Purnamaku Part#3 Inikah akhir dongengku?

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Juli 2016
Purnamaku Part#3 Inikah akhir dongengku?

Part#3

Februari-Juli

Awalnya semuanya baik-baik saja. Aku dan dia menjalani hubungan yang menyenangkan. Jarak bukan halangan bagi kami. Sosial media menjadi akses paling memudahkan untuk berkabar. Berkirim foto kegiatan yang sedang dilakukan, bercerita tentang aktivitas masing-masing, bercanda, merangkai mimpi, begitulah kegiatan kami sehari-hari. Kami tidak pernah menargetkan kapan kami akan bertemu. Aktivitas kami telah menyita waktu untuk bersama.  Aku tak pernah berharap banyak untuk bisa menghabiskan akhir pekan bersama, ngedate, atau apapun itu. Dia, meskipun banyak yang aku kagumi dari dirinya, tetap saja dia memiliki kekurangan. Banyak pertemuan yang selalu batal karena kesibukannya. Sedih iya, tapi aku tak marah, aku tahu dia memiliki banyak kegiatan yang tak bisa aku batasi. Aku hanya rindu.

Seperti kesepakatan, tak ada yang mengetahui tentang hubungan kami berdua. Beberapa orang sahabatku tahu, tapi mereka tak mengenal dia. Aku tak bisa benar-benar diam. Ternyata membosankan tak bisa berbagi kebahagiaan, bukan aku ingin menyombongkan, tapi naluri seorang perempuan ingin diakui pun ada dalam diriku. Aku ingin mereka tahu bahwa dia milikku. Salahkah? Ada sesuatu yang sebenarnya ingin ku ketahui dari dirinya, apakah dia benar-benar bahagia memilikiku? Entahlah pertanyaan itu, hanya dia yang memiliki jawabannya.

Aku belajar banyak hal baru semenjak bersamanya. Dia cerdas, maka pengetahuanku makin luas. Berkatnya, entah mengapa aku memiliki angan untuk melanjutkan pendidikan S2, memiliki semangat untuk belajar agar mendapatkan skor Toefl tinggi, aku ingin lulus secepat mungkin. Jangan tanya mengapa, aku pun tak punya jawaban. Dia seperti memiliki magnet, apapun nasehatnya selalu memacuku untuk menjadi lebih baik. Dia mampu membuatku nyaman bercerita, bahkan tentang masalah pribadiku. Sejak kita berada di kepanitiaan yang sama aku menganggap semua seniorku adalah kakak, pun sama padanya, kini dia bukan hanya kakak, namun pasangan, juga kawan.

Kami hampir tak pernah bertengkar. Tapi kami pun hampir tak seperti pasangan lainnya. Kami tak pernah saling bertanya sudah makan atau belum, dia bilang jangan tanya dia sudah makan atau belum, dia sudah besar, kalaupun dia lapar pasti dia akan makan, begitu katanya. Baguslah pikirku, mengurangi pekerjaanku memikirkan hal yang tidak perlu. Semakin hari mengenal dia, semakin cara berpikirku mulai berubah. Berusaha menjadikanku mencintai dengan dewasa.

Satu hari, aku memiliki kesempatan untuk pulang ke rumah. Tidak, aku tidak berpikir bisa bertemu dengan dia, aku tahu pekerjaannya banyak dan aku tidak ingin mengganggunya. Namun, ternyata aku salah. Dia bilang dia ingin mengantarku jika aku berangkat. Saat itu, saat hujan kembali turun, berusaha menghalangi pertemuan kami, ku pikir dia tidak akan jadi mengantarku, lagi pula hari sudah semakin senja. Jarak rumah kami sangat jauh, aku tak ingin merepotkannya.  Namun ternyata dia benar-benar datang, dia bilang dia sedang dalam perjalanan. Pikiranku tak karuan saat itu, bergegas aku berganti pakaian dan menyiapkan barang-barangku, bahkan aku tak sempat makan sampai ibuku yang menyuapinya. Pasti ibu heran melihatku kalang kabut. Dia meneleponku, dia bilang dia sudah dekat, tapi nada bicaranya berbeda, dia seperti terburu-buru, sedikit memarahiku juga karena aku merajuk tak ingin jalan ke depan. Hemm sebenarnya aku hanya ingin dia meminta izin untuk mengantarku pulang pada ibuku. Tapi, ya sudahlah, mungkin dia memang sedang terburu-buru.

