Sepucuk Surat Rindu

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juni 2016
Sepucuk Surat Rindu

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya

Ku terus berjanji takkan khianati pintanya

Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu

Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Lagu ini lagu terbaik sepanjang masa ayah, ungkapan rinduku untukmu...

Ayah… bagaimana kabarmu di sana? Bahagiakah kau disana? Tidakkah kau rindukan aku? Tidak terasa sebentar lagi ramadhan ayah, ini kali ketiga ramadhan ku tanpamu. Bahkan kali ini ramadhan pertamaku juga takkan bersama ibu. Tenang saja ayah, ibu di sini baik-baik saja, akan aku pastikan ia baik-baik saja. Hanya saat ini aku masih di suatu tempat yang berada cukup jauh dari ibu, aku sedang merangkai mimpiku ayah .. mimpi-mimpi untuk memenuhi janjiku pada kalian, ayah juga ibu.

Ayah…

Ayah…

Ayah, sejujurnya aku rindu…

Merindukanmu, pria paling tampan dan paling bertanggung jawab atas hidupku.

Ayah… di tempat ini kadang aku merasa sepi. Aku merasa sendirian, bahkan di saat ramai. Di saat itulah aku merangkai memori bersamamu, memori indah yang takkan bisa ku ulangi lagi. Ayah, ingatkah cerita kita berdua dulu? Ya, kita berdua yang mungkin ibu pun tidak tahu. Kita, sepasang kekasih yang berkencan setiap saat, membuat ibu cemburu, membuat ribuan pasang mata menatap iri atas kemesraan yang kita miliki.

Pertama kalinya kau melihatku kau sudah jatuh cintakan ayah? Ayolah jangan bohong, aku tahu. Kau adalah orang pertama yang memberikan aku hadiah sepasang boneka besar, si monyet dan si kelinci. Ibu bilang kau tak tahu malu menenteng boneka itu di bis demi aku. Ayah, kau orang yang paling tahu apa yang aku sukai dan aku inginkan bukan? Lepas bekerja di luar kota kau selalu membawa oleh-oleh untukku, cokelat, es krim, buah anggur. Ya, buah anggur, ibu bilang dulu ibu ngidam itu dan kau selalu memenuhi keinginannya. Setiap ulang tahun ku tiba, 5 Agustus, kita tidak perlu hura-hura untuk bahagia, hanya makan es krim bersama dan itu sudah lebih dari cukup. Dulu, saat pundakmu masih kuat, kau selalu mendudukan aku di pundakmu, mengangkat aku setinggi-tingginya, tapi tidak pernah lupa untuk menangkapku. Kau membuat aku berani karena aku percaya kau akan melindungiku. Dulu, ingatkah ayah kita sering berebut makanan yang dibuat ibu? Kau suka kepala ikan, aku pun  sama, kau suka paha ayam, aku pun sama, tapi ketika itu hanya ada satu, pada akhirnya kau mengalah. Ah, terima kasih ayah….

Akhir pekan adalah hari yang selalu ku tunggu-tunggu, hari dimana aku bisa berkencan denganmu, hanya denganmu. Kau masih ingat ayah? Kita hampir melakukan banyak hal bersama Setiap minggu pagi kita selalu olahraga berdua, kadang ibu ikut, tapi lebih banyak kita hanya berdua. Menyusuri jalanan pedesaan yang masih asri, kadang menyusuri sawah, jalan raya, kemudian mampir di tempat makan, di tempat cukur, bahkan di tempat belanja, yaa asal kau tahu ayah aku ikut olahraga denganmu juga untuk misi dapat es krim dan cokelat. Olahraga yang lebih seperti rekreasi bagiku. Kita juga sering mancing berdua, menghabiskan waktu berjam-jam di kolam ikan. Kita pergi ke pasar malam berdua, menghadiri undangan pernikahan berdua, jalan-jalan berdua, ah cerita bersamamu terlalu banyak, namun yang pasti kau selalu setia menemani, kau selalu ada, bahkan sampai saat ini …

