Purnamaku, Selalu Saat Hujan Part#2

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Juli 2016
Purnamaku, Selalu Saat Hujan Part#2

Januari 2016

Dia datang lagi… Iya,,, bulanku, purnamaku..

Aku marah? Iyalah, siapa yang ngga akan marah ketika sudah mulai mencintai tapi kemudian ditinggalkan tanpa alasan? Move on dengan susah payah, kemudian apa? Dia kembali lagi? Bagus. Aku merasa hati ini hanya mainan yang digunakan ketika ia bosan. Aku berusaha tak peduli, tak ingin membalas apapun pesan yang ia sampaikan, tak ingin mendengar, tak ingin melihat. Tapi hati ini kalah, mulai resah tak beraturan. Perlahan membuka setiap pesan, satu per satu, mencoba mencerna, mencoba memahami ,meskipun nyatanya sulit bagiku. Sulit ketika mengingat bagaimana perjuanganku melupakannya, menggali lagi kenangan yang sudah ku kubur dalam-dalam.

Oke, rileks, bersikaplah biasa saja, bersikaplah seolah semua baik-baik saja, ada dia, maupun tanpa dia. Aku berusaha meyakinkan hatiku untuk tidak lagi melibatkan perasaan ku dengannya. “Don’t be stupid, please!” Awalnya biasa saja, awalnya aku dapat mengendalikan hatiku, bagiku sudah biasa menghadapi sikap konyolnya. –biasa? jauh dari lubuk hati yang paling dalam, aku merindukannya-. Perlahan hati ini luluh, dibalik berubah dinginnya sikapku untuk dia, aku tak bisa menutupi bahwa aku merindukannya. Ku balas singkat semua pesan darinya, tapi tak sampai hati untuk tidak membalasnya. Berusaha cuek, berusaha jutek, tapi pada akhirnya aku kembali tertawa dengan celotehnya.. ahhh apakah perempuan selalu seperti ini? Celotehnya ku balas dengan celoteh lain, tak pernah ada ungkapan serius, kami tak pernah membahas masa lalu, hingga ia sendiri yang memulainya. Memulai mengungkapkan suatu alasan mengapa dia pernah pergi. Entah itu kejujuran atau bukan-Aku bukan peramal-, namun yang pasti ada bahagia di hati ini ketika dia mengatakan bahwa dia menyayangiku, dia membutuhkanku. Ah aku merasa bodoh, merasa terlalu naïf.

Kami berjanji untuk bertemu dalam suatu waktu. Aku menantikan hari itu –bodohnya-. Saat itu, di tempat itu, aku tak bisa berbohong bahwa aku mencarinya, aku sangat yakin dia akan datang, dan memang dia datang. Ya itu dia, aku melihatnya mengenakan topi dan kacamata, aku tahu itu dia. Mataku mengikuti setiap langkahnya, hati ini berdegup berkali-kali berucap aku merindukannya, tapi akalku dengan jelas memberi peringatan bahwa aku tak boleh menghampirinya. Cukup hanya dengan melihatnya.

Langit mulai mendung, perlahan rintik, kemudian hujan deras datang. Aku masih menunggu dia menghampiriku –bodohnya lagi-. PING ada sebuah pesan ,bertanya aku dimana, bertanya apakah aku kehujanan, ahh aku ingin sekali membalas, “menurutmu? Hujan datang sederas ini dan kamu pikir aku gak kehujanan? Bahkan payung sekalipun tetap membuat aku basah, bodoh…” yaa mana mungkin aku berani berkata seperti itu, tetap ku balas dengan kata “tak apa kehujanan sedikit,” aaah perempuan, haruskah seperti itu agar mendapat sedikit perhatian? “Kenapa sih kamu ga peka? Aku di sini nunggu lama sampe kejebak hujan cuma buat nunggu kamuu!! bukan siapa-siapa, bukan karena aku menikmati acara ini,” rutukku dalam hati. Sudah lah tetap saja aku tak berani.. sesaat ketika aku ingin membalas pesannya lagi, ponselku mati. Sempurna. Sekarang apa yang aku tunggu? Keajaiban kita akan dipertemukan di tempat seramai ini? Aku menyerah. Seharusnya aku tahu ini akan terjadi, seharusnya aku sadar akhirnya pasti begini. Aku pulang, entah mengapa dengan rasa kecewa yang tertinggal.

11 Februari 2016

Dia bilang dia ingin bertemu denganku. Lagi? Ya, lagi setelah sebelumnya hanya pertemuan yang menyisakan kecewa. Dia bilang dia menyesal, dia bilang dia sadar mungkin dia akan kehilangan aku untuk kedua kalinya. Bagaimana denganku? Percaya? Tepatnya mencoba percaya. Entah pikiranku yang selalu positif, atau aku yang memang terlalu polos, lagi-lagi aku luluh. Aku tak bisa marah menghadapinya, sungguh tak bisa. Aku diam, terserahlah apa maunya, aku sudah tak banyak berharap. Ku ikuti keinginannya, ku ikuti permainannya, ku yakinkan hati bahwa aku bisa mengatasi semuanya –misal berusaha jaga image di hadapannya ketika pertemuan ini memang nyata. Ia bilang kali ini dia akan datang, ia memintaku untuk menunggu. Dan aku menunggu.

