Dia di dalam Akuarium

Utara Vishka
Karya Utara Vishka Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Agustus 2017
Dia di dalam Akuarium

Dia di sana sendirian. Berusaha dengan keras untuk mengungkapkan kejujuran pada dirinya.”

Sebuah ruang bekas garasi di modifikasi menjadi akuarium. Tepat di tengah-tengah ruangan, melingkar bola kaca yang besarnya sampai ke langit-langit. Beberapa jenis ikan di biarkan bebas berenang-renang di dalamnya. Dekorasi ruangannya memang sedikit agak aneh, tapi sangat nyaman untuk di diami berlama-lama. Tidak terlalu banyak barang, sengaja di biarkan lowong melompong. Terkesan apa adanya, sederhana dengan balutan cat tembok warna biru laut dengan corak tanaman dan nuansa kehidupan di air.

“Tempat ini indah dan nyaman. Punya mu kak?”
“…….”
Hening... keduanya sama-sama terpaku dengan langit-langit. Merebah.
"Kenapa diam?"
"Kan tinggal jawab; bukan atau ya. Atau mungkin tak tahu?”
“Apa sesulit itu?" kemudian hening kembali mengisi ruang.

Kali ini adalah percakapan terakhir di antara ke duanya. Yang satu menginginkan kejujuran atas jawaban dari sebuah tanya, yang satu penuh ke galauan menerima dan mengakui apa yang ada pada dirinya.

Dia bergegas pergi. Tanpa pamit. Tidak satu mahluk pun disapanya untuk meninggalkan akuarium itu. Pergi yang benar benar pergi, yang seolah menyatakan kemarahan atas tanya yang tidak terjawab, tidak tergubris bahkan.
"Kekanak-kananakan!"
Nyatanya dia begitu bukan untuk itu. Perginya memang sebuah keharusan yang pada waktunya.

Dia berjalan memutar, dengan sengaja menghindar. Sebuah mobil mengkilap warna hitam dipenuhi gadis-gadis rupawan baru saja tiba. Dia tau siapa saja mereka. Good timing. Ketika sedang berjalan, dia hampir menabrak salah seorang anggota kelompok para gadis saat melalui belokan.
"Pasti ingin segera bersua di sana ya? " sapanya.
"Iya!" jawab gadis itu sekenanya sambil tersenyum dingin.
Laju jalannya samakin lekas, pergi dari halaman tempat itu, sebab diam-diam menyisakan rasa terhempas di dadanya yang disusul hampa kemudian.

Begitu sampai di halaman rumah tetangganya, dia berjumpa dengan seorang ibu yang sedang menunggu anaknya. Penuh penantian. Seorang anak yang tidak kunjung pulang. Tanpa berkata-kata ia seakan sudah tau semua isi hati dan kepala si ibu itu. Sambil berlalu dia tersenyum dan melambai. Sang ibu hanya meratap sambil membalas senyum dengan sedikit sunggingan di bibir tipis tuanya.

Di tempat semula, yang tersisa dari kepergian yang satunya, tengah terbaring kaku berpikir lama. Hanya menatap ke atap. Seisi akuarium jadi bingung di buatnya. Tidak dapat membantu atau sekedar bertanya tentang keadaanya, mereka hanya dapat berlaku seperti biasanya, sibuk berenang-renang. Melamun sendirian sepanjang waktu yang tersisa, tidak cukup lama untuk menyelesaikan sibuk pikirannya sebelum acara bersua tiba.

Sampailah ia di sebuah rumah, yang lebih tepat disebut sebagai kamar kontrakan. Terdengar suara ramai bahkan sampai pintu depan. Seorang anak kecil, dua orang dewasa dengan seorang kabangsaan asing di antaranya dan seekor kucing, serta anjing dalam satu atap yang sama. Seperti rumah singgah. Ya begitulah.

Dia tak banyak bicara karena penuh pikirannya. Bermain game bersama seorang di antara penghuni kamar untuk sejenak mengalihkan fungsi kerja otaknya.
“Ya… ya… hampir saja!”
“Yeaaaaay… aku menang!” teriak si penghuni kamar yang jadi lawannya bermain. Permainan usai.
Hhhh…..

