Maaf, Aku Belum Fasih Mencintaimu

Pratiwi Artati
Karya Pratiwi Artati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2016
Maaf, Aku Belum Fasih Mencintaimu

Untuk yang tersayang: imam sekaligus sahabat seumur hidupku. Yang terkasih: nahkoda dari bahteraku. Yang tercinta: suami dan pasangan jiwaku,

Sampai saat ini, di setiap waktu, masih terbata-bata aku mengumpulkan tanggal, hari dan jam untuk tenggelam dalam pelukanmu. Masih terbata-bata aku mengumpulkan keping benakku dari segala kepungan tanggung jawabku disini utk tenggelam dalam senyum-mu. Masih terbata-bata aku mengumpulkan angan utk bangun lebih pagi sebelum engkau, dengan secangkir teh hangat untukmu. Masih terbata-bata aku mengumpulkan asa utk tidur lebih malam setelah engkau dan mengantar lelap istirahatmu.

Sampai saat ini, di setiap waktu, masih terbata-bata aku mengumpulkan impian untuk memasakkan sesuatu yang kau suka dan menikmatinya. Masih terbata-bata aku mengumpulkan harapan utk dapat menemani sujud Tahajudmu padaNya. Masih terbata-bata aku mengumpulkan cita-cita utk dekat di matamu, dekat di hatimu sampai akhir waktu.

Mungkin jarak ini diberikan oleh Gusti Allah SWT utk lebih mendekatkan kita padaNya. Sebuah ikhtiar untuk makin menguatkan, melanggengkan, dan mendewasakan perjalanan yang sakinah-mawadah-warahmah, dan istiqomah, Insya Allah. Seperti yang selalu kau ucapkan padaku setiap waktu, di setiap kesempatan: La Tahzan, sayangku. Dan malam ini kembali kuserahkan segala rencana-rencana dan niat baik kita dalam sujudKu padaNya.

Maaf, aku belum fasih mencintaimu. Maaf, aku belum fasih menjadi istrimu. Kesempurnaan hanya milikNya; aku tidak meminta itu padaNya. Yang kupinta padaNya hanya jalan yg terbaik agar aku bisa fasih; sefasih-fasihnya mencintaimu; menghabiskan sisa hidup, waktu, dan umurku bersamamu setiap waktu. Semoga keterbataanku dapat makin difasihkan olehNya dengan waktu terindahNya.

Dan malam ini, kembali kutitipkan segala cinta pada mimpiku untuk dapat menjamah mimpimu disana setiap malam. Tak selalu harus terkatakan, namun semoga bisa selalu terasakan. Atas nama cinta, dengan ijin Tuhan, kudoakan jarak ini, tak ingin berlama-lama bersama kita,

(Dari Istrimu, teman masa kecilmu 23 tahun yg lalu, pendamping hidupmu yg hanya bisa melabuhkan segala cinta, rasa, asa, dan karsa padamu, untukmu. Dan di ujung rindu, berbincang syahdu dengan jarak dan waktu dan sedikit kata-kata sebagai penyeka kalbu)

?

?

  • view 169