Menjadi Bapak

Menjadi Bapak Menjadi Bapak

Pada akhirnya, sebagai bapak saya harus juga dijangkiti rasa khawatir atas apa yang mungkin bisa saja terjadi pada anak-anak saya. Terutama pada pertama saya, mungkin karena dia sudah sekolah dan memiliki teman dari berbagai latar belakang, selain tentu pada umurnya yang sekarang menginjak lima tahun memiliki perangai memberontak. Susah diberi pengertian, susah dilarang dan tentu kadang memiliki keinginan sendiri yang bisa saja bertolak belakang dengan kami –orang tuanya.

Tapi, hal di atas tentu tak banyak mengkhawatirkan saya, saya masih bisa meredam amarah jika memang sedang tersulut ketika ego orang tua yang selalu berpikir tahu segalanya mengenai keinginan dan kebutuhan individu bebas lainnya. Saya masih bisa selalu mengembalikan rasa sayang dan cinta saya kepada anak meski dalam keadaan marah sekalipun. Justru, yang hari-hari terakhir ini membuat saya khawatir adalah faktor dari luar. Hal-hal yang saya ketahui bisa saja terjadi pada anak saya.

Memang, sedikit banyak internet memberi manfaat dan tentu harus diakui ada manfaatnya. Dan saya, sebagai manusia modern yang tentu membutuhkan tambahan kecepatan dalam kehidupan memiliki beberapa akun media sosial, surel dan lain sebagainya yang berhubungan dengan internet. Semacam menjadi kewajiban terlebih karena faktor pekerjaan.

Beberapa hari yang lalu, mungkin seminggu yang lalu, saya menemukan postingan mengenai Skip Challenge, satu kegiatan mungkin dipahami sebagai permainan dikalangan anak-anak yang begitu berbahaya. Beberapa anak memainkannya dan menganggapnya sebagai permainan yang menyenangkan karena menimbulkan rasa tegang dan sensai melayang seperti seorang yang mabuk. Menekan dada seseorang sekuat tenaga hingga kejang-kejang dan kehilangan kesadaran, lalu tertawa bersama seolah tak ada yang bahaya. Mengenai informasi Skip Challenge ini saya bagikan juga di halaman media sosial saya.

Beberapa kali, ketika berkendara, saya sering mendapati anak-anak remaja, gadis-gadis yang mungkin masih sekolah menengah bersama kawannya berjalan beriringan. Ceria dan penuh tawa. Saya ingat anak saya. Dia akan menjadi sebesar itu, mengalami menstruasi dan akan tertarik dengan lawan jenisnya. Ada rasa khawatir dengan apa yang akan dialami anak saya, perkembangan dan pertumbuhannya. Bagaimana dia akan melewatinya, bagaimana saya mendampinginya. Perasaan sebagai bapak terus mengingatkan saya, menjaga saya agar tetap sadar bahwa ini hidup yang saya jalani. Di sini. Memiliki istri, anak-anak. Tentu, mau atau tidak saya akan menunggu waktu itu datang, mendampinginya dan harus berada bersamanya melewati pertumbuhan dan perkembangannya.

Beberapa hari ini, berita mengenai penculik anak kembali marak, di media sosial tentu banyak beritanya. Anak saya sudah sekolah, tingkat pertama di Taman Kanak-kanak. Setiap pagi, jika saya sedang berada di Bandung, kami berangkat bersama. Saya mengantarkannya hingga gerbang sekolah, lantas berlalu meninggalkannya menuju tempat kerja. Siang, ibunya akan menjemput sambil menggendong anak kedua, berjalan menanjak meski dekat. Selalu seperti itu. beberapa kali, jika tidak memungkinkan karena satu dan lain hal, istri saya akan mengantarnya dipagi hari, menungguinya sampai usai jam sekolah, lalu pulang bersama. Atau, beberapa kali memang ketika jam pulang sekolah dititipkan untuk pulang bersama kawanya yang juga dijemput orang yang lebih dewasa.

Tadi malam, saya minta istri untuk membahas perihal berita penculikan ini di sekolah. Bicarakan dengan orang tua yang lain dan guru. Pastikan bahwa guru jangan sampai memberikan anak didiknya kepada orang yang tidak dikenal olehnya. Hanya orang tua dan teman orang tua yang sudah dikenal guru yang boleh menjemput anak seusai jam sekolah. Meskipun, di sekolah anak saya memang seperti itu, tapi saya minta istri untuk tetap membahasnya, sebagai ikhtiar saja. Tentu, di luar berita itu benar atau tidak.

Sepengetahuan saya, berita penculikan yang belakangan muncul dikaitkan dengan perdagangan organ tubuh dan eksploitasi. Saya masih bisa mentolelir pengemudi angkutan yang –katakanlah- ugal-ugalan dijalan ketika bekerja dan berpotensi mencelakakan sesama pengguna jalan dari pada penculik. Saya memahami keduanya adalah bagian dari usaha orang untuk mencari uang di negara dunia ketiga seperti Indonesia, tapi ada batas toleransi yang tak bisa tidak harus ditarik. Diberikan garis yang lebih tegas. Saya pikir siapapun akan sepakat.

Menjadi bapak, menikah, memiliki isitri lalu memiliki anak-anak bukanlah sesuatu yang kuno dan tanpa tantangan. Bukan sesuatu yang diam di tempat. Hal ini bagi saya sama seperti bertualang ke tempat yang begitu jauh untuk tentu mendapatkan pelajaran-pelajaran dan nilai-nilai.

agus geisha

Menjadi Bapak

Karya agus geisha Kategori Catatan Harian dipublikasikan 21 Maret 2017
Ringkasan
Menjadi bapak, menikah, memiliki isitri lalu memiliki anak-anak bukanlah sesuatu yang kuno dan tanpa tantangan.