Semburat Jingga Kartini Dalam Hidup Saya

Pratiwi Artati
Karya Pratiwi Artati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 April 2016
Semburat Jingga Kartini Dalam Hidup Saya

Selain 30 Agustus (When my late grandmother was born) dan 15 Januari (when my mother was born), 21 April selalu mengingatkan saya kepada dua orang perempuan luar biasa yang telah membesarkan saya dengan nilai-nilai kehidupan dan ke-asa-an yang akan senantiasa saya bawa serta sampai saatnya "pulang" nanti. "Hutang" saya tak akan pernah mampu terbayarkan sampai kapan pun. Both are single parents; putting their children first above their own needs in the midst of what they perceive as their own limitation. Raising children without the existence of loved one is, to my knowledge, heroic. Not every woman can handle that by being persistently patient and constantly open minded by hanging on to her once-in-a-lifetime marriage and deciding not to embark on the next one just because she perceives it as the best way to focus more on raising their children.

Jika Anda dibesarkan oleh kedua orang tua yang lengkap, bersyukurlah beribu-ribu kali dari kami yang juga senantiasa bersyukur telah dibesarkan oleh single parents, yang membuat kami sangat ber-empati terhadap sesama kami yang dibesarkan tanpa kehadiran kedua orangtuanya. To say the least, "Kartini" dalam hidup Anda berkesempatan untuk mencurahkan segala resah gelisahnya kepada sang "Kartono" dalam perjalanan membesarkan Anda. "Kartini" dalam hidup kami seringkali harus "meniadakan" resah gelisahnya di depan kami, anak-anaknya dan mencurahkannya lewat senyapnya doa saat kami sudah lelap tertidur. Sebagian besar dari air mata itu lekas-lekas dihapusnya demi memompa semangat dan membesarkan hati kami, anak-anaknya, yang di awal perjalanan hidup kami, seringkali terantuk batu ketidak-percayaan diri dan kecil hati. Furthermore, we are very familiar with the notion of "pretending as if worst things never happened". We also have the tendency to dislike other people's pity on us; wanting to shout from the rooftop that "just because of the absence of father in our lives, doesn't mean that we are "homeless", "broken-home", and "hopeless". We've learnt the hardest way to overcome rejection, ignorance, and underestimation by anticipating the worst-case scenario of our lives with holding off our tears at our best until the "curtain" falls at the end of the day. For this, we are grateful as it strengthens us to see the silver lining from everything, even from the darkest clouds.

Kami, terutama sebagai anak pertama yang juga bergender perempuan, yang dibesarkan oleh single parents, seringkali memiliki kecenderungan untuk "dewasa" sebelum waktunya, in a sense that we have to "grow up" sooner from our happily-innocent childhood dan mulai melihat hidup dengan menyadari kenyatan yang ada. Hal ini pada awalnya sungguh berat, terlebih saat kami sedang dalam proses mencari jati diri. Ketakutan terbesar kami adalah mengecewakan "Kartini" kami, dan kami seringkali terbawa "berjuang" semampu kami demi melihat senyum dan kebanggaan dari Kartini kami dengan segala keterbatasan yang kami miliki. Kami cenderung keras kepala namun bukan berarti kami tak bisa mengalah. Dengan tak ada maksud untuk menjustifikasi kekeraskepala-an kami, kami hanya telah terbiasa berjuang dan mandiri sejak dini sehingga kesan angkuh dan susah berkompromi yang disematkan terhadap kami, secara sadar kami maklumi. Kompleksnya kehidupan kami (psychologically complex as well), selaku anak pertama perempuan yang dibesarkan oleh single parents, mengajarkan kami untuk sebisa mungkin, semaksimal mungkin, berdiri di atas kaki sendiri. Karena itulah, approach kami terhadap yang namanya "gengsi" agak tidak mainstream. Bagi kami "gengsi" itu tidak ada hubungannya dengan perasaan malu untuk tidak memakai barang bermerk atau yang lainnya melainkan gengsi yang kami "terjemahkan" sebagai ketidakinginan untuk menunjukkan naik-turunnya emosi yang sedang kami rasakan karena kami tak ingin disruptif terhadap lingkungan sekitar. Bahkan seringpula kami terbawa keras terhadap diri sendiri, karena tak ingin segala kegetiran yg kami rasakan membawa beban bagi yang lain. Ya, yang juga menjadi kekuatiran terbesar kami selanjutnya adalah merepotkan dan membebani orang lain. Kami juga punya mekanisme tersendiri untuk menilai, memahami, dan menghargai hidup, cinta, dan "Kartono" dalam hidup kami yang mungkin berbeda dengan yang lain. Sesuatu yang terkadang seringkali rentan di-salah-pahami. Tak mengapa, we have learnt to suck it up and move on at our best.

The ups and downs in love and life of my late maternal grandmother and my healthy-living mother have taught me the most precious lesson about hope. Ke-Kartini-an kedua perempuan ini goes beyond physical appearance; "wardrobe" yang sesungguhnya, benar-benar telah terasah dan tertempa waktu, air mata, dan senyum, dimana kesabaran menjadi "sanggul" dan kegigihan menjadi "kebaya" dalam "karnaval" hidup yang mengaraknya. Tak ada medali atau gelar yang mampu memberikan penyetaraan atas jejak hidup yang diberikan, selain kasih sayang Allah SWT semata yang telah memampukan dan menguatkan kedua perempuan ini dalam menjalani hidupnya. Therefore, teruntuk single parents; setiap ibu di Indonesia yang terkondisikan hidup untuk membesarkan dan mendidik anak-anak-nya sendiri, tanpa kehadiran "Kartono" untuk menaunginya, percayalah, yakinlah, bersabarlah, dan bersinarlah, karena Allah SWT yang Maha Penyayang, insya Allah akan senantiasa memberikan jalan yang terbaik. Kasih sayangNya akan menggema lewat putra-putri yang sedang dan/ telah Anda besarkan dan didik dengan segenap hati dan jiwa. Ada alasan yang terbaik mengapa Anda mendapatkan perjuangan menjadi single parent ini, yang tidak semua perempuan berkesempatan menjalaninya. Semoga kekuatan, ketabahan, dan kesabaran Anda, insya Allah akan menjadi berkah, tak hanya bagi Anda sendiri, tapi juga bagi putra-putri, keluarga dan sesama.

Selamat hari Kartini, eyang putri & mama. Hanya Allah SWT yang mampu memberikan "medali" terbaik untuk perjuangan eyang putri dan mama. I am blessed and grateful to have your blood running into mine. You both are a representation of guardian angel.

Wellington, April 21, 2016

?#‎SingleParent? ?#‎Motherhood? ?#‎Ibu? ?#‎Kartini? ?#‎PejuangKehidupan? ?#‎LessonsLearntFromMyLife?

  • view 75