Belajar kisah hidup dari cangkir

Pudji Lestari
Karya Pudji Lestari Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 September 2016
Belajar kisah hidup dari cangkir

Belajar dari cangkir

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah took suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. 

"Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. 

"Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,"ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat

yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. 

Stop ! Stop ! Aku berteriak, 

Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang.

Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian.

 Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. 

Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! 

Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. 

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku. 

Seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya. 

"Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan . Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."

Dalam dinamika kehidupan, kita akan banyak mendapatkan tantangan untuk bisa bertahan dan istiqomah. Mulai dari tantangan pengkondisian, keluarga, blum lagi diri sendiri yang terkadang kita tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Cobalah untuk menghadapi segala tantangan sebagai ujian hidup. Jangan berkecil hati, karena dalam ujian kita mendapatkan pembelajaran. Jadwal yang padat memberikan pelajaran manag waktu, karena kita harus mengusahakan waktu untuk belajar keislaman sebagai bekal kebahagiaan akherat kelak. 

 Ingat Nahkoda yang tangguh tercipta dari seseorang nahkoda yang tiap hari mengarungi arus ombak yang besar… Hidup selalu ada hambatan, tantangan dan ujian. Termasuk dalam mencari kebahagiaan .. namun tantangan itu bukanlah dijadikan alasan oleh kita untuk berhenti melangkah mencari dan mengkaji kebenaran agama Islam, karena sukses sesungguhnya membutuhkan pengetahuan agama yang benar dan tidak dangkal, karena hal inilah sebagai landasan untuk dapat menyelamatkan hidup di dunia dan akherat sehingga menjadi manusia yang sukses sejati bukan sukses yang semu.

 

  • view 340