Tentang Menulis

Tentang Menulis Tentang Menulis

“Menulis itu sebenarnya sama dengan berbicara, hanya saja itu kau catat.”
Helvy Tiana Rosa

 

Menyukai menulis bagi saya seperti minum air. Kalau haus, saya ingin segera mungkin mereguknya. Kalau tidak, rasanya enggak enak. Tentu kualitas tulisan saya itu belum layak kalau dibukukan. Tulisan-tulisan yang sifatnya begitu mentah. Perlu dimasak terlebih dahulu, diberi bumbu-bumbu, lantas baru bisa dilahap.

Beberapa pembaca tulisan saya ada yang mendesak supaya saya cepat punya buku dengan nama penulisnya nama saya sendiri. Katanya enggak afdol kalau penulis kalau tidak punya buku. Hello, nulis buku enggak semudah nulis caption di instagram, kawan. Tapi makasih banyak sudah bersedia baca. Di saat saya sendiri merasa tidak percaya diri atas kualitas tulisan saya, ternyata masih ada juga yang mengapresiasi tulisan-tulisan yang sederhana ini.

Ketulusan saya berkarya belum tiba di makam ikhlas. Mengerjakan tanpa mengejar balasan. Menuju tahap ini butuh latihan tak berujung. Hingga akhirnya, berkarya ya berkarya itu sendiri, bukan tentang apa yang datang dari luar untuk memberikan respon terhadap karya itu: baik puji maupun caci.

Bagi saya, apresiasi dalam bentuk apapun tak saya tampik mampu memberikan dorongan yang tak sedikit bagi saya untuk terus menulis. Seperti minyak tanah yang membuat kobaran api tetap menyala juga membuat nyala itu cepat ada, tepuk tangan atau komentar yang membangun, membuat saya termotivasi rajin membuat tulisan. Tak apa-apa, naik kasta butuh upaya.

Ini hari ke-58 jurnal Ilmyah. 2 jurnal kemarin saya tidak menulis. Apakah saya dilanda penyesalan? Tentu saja, dan itu tak mengenakkan. Alasannya sih dari Selasa malam saya dan teman-teman pergi liburan ke Pangandaran. Alibi yang tidak bermutu sekali. Harusnya kalau sudah berkomitmen, halangan sesulit apapun tetap akan ditembus untuk bertahan melakukan sesuatu untuk setia pada ikatan perjanjian. Itulah jiwa kesatria. Saya ternyata tak sekesatria itu. Masih berjiwa prajurit yang masih bergantung pada intruksi.

Absen sehari ternyata membuat salah satu pembaca jurnal saya katanya merasa lapar. Serasa tidak baca selama sebulan kata dia sebagaimana dikatakan lewat personal chat whatsapp. Ketika saya membacanya, campur aduk perasaan ini. Ada rasa bangga juga tak menyangka. Bangga karena apa yang saya lakukan meskipun ringan saja ternyata bermanfaat. Tak menyangka sebab ternyata tulisan-tulisan berkonten sederhana itu ternyata bagi sebagian orang begitu bermakna. Alhamdulillah.

Ini satu pengalaman menarik yang saya temui selama melakukan project jurnal ilmyah yang basisnya sebenarnya di tumblr. Pemilihan tumblr karena sebuah alasan kenyamanan. Lalu instagram dan line juga grup-grup di whatsapp menjadi media supaya pembaca berkunjung ke tumblr saya. Di awal perintisan project ini saya tidak membayangkan sama sekali hal-hal semacam mendapatkan kenalan baru, ucapan-ucapan semangat untuk konsisten menulis jurnal dan lainnya.

Waktu itu, saya hanya ingin menantang diri saya saja untuk berlatih menulis secara rutin. Tapi dalam perjalanannya, saya menemukan orang-orang yang melambaikan tangan untuk menyemangati saya supaya bertahan dalam perjalanan panjang ini. Setahun itu tak sebentar.

Saya seperti seorang pejuang yang hendak menyelesaikan sebuah misi—sebutlah semisal berjuang di medan perang—, dan warga yang tempat tinggalnya terlewati mengantarkan saya lewat teriakan-teriakan riuh untuk membuat gelora semangat saya kian bergemuruh. Mengharukan.

Beginilah adanya. Semoga jurnal ini terus berlanjut saya mungkin akan mendapatkan hal-hal menarik lainnya. Misalnya ada seorang editor sebuah penerbitan yang ternyata menemukan tulisan saya ketika ia tengah mencari penulis baru untuk project bukunya, lalu ia merasa cocok dengan gaya menulis saya, lantas ia menawari saya untuk menulis. Seperti apa yang terjadi pada mas Ilman Akbar yang ditawari menulis sebuah buku yang kemudian jadi buku berjudul 101 Young CEOkarena ia rajin ngeblog. Kan itu mungkin-mungkin saja. Kalaupun tidak, kemungkinan lainnya baik positif atau tidak akan menjadi semacam wahana pembelajaran bagi saya.

Ke depan, semua hal bisa saja terjadi. Semoga saja, yang saya temui nantinya adalah hal yang bisa membuat saya jadi pribadi yang lebih baik lagi. Apa yang telah dimulai semoga tak lantas putus sebelum waktunya. Sebuah ekspedisi semoga bisa diakhiri bukan malah membalikan badan ketika masih di tengah perjalanan. Saya awalnya hanya melihat titik akhir project ini ketika lengkap 365 hari bisa terlengkapi. Tapi titik itu boleh jadi bisa berkembang menjadi lebih besar lagi. Menjadi tujuan yang dampaknya tak melulu tentang pribadi namun tentang khalayak banyak.

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 16 Maret 2017

 

Sumber gambar: Goinswriter.com

Muhammad Irfan Ilmy

Tentang Menulis

Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Motivasi dipublikasikan 20 Maret 2017
Ringkasan
Absen sehari ternyata membuat salah satu pembaca jurnal saya katanya merasa lapar. Serasa tidak baca selama sebulan kata dia sebagaimana dikatakan lewat personal chat whatsapp. Ketika saya membacanya, campur aduk perasaan ini. Ada rasa bangga juga tak menyangka.
Dilihat 15 Kali