Saat dia tiba, aku langsung naik ke motornya. Wajahnya sedikit cemas, dia mengomel katanya dia tak punya banyak waktu. Aku sabar, mungkin dia sedang ada masalah. Tapi dalam hati aku ingin bilang kalau dia memang tak punya waktu tak usah mengantar, aku kan juga tidak pernah meminta. Tapi, ya sudahlah aku paham mungkin setidaknya dia juga ingin punya peran real sebagai pacar, mengantar kekasihnya-mungkin. Tapi sungguh, bagiku dia setia saja sudah cukup –Naif memang. Setelah hening beberapa menit, dia bilang kalau dia tidak bisa mengantarku sampai tempat kost, dia bilang ibunya sakit dan butuh obat sekarang. Dia berkali-kali minta maaf dan bilang dia tidak bohong. Ya ampun, apakah wajahku terlihat seperti tidak percaya padanya? Tentu aku percaya, percaya seutuhnya. Mana mungkin dia jauh-jauh datang menjemputku untuk capek-capek berbohong seperti itu. Aku tak masalah kalau dia tak jadi mengantarku. Aku tidak kecewa, sama sekali tidak. Melihatnya seperti itu, justru semakin membuatku bangga, lelakiku, adalah lelaki baik yang memuliakan ibunya, dan aku yakin lelaki yang memuliakan ibunya pasti memuliakan seorang perempuan.

Sejak kejadian itu, aku mulai berpikir bahwa aku harus mandiri. Aku tahu aku tak bisa mengandalkan siapapun, aku harus berani dan mulai keluar dari zona nyamanku. Aku tak pernah lagi merajuk padanya, tak pernah banyak meminta, aku macam anak baik yang penurut. Meski kadang ada sikapnya yang membuatku terluka, namun ada sejuta alasan bagi hatiku untuk membelanya, membenarkan apa katanya. Kemudian menyalahka diri sendiri yang terlalu manja. Dia mungkin adalah jawaban agar aku bisa belajar. Setelah itu, hubungan kami pun tetap berjalan begitu saja, kesibukanku mulai padat, begitu pula dengan dia. Kami mungkin hanya berkabar sesekali entah di pagi hari ataupun malam hari, tapi tak sesering pasangan biasanya. Perasaanku? Tentu tetap sama, bahkan aku semakin jatuh cinta. Perasaannya? Hanya Tuhan dan dia yang tahu.

Suatu hari dia mengajak aku bertemu, nonton film lagi. Tentu aku sangat senang, rasanya rinduku sudah tak tertahankan. Sehari sebelum pertemuan itu aku bahkan risau memilih baju yang akan ku kenakan, ah kekanak-kanakan sekali. Seperti kali pertama pacaran saja pikirku. Tapi mungkin memang seperti itu orang jatuh cinta. Setelah kelas usai, aku bergegas ke teater yang sama saat pertama kali kami nonton. Dia belum datang, dia masih di perjalanan. Lagi, aku selalu setia menunggunya. Kali ini aku menunggu di pelataran mushola. Sambil memegangi buku aku berkali-kali memperhatikan jam, memperbaiki jilbab, sesekali melihat kaca memastikan penampilanku. Ah malu kalau ku ingat-ingat tingkahku saat itu.

Dia sudah sampai katanya. Seperti biasa dia mengabariku. Hmm ku kira dia akan menghampiriku terlebih dahulu ke pelataran, tapi ya sudahlah jangan manja. Aku langsung bergegas naik ke atas, dia sedang duduk menunggu, pintu teaternya belum dibuka. Aku duduk di sampingnya. Seperti biasa, dia tersenyum.. aaa aku rindu melihat senyumnya itu. Dia langsung melihat buku yang aku bawa, membacanya sekilas. Kemudian kami berbincang sebentar sebelum akhirnya pintu teater dibuka. Setelah kami berada di dalam suasananya jadi sedikit agak canggung bagiku, padahal ini bukan pertama kali. Aku duduk, dia duduk. Film masih belum dimulai, dan dia sama seperti dia yang biasanya, berceloteh banyak hal. Dia bilang bulan Agustus ini dia akan ke Rinjani, tidak akan mengajakku. Huu siapa juga yang suka naik gunung. Aku tak akan ikut. Aku hanya membatin, kembalilah dengan utuh.

Lampu dimatikan. Pertanda film akan dimulai. Dia memperhatikan aku yang terlihat kerepotan dengan buku dan tas yang ku bawa. Dia ambil buku dan tasku, menaruhnya di samping tempat duduk yang kosong. Oke, film dimulai Kali ini aku serius menonton film tersebut. Ceritanya seru, juga romantic. Saat menonton, tangannya mulai nakal. Ia menggenggam tanganku. Ku balas genggamannya, lebih erat. Ah Tuhan, ampuni aku untuk kali ini. Aku tahu aku salah, ini tidak benar. Tapi, tak bisa kuhentikan. Aku terlena oleh rasa cinta.

