Di Balik Kostum Badut

Di Balik Kostum Badut Di Balik Kostum Badut

Anak-anak itu kegirangan. Terhibur sekali bermain dengan badut-badut lucu yang memakai kostum tokoh kartun. Sesekali para badut itu tiba-tiba diam tidak bergerak. Lalu mendadak mengejar anak-anak yang datang mendekat. Bagi anak-anak itu, ini seru. Tapi entah seberapa pengapnya orang di balik kostum lucu itu. Ah, semua demi uang, apapun akan dilakukan.
Menjelang sore, para badut itu pulang ke suatu rumah tempat tinggal mereka. Mereka merantau dan kini hidup bersama menjadi sesama badut penghibur. Tak ada pilihan lain. Tak ada yang memberi mereka kesempatan untuk hidup lebih baik. Tapi dari uang itu, mereka bisa makan dan menabung untuk keluarga nan jauh di desa.
Ketika tengah malam, salah seorang badut selalu terbangun. Dia keluar untuk mencari udara segarbegitu menurutnya. Padahal angin malam menampar wajah lusuhnya berkali-kali. Persis seperti ketidakadilan hidup padanya. Tapi, dia terus menyusuri jalan hingga tiba di sebuah pohon besar dan rindang. Dia amati garis-garis kasar batang pohon besar itu. Disentuhnya berkali-kali. Dadanya menjadi sesak dan sorot matanya tajam seketika. Kemudian ia menyeringai dengan sorot mata yang masih sama tajamnya.
Pagi kembali menumbangkan malam. Para badut itu bersiap menghibur lagi. Tapi sebelum itu, mereka selalu mampir ke warung makan Bu Eni. Di sana, selalu ada berita baru dan masih hangat diperbincangkan.
Kalian tahu ndak, sekarang itu para orangtua jadi was-was, kata Bu Eni memulai siaran berita hari ini.
Memangnya ada apa to, Bu En? salah seorang tukang becak bertanya.
Itu lho, di berita tadi malam lagi ramai penculikan anak. Saya juga pernah lihat brosur yang judulnya waspadalah terhadap penculikan anak. Kasihan anak-anak sekarang. Bukannya bebas bersosialiasi eh jadi takut ke luar rumah. Untung aja anak saya sudah kerja semua, tutur Bu Eni.
Mendengar hal itu, para badut yang sedang sarapan menjadi khawatir juga. Kalau begini, penghasilan mereka jadi berkurang.
Wah, gimana nasib kami Bu En? Kami kan kerjaannya menghibur anak-anak, ucap salah seorang badut.
Oh iya iya. Pak Hadi dan Bapak-bapak badut semua sementara cari kerja yang lain saja, sampai ada berita baik, saran Bu Eni. Para badut itu terdiam dan tak enak makan.
Sepertinya berita itu cepat menyebar. Sudah tiga taman bermain mereka datangi tapi tak ada anak-anak di sana. Mereka jadi gelisah. Berita itu membuat harapan hari ini musnah.
Mungkin hari ini kita kurang beruntung. Besok kita coba lagi, saran Pak Hadi, salah seorang badut. Lalu para badut itu pulang dengan wajah tertunduk.
Hampir seharian para badut itu hanya berdiam diri di dalam rumah. Hingga menjelang malam, salah satu badut berpamitan untuk keluar rumah. Dia menawarkan diri untuk membeli makan malam ini dan mencari peluang pekerjaan lain. Badut yang lain meneruskan tidur mereka.
Pukul sembilan malam, salah satu badut terbangun karena mendengar teriakan. Dia berdiri dan memeriksa sekitar. Tidak ada apa-apa. Dia teringat temannya yang berpamitan membeli makan belum pulang. Padahal perutnya sudah keroncongan. Tapi dia kembali tidur. Mungkin sebentar lagi temannya datang membawa makanan lezat, pikirnya.
Pukul sepuluh malam, badut yang ditunggu datang membawa bungkus makanan. Dia datang terlambat dengan beralasan jadi buruh cuci piring di rumah makan besar. Upah yang didapat langsung dibelikan makanan.
