Teknisi yang Melepas Sepatu

Teknisi yang Melepas Sepatu Teknisi yang Melepas Sepatu

Dulu saya selalu percaya bahwa pelayanan terbaik bisa didapatkan dari orang-orang yang berpendidikan tinggi, misalnya: sarjana, dan lain-lain.

Tapi, lagi-lagi teori tersebut tak sepenuhnya benar. Sering, beberapa teori jika dikaji lebih dalam—hanya tampak berupa opini belaka.

Kali ini saya dan istri mendapat keberuntungan: kupon untuk menginap gratis di Hotel MHA, Pontianak—untuk satu malam.

Hari Sabtu, sekitar pukul sepuluh pagi—saya check in di akomodasi yang telah lama terdengar eksistensinya itu. Ternyata, seorang rekan kerja saya telah menjadi pimpinan tertinggi di sana, namanya Ryan Rafenclaw (nama samaran), seorang pria yang sangat berpengalaman di bidang teknik listrik. Meski tubuhnya tidak bisa dibilang besar, namun jiwa kepemimpinannya sudah terbukti di tempat kerja yang lama, dari sudut pandang saya—pekerjaan beliau memuaskan.

Secara tak sengaja saya bertemu dengannya di lobi hotel. Kami duduk di sofa empuk berwarna abu-abu. Saya duduk berhadapan, dibatasi sebuah meja kaca bundar. Tempat itu cukup unik, tak jauh dari pandangan—kita bisa melihat deretan motor-motor besar dan satu buah piano hitam—menambah kesan mewah bagi siapa pun yang melihatnya. Mungkin karena hari Sabtu, ia menggunakan pakaian santai, baju lengan panjang warna abu-abu berbahan katun, celana jeans, dan seperti biasa, cincin batu akik di jari manis tangan kanan-nya.

“Dik ... kamu bawa mesin potong rambut?” tanya Pak Ravenclaw. Sepertinya beliau sering melihat tayangan di akun Facebook saya yang beberapa kali menampilkan hasil karya berupa potongan rambut untuk teman-teman saya.

Saya tertawa. “Tidak bawa, Pak! Mau menginap ini, tak terlintas untuk membawa mesin potong rambut. Apa jadinya kalau saya memotong rambut seorang pimpinan tertinggi di sini?”

Pak Ravenclaw tertawa kecil. Kemudian kami bercerita tentang masa lalu di kantor lama, kisah yang memang tak asing didengar oleh pekerja kantoran kebanyakan, namun selalu mengejutkan.

***

Pukul delapan malam, saya bertemu lagi dengan Pak Ravenclaw di meja resepsionis. Ia memberitahukan bahwa Phil Bronze (nama samaran) juga bekerja di tempat tersebut.

Bang Phil, begitu saya memanggilnya, adalah staf dari Pak Ravenclaw saat masih memimpin di tempat kerja yang lama. Saya cukup sering berinteraksi dengan-nya dalam beberapa kesempatan.

“Apa kabarnya Bang Phil, Pak?”

Pak Ravenclaw menekan telepon genggamnya, lalu berbicara seseorang dengan bahasa jawa.

“Sebentar lagi dia datang. Ayo duduk di lobi,” ajak Pak Ravenclaw.

Sekitar lima menit, Bang Phil datang, ia mengenakan pakaian hitam-hitam dengan logo silat di bagian dada sebelah kanan. Saya tahu, teman saya itu memang penggemar beladiri asli Indonesia. Saya pernah melihat satu tayangan di akun Facebook-nya: “Tak ada tempat di hatiku untuk beladiri impor.” Dia tak banyak berubah, kulitnya tetap terbakar matahari, tanda perjuangan keras kehidupan sebelumnya.

Setelah berbincang sejenak dengan kedua kolega lama itu, saya menceritakan kepada Pak Raveclaw bahwa ada sedikit masalah pada pendingin udara di kamar saya. Dengan sigap—beliau langsung memberi arahan kepada Phil Bronze untuk menanganinya.

“Nanti ada teknisi yang datang ke atas, ya ....” kata Bang Phil pelan. Tindakan cepat Pak Ravenclaw dan Bang Phil merupakan ciri khas pekerja di bidang perhotelan atau perbankan. Sampai hari ini, saya belum menemukan pelayanan ramah dan cepat di institusi lain, semoga suatu hari—lembaga pemerintah bisa menerapkan pelayanan prima dengan sebenar-benarnya.

Saya menelepon istri, dan memberitahukan sebentar lagi akan datang teknisi, namun istri saya mengatakan saya pun harus berada di sana.

Menggunakan lift, kurang dari satu menit, saya sudah sampai di kamar. Seseorang berbaju seragam warna biru tua.

“Silakan, Pak!” kata saya, tak lama setelah pintu kamar dibuka oleh istri.

Pria tua yang saya perkirakan berumur lima puluh itu membuka sepatunya tepat di depan pintu masuk. Benda tersebut tampak lusuh, banyak kerutan, dan sedikit berdebu. Tipe sepatu pekerja lapangan atau tenaga pelaksana, bukan tipe kantoran.

“Permisi ya, Pak,” katanya sambil membungkuk. Padahal ia tak perlu melakukannya, saya lebih muda, harusnya saya yang membungkuk.

Saya bercakap-cakap dengannya sebentar—sembari ia memperbaiki keadaan pendingin udara di kamar. Pembawaan lelaki tua tersebut sangat ramah, rendah hati. Persisnya percakapan kami—saya tidak terlalu ingat, tapi cukup berkesan di benak saya. Tapi melihat kondisi beliau, saya yakin—dia bukan seseorang yang pernah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi—namun seseorang dengan keterampilan hidup yang lebih baik.

Kalau tidak salah, kata Om Bob Sadino, pendidikan tinggi tidak selalu menentukan kesuksesan, bukan? Lalu orang di Indonesia yang punya banyak pesawat itu, juga tidak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi ... sekali lagi, opini saya tentang pelayanan saat kuliah dulu, untuk sementara ini masih akan tetap menjadi dongeng. 

---

Pontianak, 19 Maret 2017

Dicky Armando 

 

Sumber foto: Knights Tavern 

Dicky Armando

Teknisi yang Melepas Sepatu

Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian dipublikasikan 19 Maret 2017
Ringkasan
Melayani dengan hati.
Dilihat 19 Kali