30 menit,,,

60 menit,,,

90 menit,,,

120 menit,,,

Waktu yang cukup lama bukan? Main bersama teman-teman ku jadikan dalih untuk menunggu. Main? Bahkan aku melewatkan banyak percakapan saat itu, yang ku lakukan hanya melihat pergantian menit… Aku risau, di luar hujan, jadikah dia datang? sesaat kemudian ponselku berbunyi, dia bilang dia sudah sampai di bioskop dekat kampusku.  Sebelumnya dia memang sudah bilang ingin mengajak aku nonton film. Sedikit berlari aku ke tempat di mana dia menunggu, menerjang gerimis yang mulai datang,-lagi-lagi saat hujan- tak ku pedulikan perut ku yang sedari pagi belum aku isi. Sampai disana aku mulai mengandalkan mata minusku, mencari-cari keberadaannya. Seperti biasa, tak butuh waktu lama untuk menemukan orang yang kau rindukan. Oh Tuhan, dia masih sama, pria yang ku kagumi beberapa tahun silam, pria yang ku sukai satu tahun belakangan. Dengan tampang konyol yang tak pernah lepas dari mukanya, dengan senyum manisnya, dia menyapaku, memasang muka sebal karena menungguku, dia bahkan tak tahu aku menunggunya lebih lama dari itu. Aku menunggu pertemuan dengannya bukan lagi hitungan jam tapi hitungan hari, hitungan bulan bahkan ketika dia pernah menghilang tanpa memberikan penjelasan, tapi aku memilih untuk diam.. aku kalah, rinduku mengalahkan segalanya, melihatnya lagi setelah sekian lama bagiku lebih dari cukup.

Kami menikmati film itu. Kami? Dia lebih tepatnya. Saat menonton, aku tak bisa fokus dengan cerita dalam film itu, aku hanya bergeming dengan pikiranku, beberapa kali memperbaiki posisi duduk. Dia duduk disamping kananku, sesekali aku meliriknya yang begitu menikmati film, tertawa, tersenyum. Ah melihatnya begitu dekat rasanya ingin ku hentikan waktu sejenak. Kami tidak terlalu banyak berbincang. Baru setelah film usai, dia mengajak aku makan. Aku adalah tipe wanita yang tak bisa berpikir di depan orang yang aku sukai, ditanya mau makan apa pasti jawabannya terserah, apa aja, kalo ngga samain aja, ya gitulah ya perempuan serba salah. Kami mengambil tempat duduk di tempat paling ujung dekat jendela, aku bisa melihat pemandangan di luar, ada sisa-sisa hujan di sana.

Ini adalah bagian yang paling aku suka, ketika dia menunjukan sisi kepintarannya, dengan joke yang selalu membuat aku bisa tertawa, sisi yang aku kagumi sejak lama. Ia mulai berceloteh banyak hal, tentang sandal yang dibelinya, tentang orang yang berlalu lalang di teater, tentang filmnya, tentang betapa sibuknya ia, tentang hujan, tentang pekerjaannya, tentang lay off, tentang sampah, bahkan tentang sumpitnya orang Jepang. Aku tak tahu bagaimana ia dapat menemukan banyak topik pembicaraan, sedang aku setia mendengarkan, lebih banyak hanya memperhatikan, bermain dengan pikiran nyatakah apa yang ada di hadapanku? He is like a dream for me.

Di tengah percakapan kami, dia mengeluarkan dua buah cokelat dengan tulisan di atasnya, harapan agar aku cepat gemuk.  hmm sesuatu yang di luar dugaan dan membuat aku merasa melayang, demi tuhan, ada apa dengan aku?? Hanya karena cokelat? Gimana kalo dikasih cincin kawin? Ini gila, pikirku. Kadang aku benci jadi perempuan sepolos ini, kadang aku ingin menjadi laki-laki, ingin mencoba bagaimana asyiknya memperlakukan perempuan seperti itu.

Setelah makan, kita bergegas untuk pulang. Segalanya seolah mengalir saja, kita berjalan beriringan, sesekali bercanda. Tiba di parkiran, dia menitipkan barang bawaannya padaku, juga memberikan helm. Aku naik ke motornya, sedikit canggung, sudah berapa lama aku tidak dibonceng laki-laki yang aku sukai. Di awal perjalanan, dia membeli bensin, dan tingkah konyolnya muncul. Ia menurunkan aku di tempat isi hydrogen, kemudian pada penjaganya ia menitipkan aku. Antara malu tapi senang, selalu saja ada tingkahnya yang di luar dugaanku.  Dia seperti Dilan, tokoh yang aku sukai dalam novel, tapi dia lebih dari sekedar Dilan bagiku.

