Catatan Mimpiku

Catatan Mimpiku

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Mei 2016
Catatan Mimpiku

Dulu, bagiku mengenyam pendidikan tinggi hanyalah sebuah asa yang terasa sulit, setiap malamnya terasa menyesakkan dada, membuatku selalu bertanya apakah bisa? Mati. Saat itu asaku rasanya mati. Sudahlah, aku pikir rasanya lebih baik bekerja dan membantu mencari uang. Sampai suatu hari harapan datang untukku. Guru bimbingan konseling di SMA ku menjelaskan bahwa ada beasiswa Bidikmisi yang berasal dari pemerintah untuk siswa yang kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sempat rasanya pesimis karena pesaing ku cukup banyak, namun ternyata tekad yang kuat bisa mengalahkan rasa pesimis itu. Aku belajar sekeras mungkin, khawatir bahwa aku akan ditolak melalui jalur SNMPTN. Aku bahkan mengikuti beasiswa pelatihan SBMPTN, yaitu Beasiswa Perintis 3 yang diselenggarakan oleh Salman ITB.  Aku gagal menuju tahap Learning Camp saat itu, membuatku risau bagaimana jika aku gagal di SNMPTN? Bagaimana aku bisa menguasai soal-soal SBMPTN? Tak ada yang bisa ku lakukan selain berdoa, aku pasrahkan takdirku pada-Nya. Ayah dan ibuku setiap hari tak henti memanjatkan doa, mungkin ada tangis di setiap sujudnya. Ternyata Allah SWT menjawab doa-doa kami, aku dinyatakan lulus sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Di ruang bersekat yang hanya berukuran 1x1 m aku terpana, berulang kali memastikan bahwa apa yang aku lihat bukan ilusi. Seketika aku diam, bersyukur, kemudian bertanya kembali, “ya Rabb takdir apa yang akan datang padaku setelah ini?”

Percayalah, dunia perkuliahan tak seindah dalam cerita-cerita fiktif di layar kaca, jika kamu menemukan ada yang seindah itu, mungkin title “mahasiswa” mereka patut dipertanyakan. Bukan tanpa alasan, namun dunia perkuliahan memang keras, sebuah miniatur kehidupan saat sudah terjun di masyarakat, bedanya disini masih ada toleransi. Kamu akan merasakan bagaimana menghadapi berbagai karakter dosen, karakter teman, bagaimana sulitnya mendapat nilai A, bagaimana menghadapi deadline yang datang dari berbagai arah, dan kamu akan meghadapi beragam situasi yang bahkan belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Aku harus beradaptasi dengan situasi yang berbeda jauh dari kehidupanku. Aku bertemu berbagai macam karakter manusia, aku punya kawan pun juga lawan. Awalnya shock culture menghampiriku, aku tidak terbiasa menghadapi budaya yang berbeda, namun aku sadar keluar dari zona nyaman adalah satu-satunya cara agar aku bertahan. Setiap kali aku ingin menyerah karena tidak terbiasa, aku teringat bahwa aku memiliki tanggung jawab atas biaya yang diberikan pemerintah, aku bertanggung jawab atas harapan orang tuaku, aku pun bertanggung jawab atas hidupku sendiri.

Aku berusaha keluar dari zona nyaman meskipun tidak seluruhnya. Aku berupaya mengimbangi prestasi akademik di kelas dan juga kegiatan organisasi. Mencari setiap celah yang bisa ku ikuti namun juga tak membuatku melalaikan kewajibanku. Kenapa? Organisasi adalah kebutuhanku untuk mengasah soft skill, memperluas jaringan katanya. Sedangkan prestasi adalah kebutuhan yang harus ku penuhi setidaknya untuk membuktikan bahwa aku belajar dengan baik. Mengapa pembuktian perlu? Karena tidak semua orang memahami bahwa nilai itu seharusnya bukan jadi prioritas utama, sama seperti keluargaku yang masih berorientasi pada angka yang tercantum di laporan akademik.

Saat ini, aku sudah berada di semester 6, semester di mana setiap mahasiswa mulai resah akan masa depannya, mau dibawa kemana? Sekarang aku merasa déjà vu, merasa kembali pada saat dimana aku bimbang beberapa tahun lalu. Ketika banyak orang memiliki mimpi-mimpi besar, bukan aku tak ingin, namun bagiku ada mimpi sederhana yang masih menjadi pertanyaan, sempatkah? Bisakah? Ada waktukah? Mungkin melanjutkan kuliah S2 dan S3, menjadi pengusaha, menjadi ini dan itu bisa aku wujudkan suatu saat nanti, aku percaya aku bisa. Mimpiku yang satu ini teramat menjadi rahasia Tuhan. Sebuah asa untuk dapat berfoto wisuda dengan sang ibunda. Asa ini terlintas saat aku menyadari bahwa aku sedang berlomba dengan waktu, aku sempat terlena sampai pada saat Tuhan mengambil ayahku kembali ke sisi-Nya. Saat itu duniaku seakan runtuh karena aku tak dapat mewujudkan mimpiku berwisuda dengan kedua orang tuaku. Maka saat ini aku tak ingin mengulang sejarah, meski aku tahu usia adalah rahasia-Nya, namun setidaknya aku harus berusaha untuk tidak lagi menyia-nyiakan waktu yang ada. Selama ini hidupku sudah penuh dengan keajaiban, maka aku mengharapkan ada keajaiban lain. Keajaiban yang bukan tiba-tiba ada, namun keajaiban yang berasal dari kerja keras. A miracle is another name of an effort.

Sejatinya setiap orang memiliki asa, yang sederhana bagimu mungkin amat berarti bagiku.

  • view 189

  • Senja 
    Senja 
    2 tahun yang lalu.
    Wah salut buat Puji, Tulisan yang menginspirasi Moga Allah mudahkan jalannya untuk meraih mimpi-mimpinya,aamiin. ,Salam kenal ya puji