Harapan dan Dusta

Rahman Hidayah
Karya Rahman Hidayah Kategori Lainnya
dipublikasikan 11 Juni 2016
Harapan dan Dusta

Berawal dari harapan yang menuai pada pahitnya kenyataan. Aku beri kepadamu sebuah janji dan harapan yang menitik pada ketiadaan. Masih teringat senja yang kita hadiri, sebagai awal dari kisah yang terpaksa kuakhiri. Awalnya aku percaya akan akhir yang bahagia denganmu, tapi jalan hidupku bukan untukmu. Mencegahmu pergi tak mungkin aku lakukan sebab kebahagiaanmulah yang terdepan. Untuknya kupersembahkan malaikat yang sempat hadir untuk membuatku paham akan arti dari cinta dan hidup. Lalu untukmu kupersembahkan senyum yang akan bersemayam abadi di tiap malammu. Tersenyumlah padanya, kepada dia yang akan menjadi ayah dari anak-anakmu, kelak aku akan datang sembari tersenyum kaku dihapadanmu. Jika saja kau bersamaku nanti akankah kau percaya kepadaku?. Menurutmu kebahagian apa lagi yang kau ragukan jika bersamaku?.

 

Terlambat atau terenggut...

Siang telah berubah menjadi senja memaksaku merasakan indahnya realita. Aku tak akan pernah menyalahkan siapapun, bahkan tuhan sekalipun. Mungkin cinta yang sempurna seperti ini adanya, dengan melihat dia bersama orang lain dan aku turut berbahagia atas kebahagiaannya.

“Her happiness is your happiness”

Meski begitu, beginilah mungkin paras dari kesempurnaan hidup. Menikmati kesempurnaan dari kopi dan pahitnya, layaknya seperti kesempurnaan hidup bersama realitanya. Tak ada air mata yang merintik mengiri kepergianmu ke lain pelukan, membaca masa lalu bersamamu yang telah memuai dalam dusta harapan yang pernah kuberikan, atau memang tak layak kujadikan kenyataan. Cerita hidup kita berakhir di awal pertemuan.

 

Angan-angan dan kenangan...

Kutelah merajut kenangan dalam kenikmatan hidup bersamamu meski sesaat namun tak akan kulupakan. Mengeja namamu di antara kerlap bintang di malam hari bersama bayangmu yang selalu hadir menemani. Apalah dayaku sebagai manusia yang haus akan cinta, berbagai rasa namun pahit yang datang menyapa, meski itu sesaat tapi berasa antara abadi dan selamanya. Kebahagian kita terenggut, mungkin bukan kebahagian kita tapi kebahagiaanku.

“Sadness And Sorrow”

Waktu kadang mengulang juga mengenang. Menikmati sisa dari harapan yang dulu kita perjuangkan, mungkin aku yang berjuang dan juga aku yang terbayang.

“Oh, can you tell I haven’t sleep very well since the last time that we spoke, you said please understand if I see you again don’t even say hello” Please...

Please stay!

“All the love’s still there and I just don’t know what to do with it now. You know, I still can’t believe we both did some things I dont wanna think about”

“Just say you love me and I’ll say I’m sorry I don’t want anybody to feel this way”

Please stay!

 

Sepenggal lagu yang selalu kulantunkan di tengah sepi, Kau tak perlu ikut bersedih, cukup aku saja yang menikmati indahnya pedih. Berbahagialah dengannya dan percaya aku akan selalu ada meski tak begitu nyata. Aku hanya ingin mencoba memahami arti dari pahitnya sebuah harapan yang tak akan pernah menyentuh realita dan terus menerka-nerka. Tuhan, permintaanku sederhana, biarkan dia berbahagia meski tanpa kehadiranku, biarkan aku saja yang merasakan sakit, biarkan saja aku yang merindu, biarkan saja dia lupa terhadapku. Jangan biarkan air matanya menetes karenaku, karena harapan kami yang menyatu dengan masa lalu. Aku mencoba menutup kisah duka yang terus berkelanjutan meski tanpamu di hari-hariku, biar aku saja yang merasakan semua luka atas harapan kita yang memudar dan bersemayan dalam lingkup masa lalu.

 

Don’t stay!

 

  • view 157