Sepenggal Kisah Cinta Cisangkal

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Mei 2016
Sepenggal Kisah Cinta Cisangkal

Apa yang ada di pikiranmu ketika pertama kali membaca judul Sepenggal Kisah Cinta Cisangkal? Mungkinkah kamu berpikir bahwa di Cisangkal ada kisah cinta yang terjadi? Kisah cinta dari dua insankah? Rasanya cerita cinta seperti itu sudah terlalu membosankan, sudah terlalu banyak orang yang mengisahkannya. Kali ini aku ingin menceritakan sebuah cerita cinta yang lebih dari sekadar cerita cinta. Cerita cinta ini akan sulit ditemukan, terlalu complicated, terlalu sulit diungkapkan tapi dipaksa untuk diceritakan, kenapa? Karena kalian perlu tahu cinta di sini dibangun dengan luar biasa, sangat luar biasa!!!

Ini kali kedua aku mengikuti Aksi Peduli, sebuah kegiatan yang merupakan rangkaian acara Rampes (Ragem Macangkrama Pestival) yang selalu diadakan setiap tahun di Kabupaten Garut. Aksi Peduli yang kita jalani kurang lebih 4 hari ini dilaksanakan oleh orang-orang keren yang datang dari beberapa universitas, bermodal keberanian dan tekad untuk mengabdi pada tanah kelahirannya, Garut tercinta. Ya ini dimulai dari rasa cinta… kita tahu bahwa apapun yang dimulai dengan rasa cinta maka hasilnya adalah wujud dari ketulusan.

Empat hari di sana bukanlah hal yang mudah dijalani bagi kami. Kami dengan segala tekad datang ke tempat yang cukup jauh dari ingar bingar kota, di sana jangan harap kamu akan menemukan mall besar sekelas BIP, Jatos, atau mungkin Ramayana. Di sana, kamu tidak akan menemukan bangunan-bangunan tinggi apartment yang menjulang, yang ada hanyalah pepohonan rimbun juga tebing yang cukup curam. Untuk sampai ke daerah ini tidaklah mudah, dari jalan utama menuju desa, kalian perlu menempuh waktu satu jam, satu jam yang amat melelahkan bagi supir elf dan amat menegangkan bagi penumpangnya. Kalian harus melewati jalan tapi tidak terlihat seperti jalan. Batuan di jalan itu berukuran besar, tanahnya licin, jangan berharap menemukan jalan yang mulus, salah sedikit mobil yang kalian tumpangi bisa masuk *wahangan kalo kata orang Sunda mah, yaaa paling tidak nyusruk ke sawah. Semua penghuni mobil setengah bus alias elf ini sibuk dengan doa dan pegangannya masing-masing. Untunglah Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk kami tiba di sana dengan selamat. Meskipun dengan infrastruktur yang masih sangat minim tersebut, kami merasa takjub dengan pemandangan yang ada, kabut, udara segar, gunung yang terasa begitu dekat, dan terlebih lagi air terjun yang sempat kami lalui saat perjalanan, hal itu membuat rasa lelah kami terbayar.

Empat hari yang singkat di sana membuat kami belajar banyak hal. Tidak dipungkiri saat kami berada di sana kami masih membawa idealisme sendiri-sendiri. Masalah, kendala, rasa tidak suka, lelah tidak didengar dan segala macam perasaan pasti ada. Pasti dan tidak mungkin tidak ada. Ada lebih dari 30 kepala di sana dengan latar belakang budaya yang berbeda, tidak mungkin semua berjalan baik-baik saja. Karena saat ini aku sedang mempelajari komunikasi lintas budaya maka ketika aku berada di sana aku mendapat beberapa pengalaman dan pelajaran menarik tentang budaya. Seperti yang kita ketahui bahwa budaya tidak hanya terbatas pada adat dan kesenian yang ada tapi lebih dari itu budaya berisi tentang bagaimana kita berhubungan dengan orang lain, bagaimana kita berpikir, bagaimana kita bertingkah laku dan bagaimana kita melihat dunia ini. Cisangkal masih memiliki warga yang kental dengan budaya, budaya Indonesia yang sudah semakin sulit ditemukan di kota-kota besar. Ya, Cisangkal memiliki warga yang sangat ramah, sopan, tidak suka mengeluh, dan baik terhadap siapa pun. Setidaknya itu yang aku rasakan selama di sana. Aku tidak pernah mendengar anak-anaknya mengeluh mengenai akses jalan yang rusak, jauh dari sekolah, toilet yang seadanya, dan hal-hal lain yang mungkin akan menjadi masalah besar untuk anak-anak kota yang manja.

