Tulisan Akhir Pekan

Tulisan Akhir Pekan


Ini hanya cerita yang berlalu lalang di kepala. Tulisan pemuas jiwa.

Kategori Non-Fiksi

337 Hak Cipta Terlindungi

Bukan Disable, Aku Hanya Difabel (Part I)

Bukan Disable, Aku Hanya Difabel (Part I) Bukan Disable, Aku Hanya Difabel (Part I)

“Bukan kelumpuhan kedua tungkaiku saja yang kupikirkan sejak 4 bulan terakhir ini, tapi keberadaanku sejak 1 bulan terakhir di RS ini yang lebih mengkhawatirkanku.” ucapnya sore itu ketika memutuskan pulang paksa.

Usianya baru saja menginjak 34 tahun ketika kelemahan kedua tungkai itu mulai muncul sesekali  walaupun hilang timbul. Menjalani kehidupannya sebagai seorang ibu dengan 2 anak laki-laki yang baru saja memasuki usia sekolah sudah membuatnya tak cukup waktu untuk sekedar melamun atau memikirkan penyakit yang mungkin bisa menyerangnya. Ditambah dengan kepatuhannya untuk mengurus suami sekaligus bapak dari anak-anaknya membuatnya tak punya banyak waktu untuk sekedar mengeluhkan rasa lelahnya. “Ini mungkin lemah hanya karena kelelahan. Toh…kalau sudah istirahat pun membaik.” begitu pikirnya.

Ia masih bisa bertahan dengan kursi roda selama 3 bulan terakhir dan tetap menjalani dengan bahagia aktifitasnya sebagai seorang istri dan ibu walaupun terbatas pada kelemahan kedua tungkainya yang tak mampu lagi diajak berkompromi walaupun dengan tongkat atau berpegangan. Ia tidak menyerah, ia hanya mengalihkan sejenak fungsi kakinya pada putaran roda. Ia masih tetap mampu mandiri dengan kedua tangan yang masih tetap aktif walaupun diatas kursi roda. Dan kebahagian keluarga kecilnya pun belum terasa berkurang.

Risna, namanya, akhirnya harus menyerah sejak 1 bulan terakhir saat ia tak bisa lagi mengeluarkan kencingnya dan tak mampu mengontrol saat ingin buang air besar. Rasa nyeri yang hebat saat ia ingin kencing tapi kandung kencingnya tak kunjung berkontraksi membuat perutnya semakin membesar karena terdorong kandung kencing yang penuh. Rasa sakit yang hebat dan keterbatasan itu membuat ia akhirnya menyadari bahwa ia kini sakit. Pemasangan selang kencing berulang membuatnya sepakat bersama suami untuk merujuk ke rumah sakit provinsi yang lebih maju.

Sang suami harus meninggalkan pekerjaannya yang digaji berdasarkan jam kerja dan si bungsu yang masih berusia 6 tahun pun diajak menuju kota provinsi. Di RS provinsi yang terkenal lengkap ini pun akhirnya ia diagnose mengalami spinal cord injury. “Aku sebelumnya belum pernah mendengar penyakit itu. Dokter-dokter disini kudengar menyebutnya esciai. Apapun namanya, aku hanya ingin segera berjalan dan pulang.” katanya.

Seminggu awal sejak masuk di RS ini ia mendapat berbagai macam pertanyaan, ia menjalani berulang kali pemeriksaan, dan menjalani serangkaian tes-tes diagnostik. Semua prosedur pemeriksaan dijalankan sesuai aturan  salah satu rumah sakit pendidikan terbaik di negeri ini. Akhirnya diagnose spinal cord injury yang luas ini menjadi menyempit karena transverse myelitis “Jangan tanya itu apa karena aku akan sulit menjelaskan. Tapi kata dokter, itu karena infeksi pada saraf pusat yang dipunggung. Bisa karena kuman virus atau bakteri, tapi bisa juga dari reaksi imun tubuh. Entahlah. Apapun itu, aku hanya ingin bisa berjalan.”

