Katanya, dia di tolak.

Utara Vishka
Karya Utara Vishka Kategori Lainnya
dipublikasikan 14 November 2017
Katanya, dia di tolak.

Pagi menjelang siang, matahari masih juga belum memancarkan terang. Langit seperti  tersedu-sedu menunggu. Sepintas bayang-bayang masa lalu tetangmu  datang dalam benakku.

Adalah hari di mana “waktu” kita bunuh dengan tanya dan jawab; perasaaan dan penasaran; sampai keingintahuan akan rahasia yang tersimpan. Hari ketika pertemanan kita dimulai, ketika bibirmu terlalu banyak berucap namun pancinganku tak juga kau tangkap.

“Intinya gue di tolak!”

“Kok bisa? Seorang kaya lo ditolak cewek? Itu kata lo apa kata dia?“

“..... dia lah!”

“Memangnya lo menyatakan cinta lo ke dia gimana?”

“Ya gitu….”

“Iya, gitu gimana?”

“Ya masa gue kudu ngejelasin secara detail ke lo sih? Ga mungkin juga kali!”

“Kenapa ga mungkin? Ya tinggal ceritain aja sih!”

“Gak lah, ya kali emang gue apaan?” dasar lelaki gengsian!

“Hih, gemes!  lama-lama  gue telen juga lo!” kesel.

"....., hmmm, secara ringkasnya gue tuh suka sama dia, terus gue bilang ke dia gitu... pastinya dia pahamlah maksud gue apa. Terus ya udah, gue ditolak.”

“Alesan dia nolak lu apa?”

“......” menaikan kedua bahunya.

“Bentar, lo beneran nyatain perasaan lo ke dia?”

“Hmmm…. mmm......”

“Lo bilang dia paham maksud lo, tapi akhirnya dia nolak lo? Ini jangan-jangan lo cuma asal menyimpulkan aja nih?"

“……” bengong.

“Lo bilang 'dia pasti pahamlah apa maksud  gue’ ini lo mastiin dari mana kalau dia beneran 100% paham sama apa yang lo maksud?”

“Ya, pasti pahamlah”

“Yee, belum tentu!”

“Terus lo bilang ‘gue ditolak’.  Kok rasanya kaya seolah-olah lo yang menyatakan diri kalau lo ditolak ya? Jadi berasa bukan dia yang menolak lo. Hmmm… ”

“.......” dia mulai mikir.

“Menurut pemikiran  gue  yang berlandaskan dari cerita lo yang setengah-setengah itu: Bisa jadi sebenernya lo tuh ga ditolak sama dia tauk! Iya gak sih?”

“Nih ya kalau ditilik-tilik, kenapa? Karena pernyataan rasa cinta lo ke dia itu nyaru, ga jelas. Lo ga berterus terang menyatakan rasa cinta lo ke dia secara gamblang. Lo pasti nyatainnya secara tersirat kan? Ga langsung bilang kalo lo tuh suka sama dia, lo tuh mau dia menerima cinta lo, lo tuh maunya dia jadi kekasih lo. Iya kan? Ngaku lo!”

“Secara logika, gimana dia mau menerima cinta lo kalau lo nya aja ga jelas menyampaikan maksud perasaan lo ke dia? iya gak?”

“Atau jangan-jangan lo cuma ngasih kode-kode doang  ya? ..... HUWAH! Parah sih kalo gitu mah.”

“Emmm… ga gitu juga sih!” Ragu-ragu, dan dia mulai mikir keras.

“Seperti apa yang lo bilang sebelumnya ke gue, cewek yang lo suka itu cerdas dan idealis.  Nah ketika dia tau kalau lo suka sama dia, dia akan berpikir “Memangnya kenapa kalau suka?”  Perasaan lo ga berarti apa–apa  buat dia, selama lo-nya ga bener-bener menyatakan perasaan cinta lo ke dia.”

“Setiap lelaki yang menyatakan cinta ke seorang perempuan yang dia suka tuh maksudnya buat apa sih? Ya buat memiliki si perempuan itu.  Buat membuktikan bahwa cinta dia layak diterima sama si perempuan itu. Buat menjadikan si perempuan itu kekasihnya. Iya kan?”

“Pada akhirnya lo hanya menyimpulkan semua secara sepihak! Ga adil buat dia, dan mungkin juga sebenernya itu ga adil buat diri lo sendiri. Bisa jadi sebenernya dia juga suka sama lo, siapa yang tau kan?”

“Hemmm…..”

Sialan juga ini orang, gue udah  ngoceh panjang lebar dia cuma jawab hamm, hemm, hamm, hmmm doang? HIH, untung baru kenal!

“Memangnya dia siapa sih? Gue jadi penasaran sama itu orang.”

“Ada lah, anak kampus.”

“Iya, siapa?”

“Ada pokoknya, lo tau kok orangnya.”

“Seriusan gue tau? Siapa? Yang mana?”

“Eh, ga tau deh. Lo kenal apa ngga, tapi kayanya sih lo tau orangnya.”

“Iya siap? Coba ciri-ciri orangnya sebutin.”

“Idih, kepo deh lo!”

“Sialan, malah jadi penasaran kan gue.  Tanggung jawab lo!”

“Hahaha, cari tau sendiri  gih sana!“ kemudian dia kabur dengan tampang ngeselinnya.


 

Sejak saat itu entah kenapa aku jadi benar-benar makin penasaran dengan si perempuan yang menolakmu. Rasanya ingin sekali ku ajak dia berbicara, menjalaskan bahwa sesungguhnya engkau benar-benar menyukainya. Hanya saja kau terlalu kaku dan kurang peka, dan suka menerka-menerka. Ingin sekali aku bisa melihatmu dan dia bersama, berdampingan, jalan berdua. Tapi sialnya aku baru berhasil menguak siapa sesungguhnya si perempuan itu ketika engkau telah pergi dan tidak akan kembali lagi. Sayang sekali.

Entah ini sebuah keberuntungan untukmu (karena berhasil mengelabuiku) atau memang kesialan untuku (yang telah berhasil dikelabuimu). Seandainya pun kau ada di sini, sudah habis kau ku kata-katai. Dasar bodoh, Sok tau, Belagu, Kaku!

Haaaaaaaah, kesal sekali aku padamu.

Perempuan itu ternyata ada di sekelilingku. Setidaknya minimal seminggu sekali aku berjumpa dengan dia. Jadi sekiranya aku  tahu sedikit banyak tentang dia. Benar saja perkiraanku waktu itu, si manusia satu itu tidak benar-benar menyatakan cintanya untuk dia. Haduh jadi gemas sendiri aku bila mengingat-ingat perbincangan waktu itu.

Dasar si bodoh. Si perempuan itu sama sekali tidak menolaknya, justru sebaliknya, aku bisa melihat bahwa dia pun memiliki perasaan yang sama kepada si manusia satu itu. Hanya saja, komunikasi di antara mereka berdua sama sekali tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena terlalu rumit dan bahkan sama sekali tidak dapat aku pahami. Meski begitu, sekiranya kini aku bisa memahami mengapa si manusia satu itu bertingkahlaku begitu.

Itu karena memang dasarnya saja dia bodoh soal perkara cinta. Dasar Kaku.

Jika sudah begitu jadinya bukan kau yang ditolak dia, tapi kau  yang menolak pernyataannya. Bodoh!  

  • view 10