Wah, hebat sekali badut kita yang satu ini, puji Pak Hadi.
Jelas, Pak. Besok kalau berita penculikan itu masih ada dan kita masih nganggur, biarkan saya saja yang keluar mencari makan haha, katanya sambil tertawa. Lalu disambut rasa penasaran badut yang lain. Mereka juga ingin ikut bekerja seperti dia. Tapi tidak diperbolehkan. Katanya, ini hanya untuk sementara.
Tiga hari kemudian. Tidak ada berita baik. Taman bermain masih sepi dari anak-anak. Malah sekarang ramai berita anak hilang. Sudah tiga anak yang dilaporkan menghilang. Padahal menurut saksi, anak-anak itu berada dalam pengawasan orangtuanya. Kalau begini, para badut itu bisa jadi pengangguran.
Ayolah, Sam. Biarkan kami ikut kamu kerja. Nanti kita bagi untung. Kita juga nggak mau nganggur terus dan cuma mengandalkan uangmu. Gimana nasib keluarga kita di rumah? pinta Pak Hadi. Kemudian diikuti suara setuju yang lain. Tapi badut yang bernama Samsul itu tidak mau. Alasannya masih sama. Ini membuat badut yang lain menaruh curiga.
Menjelang malam, Samsul keluar rumah seperti biasa. Badut yang lain hanya bisa pasrah dengan kemauan Samsul. Anehnya meraka tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu berita baik. Tapi malam ini, Pak Hadi mengikuti langkah Samsul. Dia yang paling menaruh curiga di antara yang lain.
Samsul sampai di sebuah rumah makan besar di pinggir jalan raya. Pak Hadi masih membuntutinya. Samsul memang tidak berbohong soal jadi buruh cuci piring. Pak Hadi lega dan mulai berpikir positif. Dia melihat pegawai rumah makan itu cukup banyak. Mungkin kalau dia dan teman-temannya ikut bekerja, pasti tidak ada peluang. Tapi ini juga tidak adil. Dia dan teman-temannya juga ingin bekerja. Pikiran negatif mulai menguasainya.
Pak Hadi berpura-pura jadi pembeli yang menumpang ke toilet. Dia masuk ke toilet yang tidak jauh dengan dapur. Ketika mengamati sekitar, tidak ada Samsul seliweran. Karena penasaran, Pak Hadi bertanya pada salah satu pegawai.
Samsul? Di sini tidak ada yang namanya Samsul. Jawaban dari salah satu pegawai yang semakin membuat Pak Hadi bertambah curiga. Tetapi, Pak Hadi melihat pintu belakang rumah makan itu terbuka. Dia kemudian memeriksanya.
Di belakang rumah makan besar itu ternyata kawasan tak terpakai yang dipenuhi tanaman liar setinggi dada. Samar-samar, Pak Hadi melihat ada orang yang berlari menjauh dari rumah makan. Dia langsung mengejar orang itu di bawah penerangan yang seadanya.
Pak Hadi sampai di sebuah pohon besar dengan napas tersengal-sengal. Sepertinya, dia sudah berlari cukup jauh. Tapi tiba-tiba punggungnya dipukul dengan batang kayu. Keras sekali sampai dia terjatuh dan hampir tak sadarkan diri. Perlahan Pak Hadi membuka matanya. Samar-samar dia melihat wajah yang tak asing sedang menyeringai dengan tangan masih memengang batang kayu.
Samsul? terkanya.
Tidak perlu menyapaku seperti itu, Pak. Kita kan sudah sering bertemu, tutur Samsul dengan pandangan aneh.
Baiklah. Aku tidak perlu menjawab satu per satu pertanyaan dari Pak Hadi. Biar aku selesaikan malam ini. Seperti tiga anak kemarin.
Rasa penasaran Pak Hadi masih belum terjawab, tapi satu pukulan melayang ke paha kanannya. Pak Hadi merintih. Dia berusaha untuk melontarkan pertanyaan kepada Samsul agar dia punya celah untuk kabur. Pak Hadi berusaha berdiri dengan tertatih. Dia lalu menendang kaki Samsul dengan kaki kirinya hingga terjatuh. Dia kemudian berlari sekuat tenaga, menjauh dari monster berwujud badut itu. Pak Hadi tidak mungkin kembali ke rumah. Dia dan teman-temannya pasti terancam. Akhirnya, Pak Hadi terus berlari.