Mereka mengajarkan aku artinya bersyukur. Aku kadang masih mengeluh dengan akses jalan rusak ke rumahku, tapi ternyata aku menemukan yang jauh lebih buruk lagi. Aku kadang mengeluh kalau harus jalan kaki saat tidak ada angkutan ke kampus, tapi aku seperti ditampar saat melihat semangat anak-anak SD dan SMP di sana yang harus berjalan kaki lebih jauh, kalian tahu? Mereka berangkat sekolah dari pukul 05.00 pagi, jam dimana mungkin sebagian dari kita masih asyik dengan selimutnya. Luar biasa, kepada siapa kita harus belajar memang tidak mengenal usia, bahkan aku bisa belajar dari mereka.  Satu hal yang belum aku ceritakan, di sana kalian akan sulit menemukan rumah yang memiliki kamar mandi dan toilet layak. Itu yang membuat kami kaget dan bingung harus bagaimana. Hampir semua rumah yang ada di sana memiliki kolam ikan dan di atas kolam ikan itulah berdiri tempat yang dinamakan kamar mandi dan toilet bagi mereka, biasa disebut pacilingan, terdiri dari sekat-sekat seadanya dan hanya ditutupi oleh kain. Tempat tersebut jauh dari kata layak bagi kami yang tidak terbiasa dengan hal tersebut. Hal yang lucu dari keadaan itu adalah ketika kami terpaksa harus buang air kecil atau bahkan mandi di sana, kami menamakannya dengan pipis gelisah dan mandi gelisah karena takut ada yang mengintip. Hahaha tapi sekedar informasi untuk mandi atau pun *maaf buang air besar kebanyakan dari kami lebih memilih untuk mencari rumah warga yang benar-benar memiliki toilet di dalam rumah daripada di alam terbuka seperti itu, itupun jika dalam keadaan yang benar-benar terdesak *if you know what I mean. Ya begitulah keadaan di sana, untungnya beberapa warga sudah mulai menyadari tentang pentingnya sanitasi lingkungan sehingga kami tidak begitu kesulitan, tapi tetap saja sebagian besar warganya masih mempertahankan pacilingan itu entah karena alasan apa atau memang telah menjadi budaya. Bukan tanpa alasan ketika aku menganggap hal itu budaya, karena meskipun banyak rumah panggung di sana tapi rumah yang menurut kami cukup mewah pun tidak sedikit. Anehnya ya itu, mereka tidak memiliki toilet, kalau pun ada kamar mandi ya hanya kamar mandi, bagaimana dengan toiletnya? Tetap di luar.  Sungguh sebenarnya aku ingin menggali hal tersebut tapi ternyata tidak memiliki banyak kesempatan, mungkin lain waktu.

Masyarakat di sana adalah orang-orang yang cukup disiplin terhadap waktu, hal tersebut setidaknya dapat menyangkal stereotip mengenai orang Indonesia yang terbiasa dengan jam karet. Nyatanya masih ada orang-orang yang disiplin terhadap waktu. Ada satu kejadian di mana aku merasa malu terhadap warga, yaitu ketika warga lebih dulu datang dibandingkan panitia, bahkan di antara warga tersebut mereka justru membantu persiapan yang harusnya dilakukan panitia. Sungguh itu perasaan sedih yang amat sulit diungkapkan. Tapi itu memang cara Allah untuk membuat kita belajar dari kesalahan. Saat itu aku juga sedang belajar tentang budaya, bahwa kita tidak bisa seenaknya menempatkan budaya kita di tempat baru yang tidak kita ketahui bagaimana budayanya.

Satu hal yang sangat membuat aku terkenang dengan Aksi Peduli kali ini adalah saat perjalanan pulang yang penuh perjuangan, saat di mana aku bisa melihat bahwa ketika kita bersatu tidak ada yang mustahil. Ketika jaring laba-laba bersatu maka ia dapat menjerat singa. Ya itulah kami, kami punya para pria tangguh Aksi Peduli yang sekuat tenaga mendorong mobil dengan peluh yang bercucuran. Jalan yang kami lalui ternyata lebih mengerikan dibandingkan ketika keberangkatan awal. Tanjakan lebih menakutkan. Memalukan, di sana bahkan aku menangis, ya aku ketakutan saat itu, mungkin jika kamu di sana kamu bisa tahu rasanya seperti apa. Perasaan yang aku rasakan saat itu antara takut dan terharu, teriakan teman-teman yang mengeluarkan segenap tenaganya begitu menggema. 

Ahhhh aku sangat berterima kasih pada Rampes 2015 juga panitia Aksi Peduli yang memberikan aku kesempatan bergabung dengan orang-orang hebat seperti kalian. Terima kasih sudah memberikan aku pelajaran yang begitu berharga, terima kasih telah menunjukan padaku apa artinya kebersamaan, perjuangan, kasih sayang, kepedulian. Aku tahu di antara kita mungkin pernah ada masalah, pernah sedikit bersinggungan, sakit hati atau apapun itu, tapi itulah yang mendewasakan kita, yang membuat kita belajar, yang justru akan menjadi kenangan kelak. Aku tidak pernah menyesal pernah ada di antara kalian. Terima kasih untuk Cisangkal yang telah berhasil menumbuhkan rasa cinta di antara kami panitia Aksi Peduli dan Rampes 2015. Cinta yang tidak dapat diukur oleh materiil.

Terima kasih Rampes 2015 terima kasih divisi acara

Semoga kita bisa dipertemukan kembali, semoga kita bisa membangun Garut menjadi lebih baik lagi

#BanggaJadiAnakGarut

  • view 112