Islam, Indonesia, dan Demokrasi

Pras Har Adi
Karya Pras Har Adi Kategori Filsafat
dipublikasikan 30 Juli 2017
Islam, Indonesia, dan Demokrasi

Islam, Indonesia, dan Demokrasi

Oleh: Pras Har Adi

“Bahwa Islam sebagai dasar Negara adalah sebuah permulaan, bahkan sebelum terbentuknya Pancasila…”

Dimasa ini Negara  seolah berada pada fase dimana agama sudah tidak lagi menjadi yang utama. Banyak yang sudah tidak peduli terhadap nubuat yang telah ditetapkan kepadanya.mencari cara agar setiap kata-kata dapat menjadi senjata menumbangkan kebenaran yang ada. Bangsa ini perlahan memakan dirinya, menghancurkan sedikit demi sedikit pondasinya, dan mulai mengubur segala tumpah darah yang pernah ada. Terlepas dari bentuk ke-bhineka tunggal ika-an yang menjadi cirinya, tapi mestinya agama tetaplah harus menjadi identitas diri yang hakiki.

Bukankah Allah yang telah memerdekakan bangsa ini, bukankah atas fatwa ulama kitalah bangsa ini mampu bertahan diri, setidaknya pemimpin kita terlupa bahwa tak ada negara ini tanpa seruan takbir para pencinta-Nya. Bangsa ini besar, ya, kepalanya dengan sifat sombongnya, Maka inilah dampak demokrasi yang dianut bangsa merdeka ini, semenjak demokrasi liberal hingga saat ini, tak pernah satupun bangsa ini didalam kebahagiaan, sebab bangsa yang sakit tak akan pernah berlari dan maju. Seperti halnya kita manusia.

Partai-partai islam yang dimunculkan dengan tujuan menjaga akidah bangsa, malah menelanjangi diri sendiri, elit-elit politik yang dikader dengan cara-cara islami membunuh diri dengan kasus korupsi hingga prostitusi. Sungguh memalukan, memilukan jika harus menggadai akidah pada dunia, namun itulah sebabnya mengapa negara ini berdemokrasi, agar setiap rakyat bebas akan tujuan hidupnya, agar setiap rakyat leluasa dalam mengeluarkan hak-hak pikirnya diluar apa itu baik buruknya, karena memang benarlah bahwa demokrasi memang bertujuan memisahkan manusia dari agamanya. Maka pada akhirnya islam di negara ini pun tidak berdaya dihadapan demokrasi,sebagian terpaksa tunduk dan tergabung dengan tujuan untuk menumbangkan. Akan tetapi karya cipta ‘plato’ terlalu kuat untuk dijatuhkan. Alih-alih akan merebut tampuk kekuasaan akhirnya malah terkuasai. Sehingga perebutan tahta bukan lagi untuk menegakkan agama, akan tetapi untuk meraup kesenangan duniawi sebanyak-banyaknya.

Kemudian apa lagi? Kita tersesat dalam definisi-definisi yang kita ciptakan sendiri, sehingga tenaga dan fikiran kita terkuras habis hanya untuk membersamai persoalan definisi ini. Apa arti penistaan? Lalu apa pula arti auliya’ dalam kandungan Al-Maidah yang waktu lalu dipersoalkan? Semua orang berdebat dan berperang hanya untuk saling membenarkan sebuah definisi. Maka jika sila pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa, yang mana Esa dalam artian yang sebenarnya adalah “satu”, maka dapat diartikan sila pertama pada Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Satu. Sehingga semestinya bangsa ini hanya berlandaskan kepada Aturan Tuhan Yang Satu. Apa aturan dari Tuhan Yang Satu? bukankah Tuhan Yang Satu dan hanya satu-satunya hanyalah Allah,SWT dan bukankah Tuhan Yang Maha Satu telah memerintahkan hanya berhukum kepada-Nya dan tidak mengambil hukum selain kepada-Nya? Dalam hal ini Pancasila sebagai dasar negara harus menjadi acuan dari setiap tindakan dan keputusan yang diambil negara, Pancasila harus dijadikan prinsip bagi setiap warga negara dalam kehidupan  berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. sebab secara harfiah kata “dasar” merupakan sebuah landasan atau pondasi yang apabila pembangunannya tidak disesuaikan dengan dasar-nya maka negara tidak akan terbangun sesuai dengan tujuan para penciptanya. Sistem pemerintahan demokrasi yang berdaulat kepada Rakyat hanya akan membenturkannya dengan dasar negara itu sendiri, sebab pada dasarnya sistem demokrasi bertujuan untuk menanamkan suatu bentuk sistem pemerintahan sekuler pada suatu negara yang memang akan memisahkan bangsa dari agama-Nya.

Pada akhirnya dari agama lah segala usaha bermula, dan untuk agama lah segala urusan bermuara. Tanpa agama bangsa ini akan membentuk suatu pemerintahan yang tidak lagi mengenal dasar arah dan tujuannya. Generasi yang gila kekuasaan dengan mengabaikan ilmu-ilmu keagamaan telah terlupa bahwa dunia hanyalah persinggahan, dan terlupa tujuan agama adalah berpulang kepada Tuhan, yang sementara Islam-lah sebaik-baik tempat pengembalian. Oleh sebab itu sistem kaderisasi yang telah dimulai sejak dini hendaklah melahirkan generasi yang sadar diri akan sebuah pentingnya landasan agama dalam menjalakan suatu sistem Pemerintahan , agar Negara yang nantinya akan diamanahkan ini dapat  dibawa menuju jalan yang benar diridhoi oleh Sang Pemberi Kehidupan.

Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah, SWT.



Gambar: www.google.com

  • view 57