Dia tiba di sebuah kantor polisi dengan napas tersengal-sengal dan kaki yang hampir patah. Polisi menyuruhnya tenang dan memulai untuk bercerita tentang kejadian yang menimpanya. Dua puluh lima menit kemudian, pihak kepolisian bergegas untuk menangkap Samsul. Mereka menyusuri kawasan yang ditumbuhi tanaman liar hingga tiba di pohon besar tempat Pak Hadi dipukul oleh Samsul. Namun masih nihil. Polisi justru menemukan tanah bekas galian. Mereka lalu menggali gundukan tanah itu. Bau bangkai seketika menyengat. Di bawah penerangan lampu senter, mereka menemukan tiga mayat anak perempuan yang sudah membusuk penuh dengan luka. Polisi segera membawa ketiga mayat tersebut untuk diautopsi.
Pemburuan terhadap Samsul terus dilakukan. Pukul dua pagi, polisi baru bisa menangkapnya. Satu peluru menyasar di kaki kirinya. Samsul meringis kesakitan karena luka tembakan. Tapi keadaannya tetap tenang. Dia tidak terlihat cemas sama sekali.
Setelah menjalani pemerikasaan, Samsul telah ditetapkan sebagai tersangka kasus penculikan dan pembunuhan anak di bawah umur dan percobaan pembunuhan terhadap Pak Hadi. Dia juga menjalani tes kejiwaan. Hasilnya sungguh mengejutkan.
Seperti yang sudah dilaporkan pihak rumah sakit, Samsul diduga mengidap gangguan psikopat. Kalian sebagai temannya apa tidak mengetahuinya? tanya salah seorang polisi kepada Pak Hadi dan ketiga rekan badutnya.
Mereka menjawab bahwa Samsul sebenarnya orang yang tertutup. Tidak pernah menceritakan keluarganya. Mereka juga mengatakan, kalau pernah mendengar teriakan pada malam hari dan pernah melihat Samsul pergi ke pohon besar. Tetapi mereka tidak ada yang menaruh curiga karena Samsul terlihat seperti orang biasa. Dia tidak memiliki rasa cemas.
Dengan izin polisi, Pak Hadi memberanikan diri untuk berbicara dengan Samsul sebelum Samsul dijebloskan ke jeruji besi. Samsul hanya menyeringai dengan tatapan tak suka. Dia hanya mengatakan, Kamu tidak pernah tahu apa yang tersembunyi di balik kostum badut. Bahkan di balik wajah polos manusia pun tak ada yang tahu. Dia bisa jadi sosok yang menyenangkan atau justru menyeramkan.
Sebulan kemudian, Pak Hadi dan teman-temannya baru mengetahui kalau masa kecil Samsul dipenuhi dengan kekerasan. Bahkan, Samsul pernah melihat ayahnya membunuh pamannya secara langsung. Ketika menikah, Samsul terlilit hutang. Anak perempuannya dihabisi oleh rentenir saat akan memohon perpanjangan waktu agar Samsul bisa melunasi hutang. Hal ini membuat gangguan psikopat Samsul muncul kembali. Dia tega menyiksa, membunuh dan mengubur istrinya diam-diam lalu kabur ke luar kota. Gangguan psikopat itu masih terus melekat saat dia melihat anak perempuan. Sekarang, dia hanya bisa menyeringai di balik jeruji besi tanpa suatu penyesalan.

 

Banyuwangi, 17 Maret 2017

Cerpen ini diterbitkan oleh Radar Banyuwangi pada tanggal 19 Maret 2017.

ningrumatika

Di Balik Kostum Badut

Karya ningrumatika  Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 19 Maret 2017
Ringkasan
Sesekali para badut itu tiba-tiba diam tidak bergerak. Lalu mendadak mengejar anak-anak yang datang mendekat. Bagi anak-anak itu, ini seru. Tapi entah seberapa pengapnya orang di balik kostum lucu itu. Ah, semua demi uang, apapun akan dilakukan.
Dilihat 18 Kali