Cerita Purnama

Rahman Hidayah
Karya Rahman Hidayah Kategori Lainnya
dipublikasikan 14 Juni 2016
Cerita Purnama

Purnama kelabu di malam yang tabu, sungguh monolog yang sangat lucu…

Menatap langit-langit dunia yang nampak nyata namun kutau semua itu hanyalah ilusi yang di buat oleh sang pesulap. Simsalabim…

“Maka terkutuklah tanah karena engkau, semak dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, karena dari tanah kau di ambil. Sebab engkau adalah debu dan kau akan kembali menjadi debu”.

Aku tersenyum kepada purnama di malam itu, nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku,

“Kau tak nyata, kau hanyalah aktor dari sang sutradara yang kekal”.

Bagiku tetap tersenyum adalah respon yang terbaik.

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”

“Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

“Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”

“Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”

Ada banyak makna di balik sebuah kata ataupun kalimat, ada yang harus di mengerti, mungkin juga ada yang tidak. Sang pencipta merahasiakan dirinya sampai kelak ketika kita sudah pantas untuk berdiri di hadapannya, semuanya akan jelas. Sekarang purnama bersinar terang, menerangi sunyi di tengah lelap para aktor, namun tetap saja tangisan masih terdengar.

Apakah arti dari sebuah makna?

Kita hidup, singkat? Tentu saja

Tak sempurna?... Tentu

Bodoh… kadang-kadang

“Tapi kami tak peduli dengan semua itu karena mungkin seperti itulah kami diciptakan. Dan ketika waktunya mati, kami tidak menolaknya, kami yang memanggilnya.”

  • view 109