Balapan, Jembatan dan Jawaban

Balapan, Jembatan dan Jawaban Balapan, Jembatan dan Jawaban

Di sudut kota Den Haag, lampu merah masih menyala sejak lima detik yang lalu. Perempuan tua memulai langkah pertamanya menyeberang jalan. Puluhan sepeda terparkir di depan gerai sepanjang trotoar.

Di persimpangan jalan yang sama, seorang perempuan duduk di sudut bangku bus Eurolines.  Jarinya mencari lagu di pemutar musik ponsel, tangan satunya sibuk membenamkan earphone di balik kerudungnya. Cahaya  lampu kota sesekali hinggap di atas kepalanya. Ia mulai menngantuk, tapi masih ada satu pertanyaan yang mengganggunya.

“Apakah nikah itu balapan?”  Sejak kemarin pertanyaan terus ia pikirkan.

Ah itu mungkin saja. Pernikahan memang hal yang harus disegerakan.

-000-

Ketika bus bergerak melewati Jerman--masuk ke Republik Czech, perempuan itu terbangun dengan perasaan panik. Ia melihat sekeliling, suasanannya mencekam; bus yang mendadak berhenti, orang-orang mengantre ke luar seperti tawanan perang, sopir bus mengobrol serius dengan polisi, anjing-anjing besar mengendus barang-barang milik penumpang.

 “Apa yang terjadi?” tanya perempuan itu pada penumpang di sebelahnya.

Orang itu mengangkat bahu sambil bersiap turun dari bus, “aku tak tahu.”

Perempuan itu menarik nafas panjang. Dengan tergesa, ia mengemasi barang bawaanya.

Apakah menikah itu balapan? Pertanyaan itu tiba-tiba datang mengganggu

Mungkin saja bukan. Ada banyak hal yang harus kita persiapkan.

-000-

Matahari mulai meninggi, perempuan itu akhirnya sampai ke hostel. Sejak turun dengan ‘terpaksa’ dari bus, ia memutuskan naik taksi agar sampai di pusat kota Praha.

Kini ia berdiri menghadap jendela, menatap jalanan depan hostel sambil setengah melamun. Jam astronomi di old town square sedang berputar-putar di kepalanya, ia akan berdentang sesuai dengan waktu yang ditunjukkannya. Jika waktu menunjukkan pukul 2, maka jam astronomi itu akan berdentang 2 kali. “Apakah menikah itu balapan?” untuk ketiga kalinya pertanyaan itu datang lagi. Perempuan itu terus melamun. Semakin dalam, dan semakin dalam.

Ia tersadar ketika ponsel menggetarkan saku celanannya. Ada nama laki-laki tertulis di sana.

“Temui aku di Charles Bridge sore ini.” Isi pesan itu.

-000-

Air sungai Vitava beriak di bawah jembatan Charles. Menggerakkkan kapal-kapal wisata yang pulang dan pergi. Sudah lima menit perempuan itu menunggu. Orang yang mengirim SMS tadi belum muncul juga. Ia mulai melamun lagi, melambatkan gerak benda-benda di sekelilingnya. Penjual suvenir sedang menata kucing yang terbuat dari kaca, pelukis karikatur tiba-tiba sibuk menggambar, pengemis menyelimuti anjingnya yang kedinginan.

“Maaf terlambat” seorang laki-laki tiba-tiba menegurnya. Nafasnya sedikit terengah-engah.

“Ga apa...aapa” jawab perempuan itu, spontan.

 “Kaget?” tanya laki-laki gondrong setengah tertawa. Perempuan itu tidak menjawab, kemudian melempar pandangannya ke arah sungai.

 “Apakah perahu-perahu itu mulai berlayar dari dermaga yang sama?” tanya laki-laki itu. Pandangan mereka bertemu di sungai Vitava.

“Menurutmu?” perempuan itu bertanya balik.

“Mungkin saja tidak” jawab laki-laki itu, “kapal-kapal ini bisa jadi memulai ‘start’ dari dermaga yang berbeda.”

“Bagaimana bisa mereka sampai di sini bersamaan?” tanya perempuan itu.

“Barangkali ada kapal yang memulai terlebih dahulu, namun tersendat kemudian tersusul” jawab laki-laki itu, “Tapi ada juga kapal yang mengawali lebih lambat, namun sampai tujuan lebih dulu....”

“Apakah kapal-kapal ini balapan?” tiba-tiba perempuan itu memotong pembicaraan. Laki-laki itu menoleh ke arah perempuan itu.

“Tentu saja tidak” jawab laki-laki itu, “tapi mereka sama-sama ingin cepat sampai tujuan.”

Trias Abdullah

Balapan, Jembatan dan Jawaban

Karya Trias Abdullah Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 19 Maret 2017
Ringkasan
“Apakah nikah itu balapan?”
Dilihat 69 Kali