Aku masih dan akan selalu ingat kebiasaanmu ayah. Kau adalah pria yang paling perfeksionis dalam penampilan, dari ujung kuku sampai ujung rambut selalu kau perhatikan, laki-laki tampan yang selalu aku banggakan. Kau suka mendengkur, kentut dimana saja, tapi itu selalu membuatku tertawa. Kau hobi mengagetkan aku, kadang suka bersembunyi di belakang kursi ketika aku asyik nonton TV. Ngomong-ngomong soal TV kadang aku kesal ayah, kau suka marah-marah sendiri kalau sudah nonton berita, nonton bola kalau tim kesayangannya kalah, nonton tinju kalau petinju yang didukungnya K.O, nonton KDI kalau yang nyanyinya jelek, kadang aku suka ingin nyuruh “ayaahhh jadi kritikus aja sana, mendingkan nanti jadi terkenal, masuk TV daripada marah-marah di rumah”. Ya, ayah kau adalah kritikus andal dengan analisa yang cukup baik menurutku, kau adalah partner diskusi yang menyenangkan. Tahukah ayah? Sejak kau pergi aku tak tahu harus bercerita pada siapa… Ibu? kau tahu? ia tak suka banyak bicara. Kakak? Kau tahu? mereka banyak berubah ayah….

Ayah ada yang ingin aku tanyakan padamu,, mengapa penyesalan selalu datang diakhir? Sampai saat ini aku masih menyesal ayah, kenapa dulu aku terlalu naïf untuk mengatakan sayang dan cinta padamu, bahkan di saat terakhirmu… Tiga tahun lalu persis beberapa hari sebelum ramadhan, sebelum kau benar-benar pergi meninggalkanku, aku justru tak sanggup melihat keadaanmu ayah, maaf bukan karena aku tak peduli, tapi karena aku benar-benar tidak siap kehilanganmu ayah, kau yang paling tahu tentang aku kan? Gadis so kuat yang di dalam hatinya ia mudah rapuh.. tapi hal itu justru menjadi suatu keadaan dimana aku menyesalinya hingga saat ini. Aku merutuki setiap saat kenapa aku bisa begitu mudah mengatakan perasaanku pada laki-laki brengsek di luar sana yang mengaku mencintaiku tapi kemudian pergi, yang bahkan tak sesetia dirimu ayah.. Jauh sebelum itu kau selalu menasehatiku untuk tidak mudah mempercayai laki-laki, kau bilang semua laki-laki itu brengsek, tapi aku tak percaya. Maafkan aku ayah,, maafkan aku… sungguh tidak akan ada laki-laki yang mampu menggantikan posisimu..

Ayah aku ingat, di saat terakhirmu kau berpesan padaku untuk menjadi perempuan mandiri yang tidak mudah menangis... aku berjanji saat itu.. tapi ayah ternyata itu sulit… akhir-akhir ini aku banyak menangis ayah… entah karena rindu, entah karena kesepian, aku tak tahu pasti ayah, tapi yang jelas tanpamu semuanya terasa berbeda… Kau, kemudian kakak adalah laki-laki yang paling aku andalkan, yang paling aku percaya tidak akan meninggalkan aku sendirian, tidak akan membiarkan aku dalam kesepian. Tapi ayah, ketika kau pergi, ketika aku hanya bisa mengandalkan kakak, kenapa dia berubah? Apa aku bukan lagi menjadi perempuan prioritas utamanya (selain ibu)? Ayah, setelah kau pergi, setelah laki-laki yang pernah ku cintai pun pergi, dan kemudian kakak mulai berubah, ada satu hal yang aku sadari ayah, tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa aku andalkan  bukan? Aku memang harus mandiri seperti katamu bukan? Aku mulai menyadari itu, rasanya sekarang aku mulai benci mengandalkan orang lain ayah, salahkah? Tapi aku selalu merasa sakit ayah, merasa sakit karena aku masih merindukanmu, merindukan kakak, merindukan saat-saat menyenangkannya bisa saling mengandalkan dalam hidup.. salahkah ayah jika aku rindu hal itu?

Gadis kecil yang mencintaimu

 sumber gambar: https://rialailahusyanti.wordpress.com/2013/11/05/kerinduan-seoarang-anak-kepada-ayahnya/

  • view 299