Nak, apa kau sedang gelisah?

Nak, apa kau sedang gelisah? Nak, apa kau sedang gelisah?

Mungkin kamu sedang gelisah nak? Apa kabarmu? Apa yang bisa Bapak Ibu bantu nak?

Tidak Bapak, tidak Ibu, mungkin aku hanya lelah, aku mulai lelah dengan hidup yang mempermainkanku, menggerakkan perilakuku, memainkan perasaanku, menendang pikiranku, menjauhkanku dari cinta yang juga ingin ku dapat namun masih berlari berlayar tak tau kemana arah, aku takut

Cinta apa yang ingin kau dapat nak? Cinta siapa yang kamu harap nak? Apa kurang cinta Bapak Ibu mu ini? Apa kurang cinta Tuhan padamu? Istighfar nak, apa yang kamu cari? Apa yang kamu takutkan?

----------------------------------------------------------

Lalu kau membuka matamu, kosong, hanya ada dirimu bersama barang-barangmu di kamar. Seolah percakapan itu wujud, ada, terasa begitu kuat suara dan wajah kedua orang tuamu lekat dengan setiap tarikan nafasmu.

Hai, kamu pernah merasakan itu?

Tidak, aku tidak sedang mengajakmu berhalusinasi, tapi pernahkah kau merasakan itu? Seolah kau menghadirkan orangtua mu dalam pikiranmu, kau bertanya pada diri sendiri, “Bapak Ibu, apa yang akan kalian lakukan jika ada dalam situasi ini?

Lalu kau terlibat pembicaraan dengan dirimu sendiri sambil membayangkan sosok Bapak dan Ibu berada disisimu, berbicara, lalu kau berganti posisi menjadi diri sendiri lalu memikirkan dalam posisi mereka lagi. Atau di suatu waktu dirimu sendiri berkata sebagai sosok orangtua untuk menyemangati seperti cara orangtuamu dulu, “Nak, cobalah, kalau ini belum berhasil, coba lagi!

Bagi yang pernah mengalami mungkin akan memahami hal ini. Bagaimana bisa kita menghadirkan dialog tersebut? Meski orangtua tidak hadir di sisi, adakah itu wajar?

Sesungguhnya saat seorang anak lahir, belum ada sensor khusus yang mengenali dunia begitu lengkap. Anak akan memiliki kesadaran akan hidup melalui hubungan transaksi antara orangtua dan anak. Anak akan belajar nilai-nilai kehidupan dari nilai yang dimiliki orangtua. Awal mula suatu kesadaran kata hati akan menjadi sebuah pengalaman dialog yang sangat cantik dalam diri sendiri antara orangtua dan anak. Dialog ini bisa mengarah pada kondisi yang penuh pertimbangan, moralistik, mempersilahkan, melarang, dsb.

Jika kamu memiliki orangtua yang penuh kasih, simpati namun juga memberi batasan yang jelas dengan arahan tanggungjawab, hal ini akan terbawa hingga dewasa. Memberi suatu kecenderungan seperti itu pulalah sikapmu pada anakmu. Maka tidak heran apabila kita memiliki orangtua yang mengajarkan kita makna sebuah tanggung jawab yang diikuti hadiah, kita akan memilih mengerjakan tanggung jawab tersebut hingga tuntas. Seolah ketika tugas belum selesai, kita tidak merasa pantas untuk mengambil tiket bersenang-senang terlebih dahulu. Ada seutas raut wajah Bapak Ibu yang membuatmu tertahan hingga semua tugasmu usai.

Apakah dialog yang kau lakukan bersifat konflik dan membingungkan? Ya bisa jadi, karena mungkin ada suatu pengalaman masa lalu antara kedua orangtuamu yang membuatmu bingung. Kamu harus selalu berkata jujur, tapi jika kamu selalu berkata sebenarnya itu bisa melukai orang lain. Hal terpenting dalam hidup adalah karir, oh tidak yang terpenting dalam hidup adalah menikah. Hal terindah adalah kamu menjadi orang kaya sehingga tidak bingung dengan uang dan kau merasa aman, tidak nak cukuplah keluarga yang berada disisimu penuh kehangatan itulah makna kekayaan yang sebenarnya.

Pernahkah itu terjadi juga? pernah? Hmmm kamu tidak sendiri. Pada akhirnya kita juga akan menjadi orangtua, akan ada masa memberikan kita pilihan mengaduk suatu pengalaman yang mendewasakan bercampur dengan hal yang menyakitkan. Inilah yang akan memperkaya diri kita dan menjadikan dialog dalam diri menjadi suatu hal yang bermakna.

Ingatlah, orangtuamu akan semakin tua, tidaklah patut kita sebagai anak membebani dengan masalah kita. Biarkanlah orangtuamu tersenyum melihat kesuksesanmu dan kemandirianmu. Doakanlah mereka dalam damai dan sehat sehingga tetap bersamamu menghabiskan waktu penuh dharma dan cinta kasih. Dendangkanlah syair syahdu berbalut doa yang akan menenangkan batin mereka dan semakin yakin bahwa kamu baik-baik saja.

Jadi, sudah siapkah malam ini menghadirkan dialog antara diri dengan orangtuamu? kau boleh menangis, boleh menghadirkan kejadian masa lalu, boleh menghadirkan apa yang menjadi ganjalan hatimu, sumber gelisahmu, lalu munculkanlah respon apa yang akan orangtuamu berikan, respon apa yang kau inginkan. Hadirkanlah, rasakanlah, berdamailah dan terimalah. Atau mungkin memang saat ini orangtuamu juga memikirkanmu, disana, dalam setiap tangis di setiap sujud dan doanya, mendoakan anak-anaknya  tanpa henti di suatu tempat yang kau sebut dengan RUMAH.

 

Zuhrotun Ulya

Nak, apa kau sedang gelisah?

Karya Zuhrotun Ulya Kategori Lainnya dipublikasikan 20 Maret 2017
Ringkasan
aku tidak sedang mengajakmu berhalusinasi, tapi pernahkah kau merasakan itu? Seolah kau menghadirkan orangtuamu dalam pikiranmu, lalu kau bertanya pada diri sendiri, “Bapak Ibu, apa yang akan kalian lakukan jika ada dalam situasi ini?”
Dilihat 65 Kali