan benci aku. Aku tahu sepenuhnya aku salah. Bukan hanya kau, tapi kawanku yang lain pun berkomentar sama, aku adalah perempuan paling jahat. Aku tak akan mencari pembenaran, membuat pembelaan, karena lagi-lagi aku tahu sepenuhnya aku salah. Bagaimana semua kesalahan ini berawal? Saat itu aku dihadapkan pada banyak pilihan. Luka yang sebelumnya pernah menganga membuatku berupaya mencari pengganti yang lebih baik, yang sempurna, yang seutuhnya melihatku. Aku benci pilihan dan aku sejujurnya tidak paham dengan apa yang ada di hatiku.

Pria yang satu pernah menyebut dirinya sebagai hujan. Kita selalu dipertemukan oleh takdir. Tak pernah ada rencana apapun untuk menyusun pertemuan manis. Hanya kebetulan pertemuan kita selalu manis. Tapi ternyata dia tak seutuhnya melihatku. Mungkin aku hanya tempat singgah, mungkin aku ‘taman’ yang enak diajak berbincang, mungkin aku ‘taman’ yang membuat nyaman, tapi ya aku hanya ‘taman’, bukan rumahnya. Sebaik-baiknya tempat kembali pulang ya memang rumah. Setidaknya aku bersyukur, telah membuat ia kembali ke rumahnya.

Pria yang kedua adalah orang yang ku kagumi sejak lama, dia ku anggap bagai purnama. Iya, dia yang kau sebut-sebut sebelumnya, memang ku rasa sempurna. Belum pernah kah kau merasakan orang yang kau kagumi kemudian datang padamu dan mengatakan cinta rasanya seperti apa? Ketika kau mengagumi seseorang kau hanya akan melihat kebaikannya bukan? Siapa yang tahu jika dongeng ini berakhir menyakitkan.. aku hanya mengikuti rasa kagumku, mengikuti ekspektasi ku yang berlebih pada sosoknya yang kurasa sempurna.

Pria yang ketiga. Iya, dia yang tak bisa aku lepaskan. Yang baru ku sadari keberadaannya begitu berarti. Terlambat memang, tapi tak apa. Aku menyebutnya apa? Tak tahu, dulu belum tebersit bahwa dia akan mengambil bagian di hidupku. Sekarang? Aku masih tak bisa mendeskripsikan dia seperti apa, mungkin dia sumber cahayaku. Dulu, entah mengapa aku mampu mengabaikannya… mengabaikan seseorang yang tak pernah mengabaikanku. Jika ku ingat lagi masa lalu, kemudian sekarang, dia adalah sosok yang konsisten, tak pernah berubah. selalu ada untukku. Tapi untuk perasaannya, aku tak tahu masih adakah rasa itu. Aku tak akan banyak berharap. Aku terlalu malu untuk itu.

Menyesal, mungkin itu satu kata yang sekarang mampu menggambarkan perasaanku. Menyesal karena dulu aku tak pernah memberinya kesempatan. Menyesal karena telah menyepelekan perasaannya. Setiap kali aku mengingat tentangnya, setiap kali itu pula memori ku seolah menunjukan segala hal yang dia lakukan untukku adalah upayanya untuk membuat aku bahagia. Bahkan hingga sampai detik ini, sampai aku menulis ini. Dia masih ada, memberikan waktunya untukku.

Iya kawan, aku tahu aku jahat. Terlalu jahat. Bagaimana bisa aku tak memikirkan perasaannya. Saat itu, dengan polosnya aku memberitahu dia bahwa aku sudah bersama orang lain. Dengan polosnya masih merengek meminta bantuan. Dengan polosnya mengeluh tentang apapun padanya. Dan dia? Dia masih bisa tersenyum, masih dengan tulus memberikan bantuannya padaku, masih dengan sabar mendengar cerita-ceritaku. Bagaimana bisa?

Sudah cukup kawan. Jangan hakimi aku lagi. Kini aku benar-benar merasakan perih itu. Perih yang kau bilang mungkin karma. Mungkin ini perih yang ia rasakan, perih yang tak pernah ia tunjukan. Saat bersamanya kini aku merasakan perih dan bahagia bersamaan. Perih atas luka yang pernah aku buat pada hati baik miliknya, bahagia karena dia tetap sama. Aku sadar, tak bisa terus begini. Aku tak boleh terus bergantung padanya, dia berhak bahagia. Sempat aku ingin menjauh darinya, tapi tak bisa. Bahkan berpikir untuk kehilangannya membuat aku menangis. Malam itu, malam ketika aku menangis, dia bertanya keadaanku, dia bilang dia memikirkan aku. Ya Tuhan, bagaimana bisa bahkan dia masih sempat berpikir tentang aku? Tapi tentu tak mungkin aku mengatakan bahwa aku sedang memikirkannya.

Entah mengapa kini perasaan ku berubah. detak jantung yang awalnya biasa saja kini berdegup lebih kencang. Aku bahagia hanya karena mendapat kabar darinya. Aku rindu saat tak bertemu dengannya. Hidungku kini sangat akrab dengan wangi tubuhnya. Perasaanku tak karuan saat bersamanya, rasanya ingin aku menangis, ingin aku peluk dia dan ku ucapkan permintaan maaf atas luka yang mungkin pernah aku buat, ingin aku ucapkan terima kasih karena masih ada di sampingku. Tapi tak mungkin, tak ada keberanian untuk ku lakukan itu, aku masih ingin menjaga janjiku untuk tak pernah lagi melanggar batasku. Tidak, aku pun tidak berharap lebih, aku tidak berharap bahwa perasaannya tetap sama untukku. Dia berhak mendapatkan cinta yang lebih besar.

Sekarang bagaimana dengan aku dan perasaanku? Akan aku simpan, entah sampai kapan kekuatan itu akan bertahan tapi akan aku simpan. Aku takut melangkahi lagi takdir Tuhan, aku takut terluka lagi, meski memendamnya pun membuatku terluka. Tapi tak apa… akan ku biarkan dia, akan ku bebaskan dia menggapai apa yang dia mau, takkan ku biarkan diriku menjadi batasan untuknya melangkah. Cukup dia menjadi sahabatku terlebih dulu, bukan karena tak ada cinta, tapi rasa sayangku tak membiarkanku untuk kehilangannya.

Tuhan, terima kasih telah mengajarkan aku bagaimana merasakan perih dan bahagia bersamaan. Kembali aku meminta tentang dia dan segala perasaannya aku titipkan padaMu, karena kau yang kuasa membolak-balikan hati manusia. Sama seperti dulu aku mencintai orang lain dengan sangat, kini perasaanku padanya mungkin lebih dari itu, tapi aku tak tahu akan sampai kapan, karena kau yang menentukan semuanya ini bertahan atau tidak. Ku titipkan ya Rabb..”

Sekian, begitu katanya, kata perempuan yang I dan Me nya sedang bertentangan… I yang cintanya tak karuan, yang berapi-api, yang tak bisa menahan rindu.. dan Me yang berusaha menjaga agar tak ada yang terluka atas perasaan yang dinamakan cinta.

 

  • view 239