"Jadi aku harus apa? Jika sudah seperti ini, harus bagaimana?" berputar putar terus berputar.
"Sepertinya waktunya telah tiba" pikirnya berkata, memutuskan, dan mencerna.
Dibawanya tas ransel yang sudah siap kapan saja di mana saja, kepunyaannya. Jika sudah tak tentu arah sedemikian adanya, yang dilakukannya adalah mengambil jalan tengah. Beranjak memanggul si barang tua.

Kamar singgah itu adalah saksinya. Kapan dia akan pergi, kapan dia akan menetap, dan kapan dia akan pulang ke tempat semula, berikut dengan penghuninya. Tanpa perlu ia bicara ingin kemana dengan tujuan apa, mereka sudah sama sama tahu apa yang mereka rasa dan mereka inginkan untuk dicari tanpa perlu panjang lebar memberi alasan dan penjelasan. Saat itu juga dia pergi memanggul si barang tua, berjalan dengan gontai tak tentu rimba. Tanpa sapa, tanpa kata perpisahan untuk kembali bersua, tanpa kata pamit.

Selangkah demi selangkah jarak ditempuhnya. Masih dengan gontai, tubuh ringkih tanpa energi dalam jiwanya. "Aku harus apa? Aku harus bagaimana?" berulang ulang berputar putar dalam isi kepalanya. Rasa di hatinya hampa, raganya seolah tak menginginkan perjalanan tak tentu arah ini. "Melangkah terus melangkah" alter egonya selalu menegaskan keputusan yang sudah dibuatnya, dalam kondisi apa pun dan di mana pun, dia yang selalu ada dan bersamanya. “Berjalan… teruslah berjalan… Hadapi, lalui!”


---------------------------------------------------------------
Ruangan tempat bersua itu sangat ramai, padahal yang datang tidak seberapa. Meriah dengan cerah warna warni cerita dan gaun mewah. Diam-diam dalam perbincangan meriah di ruang yang serba berkilau itu, ada dia yang sedari tadi terus termenung berpikir. Topeng senda gurau yang seakan bersandiwara "Aku bahagia, di sini bersama mereka gadis-gadis yang ceria!" terpasang pada wajah teduhnya.

Karena rasa yang menentukan segala. Dia jadi makin termenung jauh kedalam dirinya. "Aku ini apa? Aku ini siapa? Sekarang aku sedang apa?" sekali dua kali tanya itu lalu lalang di kepala. Semakin di resapi maka semakin tertera tanda tanya besar dalam lubuk hatinya. Dia hanya bisa diam sendirian, padahal semua sedang dalam ke asyikan yang nyata. Hidangan yang tidak perlu diragukan kenikmatannya, bahasan perbincangan yang menyenangkan, dan tentu saja kehadiran gadis-gadis cerah ceria yang rupawan. Siapa yang melihat mereka di sana pastilah mengira bahwa itu adalah perkumpulan yang sungguh sangat menggiurkan.

Sekelebat bayangan si dia muncul di benaknya tiba-tiba, seperti adegan dalam potongan cerita. Dia sedang terkurung dalam ruangan, sendirian. Entah mengapa. Seperti yang ragu-ragu, ingin keluar dari sana tapi tidak bisa.

Seketika dia berpikir "Di manakah dia saat ini? Sungguhkah dia benar-benar pergi dan tidak akan kemari lagi?"
Dia jadi begitu peduli dan memikirkan keberadaannya. Beraneka ragam rasa, keresahan, dan pikiran-pikiran itu datang seketika setelah dia pergi begitu saja dalam akuarium kala itu. Rasa bersalah menghantui sekujur jiwanya; atas tanya yang tidak ia hiraukan, atas tanya yang tidak ia jawab, atas kejujuran yang ia sembunyikan. Meski itu bukanlah kebohongan, dia tidak semestinya membiarkannya tidak menerima apa yang seharusnya ia diterima.

Mengapa semua terjadi begitu tiba-tiba? Apa yang ia dapat rasakan saat itu adalah kegetiran, ketidaknyamanan, kehilangan. Aneka rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. “Haruskah aku pergi mencarinya? Haruskah?” benaknya terus bekerja, sedang raganya tak tahan ingin mengejar dia yang luput dari pandangan mata.

