Ramah adalah syarat kehidupan

Fadhil Primadi
Karya Fadhil Primadi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 13 Februari 2016
Ramah adalah syarat kehidupan

Ceritanya, hari minggu kemarin saya pulang ke rumah dan menyempatkan waktu untuk menemani mama untuk sekedar survey dan membeli panci fresto (begitulah kira kira tulisannnya). Sesampainya di pasar, masuklah kami ke sebuah toko alat elektronik. Bangunannya luas memanjang ke belakang dengan atap yang tinggi tegap. ?Silahkan, Bu perlu barang apa?? sapa ramah seorang bapak berusia 60 taunan dari balik etalase kaca. Si mama dengan logat Sunda-nya menjelaskan inginnya beliau. Saya mah ngekor aja di belakang celingak celinguk barangkali ada barang yang sekalian bisa saya minta belikan. ahahaha

Ternyata bapak dengan kopiah putih itu adalah sang empunya toko. Pak Haji Syukur namanya. Sudah haji, namanya ?Syukur? pula, ah betapa selarasnya. Saya enggak sempet nanya kenapa nama beliau seperti itu, nanti dikira kepo sama sesepuh. Seberes ngejelasin keperluan kami, beliau langsung nurunin beberapa pilihan panci dengan ukuran, merek dan kualitas yang beda. Lagi, saya ganya mengintip para panci dari pundak sang Mama.

?Ini stok terakhir, enggak dibikin lagi sama pabriknya. Harga barunya 7.00.000. Dilepas di harga 475.000 aja, Ayi?.

Ayi? Saya cukup kaget dengan panggilan itu. Saya perlu konfirmasi ulang dengan si Mama karena saya sama sekali nggak tahu, arti dari Ayi itu. Ternyata, ?Ayi? adalah bahasa Sunda halus untuk orang yang lebih muda. Soalnya, panggilan ayi udah jarang dipake sama orang Sunda sekarang. Ayi untuk adik, a?ang untuk kakak. Walaupun kami belum naik haji, beliau terus manggil mama dengan Bu Hajjah dan sesekali dipanggil Ayi.

Di situ saya terenyuh. Pak Haji adalah orang lama yang masih mempertahankan tata krama dan tradisi terpuji. Suaranya lembut, tutur katanya tenteram. Saya yang lebih muda merasa malu karena masih hobi cengengesan dan sudah jarang sekali sebegitu menghargai orang lain seperti beliau. Tanya saja Riky Fernando dan TiyAs Abror Huda atau Siti Amalina Santi betapa cengengesannya saya kalau sudah tergabung bersama mereka.

Dengan sigap, Pak Haji mengelap panci fresto berdebu itu sampai mengilap. Semua komponen panci diabsen. Dalam sekian menit, muncullah panci fresto baru yang cakep. Saya dan mama pun sedikit melipir untuk ngobrolin keputusan final.

Atas pertimbangan harga dan kondisi barang, dengan berat hati kami mutusin untuk survey dulu ke toko lain. Di situ kami berdua bingung.

?Enaknya bilang apa ya, kita enggak akan beli mesin itu. Mana udah diturunin, dilap, dipraktekin, enggak jadi pula? kata mama.

Kami yang sama-sama melankolis akhirnya memberanikan diri untuk berterus terang.

?Beb, sori. Kita udah enggak sejalan. Kamu terlalu baik buat aku?

begitulah kira kira ide yang muncul di kepala saya. Buahaha. *ada yang pernah dibegitukan? ada. hahahaa

?Pak Haji, hapunten, kayaknya kita enggak jadi beli panci yang ini. Lebih sreg kalau pancinya yang baru. Biar tenang. Maaf udah ngerepotin sampai harus bongkar panci pancinya ya. Punten? kata mama

Timpal beliau kemudian, lagi-lagi enggak terduga.

?Eh, enggak apa-apa. Justru bapak yang terima kasih. Karena Ayi bu Hajjah dan, bapak jadi sempet ngebersihin mesin dan ganti dengan bungkus baru. Dari kemaren enggak sempet melulu. Enggak apa-apa kok. Hatur nuhun udah mampir ya?.

Jleb. Panah ketulusan beliau tepat mengenai hati kami. Ternyata orang-orang ramah nan ikhlas macem Pak Haji belum sepunah dinosaurus. Mereka jadi pribadi langka yang tersembunyi diantara semakin pudarnya tata krama dari kehidupan sehari-hari. Mereka yang mencium setiap tangan orang yang lebih tua, membungkukkan badan sewaktu ngelewatin orang lain, menjawab sama-sama saat diucapkan terima kasih, merendahkan suara dan nunjukin raut muka yang menyenangkan saat berbicara.

?sincerity can melt the coldest heart?. Quotes di sebuah buku yang aru ini saya baca

Sepulangnya dari toko Pak Haji, terbersit niat di pikiran saya untuk mau nyoba lebih ramah sama siapapun. Sederhana, tapi sering dilupakan banyak orang. Terbukti kalau kebaikan kecil yang Pak Haji tunjukkin bisa menginspirasi orang lain untuk meniru. Baik buruk perilaku kita, akan selalu meninggalkan jejak di ingatan setiap orang.

Umpama kita masih inget dengan pelajaran PPKn SD dulu, enggak ada satu orang pun yang terbersit untuk ninggalin noda di pikiran orang lain - maunya ya cahaya. Ketulusan Pak Haji seolah jadi pengingat lagi bahwa keikhlasan udah seharusnya hanya jadi urusan antara kita dengan Sang Pencipta.

Kita perlu berlurus sangka bahwa pada dasarnya semua orang adalah baik. Kalaupun enggak, mungkin caranya aja yang berbeda. Terima kasih, Pak Haji.

Mohon maaf ya, kalausekiranya setiap respon dari komunikasi saya kurang enak untuk dibaca dan dirasa. Semata mata saya yang sedang berproses.

  • view 218