Di sepanjang jalan aku juga tak banyak berbicara. Ia lebih mendominasi, aku hanya menimpali. Lagi-lagi dia menemukan topik pembicaraan bahkan berbuat konyol lagi di tengah perjalanan. Dia mencontohkan adegan di film yang kami tonton sebelumnya. Aku tak bisa berhenti tertawa. Sudah separuh perjalanan kami lewati, tiba-tiba hujan deras datang. Oke hujan lagiiii pikirku. Sialnya, saat itu aku hanya mengenakan pakaian tipis, ya sudahlah aku hanya bisa menikmati tetesan hujan yang jatuh ke wajahku. Aku risau saat hujan semakin deras, bukan karena pakaianku basah, tapi kasihan melihat orang tepat di depanku menggunakan helm tanpa kaca depan, air hujan sedikit mengganggu konsentrasinya mengendarai motor. Sesekali ia menyeka tetesan air di kacamata yang menghalangi penglihatannya. Aku hanya bisa diam,,,

Sesaat kemudian…

Tangannya meraih tanganku yang sedari tadi hanya berpegangan pada ujung jaketnya, dingin katanya, dia menyimpan tangan kiriku di saku jaket sebelah kirinya, juga tangan kananku di sebelahnya. Ah pikiranku benar-benar gila saat itu, aku hanya diam sedang kedua tanganku mengikuti tangannya begitu saja. Aku ingat ia berkata kalau apa yang dia lakukan bukan modus dia hanya tidak ingin membuatku kedinginan. Ahh aku tahu itu omong kosong, aku bukan bocah baru puber, tapi tetap saja aku malah merasa nyaman. Hatiku tak karuan, tapi dia masih bisa bercanda, dia bilang ternyata jaket dengan banyak saku fungsinya untuk itu. Aku tertawa, menyerah dengan segala jaim yang ku pertahankan, aku mulai mempererat peganganku, lebih seperti memeluk ku rasa. Ah gila.

Ia kembali berceloteh, hingga celotehnya mulai mengarah pada pembicaraan yang serius bagiku tapi sangat santai baginya. Dia memintaku untuk jadi pacarnya, tanpa pendahuluan, tanpa aba-aba, tanpa basa-basi. Deggg jantungku rasanya berhenti. Seandainya aku tak berpikir mungkin akan langsung ku iyakan permintaannya. Tapi, aku tak ingin semudah itu mengiyakan, aku jawab tidak, aku anggap semua ucapannya hanya bercanda. Sembari menggenggam tanganku, ia bilang semua perkataannya serius, ia bilang dia suka hubungan yang fun, yang tidak membuat kita saling terbebani, awalnya tetap ku jawab tidak. Hampir setiap 10 menit di sisa perjalanan dia bertanya pertanyaan yang sama, apakah aku mau jadi pacarnya. Sungguh membuatku gila, aku tak bisa berpikir rasional karena nyatanya aku memang menyukai dia, 2 tahun aku mengagumi dia, 1 tahun baru aku sadar aku menyimpan perasaan untuknya. Aku berpikir, terus berpikir. Tapi pikiran dan hatiku mengarah pada hal yang sama, aku ingin memiliki dongeng bersamanya meski mungkin akhirnya hanya akan menjadi sebuah cerpen, aku ingin mengenalnya lebih dekat, mungkin ini kesempatan yang tidak akan pernah datang lagi, menjadi bagian dari hidupnya. Aku menyerah. Akhirnya aku menjawab iya permintaannya.

Sejak malam itu, kami menjadi sepasang kekasih, malam dimana ada hujan dan aku kembali mencintainya. Namun, ada yang mengganjal di hatiku, dia mengatakan sebuah permintaan agar hubungan kami dirahasiakan. Sudah ku bilang, aku orang yang positif, saat itu aku berpikir permintaannya bukan ide buruk, aku yakin hubungan kami akan menimbulkan kontroversi, alah semacam artis saja. pokoknya saat itu aku pun berpikir sama, aku sepakat untuk merahasiakan hubungan kami, terutama pada orang-orang yang mengenal kami satu sama lain. Bagiku, sebuah hubungan bukan konsumsi publik, siapapun yang aku pilih jadi pasangan pun bukan untuk membuat orang lain terkesan. Ah kau tahu? Hatiku sangat bahagia memilikinya, aku tahu ke depannya tidak mudah untuk kami, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Aku janji.

Sumber Gambar

<http://fotokita.net/blog/2015/01/berkreasi-saat-hujan/>

  • view 238