------------------------------------------------------------------------
Dia kebingungan dalam ruangan. Gaun cantik tengah terpasang di tubuhnya. Rambut dan wajah yang tertata sederhana menampilkan sisi lembut dan elegan pada dirinya. Sungguh sebuah penampilan yang sangat berbeda dari dia yang sebelumya.
“Apakah ini langkah yang benar? Apakah ini langkah yang tepat?”
“Ah, sial! Kenapa juga aku harus ada di sini?”
“Kalau sudah seperti ini jadi bingung sendiri, jadi serba salah sendiri!”

Adalah ia, si gadis yang sedang dalam ke bimbangan dalam melangkah. Sebuah keharusan menghampirinya untuk menghadiri pertemuan penting. Dalam pertemuan itu setiap panelis di wajibkan untuk datang bersama seorang partner. Jika nama yang terdaftar adalah perempuan maka ia harus datang bersama partner lelakinya, namun jika lelaki maka ia harus datang bersama partner perempuannya. Sedangkan ia sendirian, selain itu ia memang memiliki keterbatasan pergaulan dengan lelaki. Tak ada seorang pun kawan lelakinya yang memiliki waktu luang di saat terdesak seperti saat ini. Jadi apa yang harus dilakukannya? Berpikir keras tak juga menghasilkan jalan keluar. Waktu sudah semakin menipis, entah berapa menit lagi acara pertemuan itu akan dimulai. Pikirannya mulai blank!

“Bodoh! Seharusnya ku skip saja tadi! Haaaah!” geram semakin mengkungkunginya, namun pembawaannya tetap tenang, elegan dengan gaun cantik berwarna hitam sederhana itu.

Tok… tok… tok… suara pintu di ketuk dari luar ruangan.
Awalnya dia abaikan. Mungkin ia salah dengar. Suara yang sama berulang. Masih ia abaikan. Kembali lagi berulang.
Rasa janggal pun muncul.
“Siapa yang datang? Siapa yang berani berani menghampiri dia di saat geram seperti saat ini?”


“Siapa?” Teriaknya dari dalam. Hening…… tanpa jawaban dari luar.
Tok… Tok… Tok…

DING………. DANG……………
Suara pemberitahuan mucul dari speaker ruangan, tanda acara akan segera di mulai.

Detik terakhirnya telah habis. Entah apa yang harus dia lakukan dengan tampilan yang sudah seperti manequeen itu. Pasrah, dan kemudian membuka pintu.

Beku.
Kaku.
Keduanya.
Sedikit kikuk hingga akhirnya dia mengeluarka kata
“Ayo!”

Speechless, si gadis bingung harus menanggapi apa. “Oh, mana mungkin? Sedang apa dia di sini? Bagaimana bisa? Apa apaan ini sebenarnya?” Sederet pertanyaan memenuhi pikirannya. Mereka tidak bisa keluar untuk diucapkan.
Dia termangu membisu di depan pintu, tidak menggubris ajakan si lelaki itu, kaku.

Seraya tersenyum menggapai tangan telanjang si gadis kemudian menggandengnya lembut dan mulai melangkah maju.

Ada rasa lega dan entah mengapa jadi bahagia. Tanpa kata, tanpa bicara. Keduanya.

  • view 137

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    4 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang menarik sebab sukses mengalirkan banyak tanya hingga tulisan selesai. Banyak mengetengahkan simbol, gerak gerik jadi poin plus fiksi milik Utara Vishka ini. Hingga pada akhir cerita, pembaca pun menarik kesimpulan tersendiri. Akhir indah kedua tokoh pun jadi berasa manis sebab dikisahkan melalui teknik kepenulisan yang serba implisit ini.

    Bisa disimpulkan cerita ini mengenai romansa pria dan wanita yang awalnya cukup terjal tetapi pada akhirnya berakhir di pelaminan. Si pria yang pada mulanya susah untuk jujur pada perasaannya sendiri memilih pergi sementara di wanita pasrah. Tetapi pada akhirnya si pria pulang ke ‘rumah’ yang sempat ia tak mau masuki. Dia kembali pada saat yang tepat. Super sekali cara penuturan idenya, Utara.