Saat film usai, dia harus segera pulang, katanya. Aku mengiyakan. Setelah pertemuan kami yang singkat itu, dia tidak menghubungiku. Tak apa, ku rasa dia sibuk. Malamnya, dia memberikan sebuah pesan, pesan yang menyadarkan aku. Dia meminta maaf padaku atas sikapnya, dia telah menyentuhku. Melewati batas yang tidak seharusnya. Dan aku? Aku malah tidak menyadarinya. Setelah aku membalas memegang erat tangannya, memeluknya saat di pertemuan sebelumnya. Aku salah, maafkan aku Tuhan, aku melewati batasku, menduakanMu.

Aku menangis kala itu, meratapi kebodohanku diperbudak oleh rasa cinta. Setelah berpikir matang, aku membalas pesannya, meminta maaf. Aku tak pernah bisa mengawali perpisahan, aku hanya bertanya bagaimana baiknya, dan kita sepakat. Sepakat berpisah. Inikah akhir dongengku Tuhan? Entahlah, namun saat itu, dia benar-benar telah pergi, seolah menjauh. Sebelum aku sempat bertanya. Sehari setelah kejadian itu aku tahu bahwa dia kecelakaan. Aku ingin bertanya mengapa bisa? Apakah itu terjadi setelah dia menemui aku? Apakah itu semua salahku? Kenapa tiba-tiba menjauh? Tak bisakah kita tetap menjadi teman? Kau dulu ku anggap kakakku, Tak bisakah? Padahal aku berharap kau memintaku untuk menunggu, kau tahu? Aku orang paling setia dalam menunggu. Tapi tak apa, aku pun tak ingin dibahagiakan oleh harapan. Dan sayang, aku pun tak pernah menemukan jawabannya.

Tuhan, keputusanku benarkan? Aku menyesal… sungguh… bukan, bukan karena perpisahan ini. Tapi karena dulu aku terlalu mudah luluh, terlalu mudah menyerah. Seandainya aku tetap berpegang pada prinsip, seandainya aku tetap mencintainya dalam diam, tetap bertahan dengan rasa kagum yang tak ada habisnya, tetap menikmati indahnya rindu dalam diam, atau setidaknya aku tak berusaha bertemu dengannya, mungkin sampai detik ini dia akan tetap dalam jangkauanku, mungkin tak akan ada perasaan bersalah seperti ini. Sudahlah, ini hanya sebuah penyesalan.

Maafkan aku Tuhan yang telah mendahului takdirMu, yang tak sabar menunggu. Maafkan aku dengan rasa cinta ini, aku lupa aku adalah milikMu, sudah seharusnya cinta ini senantiasa milikMu sehingga kau mampu menuntunku pada cinta yang utuh. Maafkan aku Tuhan, aku hanya manusia. Sampaikan maafku padanya Tuhan, maaf aku pernah menjadi dosa untuknya, dosa untuk orang tuaku, juga dosa bagi diriku sendiri.

Tuhan, kali ini bantu aku untuk memegang teguh prinsipku, jaga hatiku, jaga pandanganku. Jangan jadikan aku dosa bagi siapapun lagi. Aku sedang berusaha menjadi sebaik-baiknya umatMu. Bantu aku melupakannya Tuhan, ini sudah bulan ke-6 dan aku masih merindukannya. Jantungku kerap berdegup hanya ketika melihat namanya dalam beranda media sosialku. Aku senang setidaknya dia baik-baik saja, aku selalu berharap dia baik-baik saja. Jaga sikapku Tuhan, karena kerap kali aku selalu penasaran mencari tahu tentangnya. Ya, tentangnya masih selalu menjadi pertanyaan di hati kecilku. Sekarang, saat ini, tentang apapun dan siapapun, ku simpan dalam hati kecil ini. Aku tak ingin melangkahi lagi takdirMu.

Jika dia jodohku, maka dekatkanlah kami suatu saat nanti, dalam ikatan nan suci yang tak harus sembunyi-sembunyi. Di mana kami bisa membangun cinta di jalanMu, dengan ridhoMu. Jika dia bukan jodohku, maka pertemukan kami dengan sebaik-baiknya pasangan yang mampu membawa kami ke syurgaMu. Jaga kami Tuhan, Jaga cinta kami.?Macam rindu yang tak ada wujudnya, macam rindu yang belum ku temukan muaranya. Dia dan segala bayangnya, aku titipkan padaMu, ya Rabb ku.

Sumber Gambar

<http://www.dakwatuna.com/author/suko-sri-anggono/>

  • view 208