Sudah satu bulan saat ia mulai berada disini. Tak kunjung kakinya bergerak. Satu minggu terakhir ia mendapat suntikan obat untuk menangani infeksi pada saraf pusatnya. “Dosis tinggi kata dokter” katanya. Sesekali selama seminggu ia harus merasakan mual, seolah terasa sesak. Ini seperti gejala gastroesofageal refluks disease akibat kortikosteroid dosis tinggi. Setiap kali ia mendapat suntikan, setiap kali itu pula ia menanyakan tentang kapan kedua kakinya bisa berjalan. Dan setiap kali itu pula dokternya menjawab bijak.

“Proses penyembuhan saraf tidak semudah proses penyembuhan organ lainnya. Tulang yang patah bisa menyatu kembali sekitar 3 bulan. Tapi saraf bisa 6 bulan, setahun, bahkan lebih.”

“Tergantung apa dok?” tanyanya lagi.

“Seberapa berat kerusakannya, seperti apa stimulasi yang kita berikan, dan bagaimana sel saraf itu mampu memperbaiki dirinya.”

“Tapi masih bisa dok?”

“Waktu yang biasanya bisa menjawab. Tapi optimalisasi pengobatan dan terapi bisa membantu mempercepat.”

Risna, wanita muda yang tak pernah putus asa.

Saat pemberian obat dosis tinggi sudah selesai, ia memilih pulang paksa. Kasihan anak dan suaminya yang sudah terlalu lama menunggunya disini. Jauh dari rumah, pengeluaran untuk makan selama menunggu dan tak bisa bekerja suaminya membuatnya membulatkan tekad untuk pulang paksa. Tak menunggu pemeriksaan lainnya.

Dokter rehabilitasi medik yang ikut merawatnya pun akhirnya mengajarkannya untuk melakukan self catheterization lebih cepat. Self cathetherization  alias kateterisasi mandiri itu adalah istilah untuk memakai selang kateter secara mandiri secara berkala. Jadi tak perlu pulang dan memakai selang kencing sepanjang hari. Menurut penelitian orang-orang yang ahli, selang kencing yang dipasang terus-menerus dapat menimbulkan resiko infeksi lebih besar daripada menerapkan kateterisasi mandiri. Itulah protap RS pendidikan ini jika ada pasien yang harus pulang namun masih ada masalah untuk mengeluarkan kencing. Mereka tak akan dibiarkan lebih lama di RS hanya karena tak bisa mengeluarkan kencingnya.

Tak seperti lelaki yang lebih mudah melakukan kateterisasi mandiri. Walaupun memiliki ukuran saluran yang lebih pendek menuju kandung kencing, tapi untuk melakukan keteterisasi mandiri wanita memerlukan keterampilan khusus. Ia memerlukan cermin untuk memantulkan posisi dan ia harus meletakkan kakinya dengana posisi terlentang. Bukan hanya Risna yang kala itu diajarkan untuk melakukannya, sang suami pun  diajarkan langsung oleh sang dokter untuk dapat membantunya.

Akhirnya selama satu hari belajar, ia dan sang suami pun tampak sudah mulai terbiasa melakukannya setiap 4 jam. Dan keesokan paginya pun ia memililih untuk pulang paksa dan memutuskan untuk melanjutkan pengobatan-pengobatan lainnya yang sekiranya diperlukan di RS yang tak jauh dirumahnya. Terbersit dalam hatinya, “RS terbaik ini pun tak bisa membuatku kembali berjalan.” ucapnya lirih pagi itu.

Gustin Muhayani

Bukan Disable, Aku Hanya Difabel (Part I)

Karya Gustin Muhayani Kategori Project dipublikasikan 19 Maret 2017
Ringkasan
Seorang dokter pun tak mampu memastikanku bisa berjalan lagi atau tidak. Jadi untuk apa aku harus bertahan di RS ini.
Dilihat 107 Kali