Tentang Ayah

Tentang Ayah


Sebuah Catatan Kecil Tentang Ayah...

Kategori Fiksi Umum

117 Hak Cipta Terlindungi

Dua

Dua Dua

Dear Anakku tersayang Aldebaran Putra Pratama

Ketika kamu membaca surat ayah ke 4 ini maka artinya kau sudah sampai pada bagian mimpi-mimpi ayah, impian yang tidak pernah sempat ayah wujudkan ketika ayah masih muda. Ketika ibumu Erna Wulandari masih cantik-cantiknya. Ketika semua perasaan ayah hanya sepenuhnya padanya, ketika cinta yang paling abadi adalah soal doa-doa yang kita rapalkan setiap malam.

Bara, begitulah ayah memanggilmu ketika kecil, ketika kau masih berkata dengan tidak fasih. “Ala au unya obil biar isa alan-alan ama ayah.” Waktu itu ayah tersenyum mendengar kau seperti itu, begitulah nak. Semenjak hari itu ayah punya mimpi untuk membahagiakan dirimu dan ibumu, menjadi seorang ilmuwan matematika yang mungkin bisa sukses dengan segala apa yang telah di palajarinya. Ayah tidak pernah tahu bagaimana takdir membawa ayah Bara, yang ayah tahu hanyalah bagaimana matematika berperan penting dalam membahagiakan kamu dan ibumu.

Satu bulan sebelum kamu terlahir, ayah mendapatkan sebuah panggilan di salah satu persuahaan Akuntan dari New York, waktu itu ayah senang bukan main salah satu impian ayah untuk bisa membahagiakanmu sudah berada di depan mata, sudah selangkah lagi pikir ayah waktu itu. Ya, yang ayah pikirkan waktu itu hanyalah materi semata, hanyalah soal bagaimana bisa jalan-jalan denganmu setiap weekend atau bisa bermain air dan pasir di pantai Kuta. Ayah selalu menantikan masa-masa itu Bara.

Ayah pergi ke New York dengan meninggalkan ibumu yang mungkin satu bulan ke depan akan melahirkan, waktu itu ayah sempat ragu tapi ibumu kembali menyakinkan ayah. “Ini buat kita sekeluarga, kan?” dengan keyakinan kuat ibumu dan juga tekad keras ayah, ayah pergi ke New York, ibumu tinggal bersama nenek dan kakek di Depok. Tapi Bara, mungkin itu adalah kesalahan terbesar ayah yang pernah ayah lakukan sepanjang hidup ayah, sesuatu yang barangkali akan ayah sesali seumur hidup ayah bahkan mungkin sampai ayah tiada. Seminggu ayah tinggal di New York, ibumu mendapatkan kontraksi pada perutnya.

“Kamu kapan pulang?!” Teriak panik suara nenek waktu itu.

“Aku nggak tahu, belum tahu.. Gimana keadaan Erna? Besok aku akan usahakan pulang kalau begitu.” Ayah semakin panik ketika ayah mendengar jeritan ibumu dari balik telepon. “Erna sayang, Erna kamu nggak apa-apa? Erna?!” Ayah panik bukan main, jerita ibumu makin kencang Bara, tapi nenek kamu berusaha untuk menyakinkan dan menyuruh ayah segera pulang.

Ketika pulang ke Jakarta ayah langsung ke Rumah Sakit Fatmawati tempat ibumu di rawat, ibumu koma selama 2 minggu selepas melahirkan dirimu, karena kesalahan ayah yang tidak menjaganya, karena keegoisan ayah yang meninggalkannya pergi. Padahal prediksi dokter selalu saja bisa salah, prediksi tidak pernah sesuai apa yang sudah Tuhan takdirkan. Malam itu ketika ibumu koma ayah berjanji sesuatu dan dinding-dinding rumah sakit menjadi saksi ketika ayah mengucapkannya.

“Mimpi ayah bukan lagi menjadi ilmuwan matematika, mimpi ayah menjadi sebaik-baiknya suami dan ayah bagimu dan kakakmu.” Tapi walaupun begitu mungkin ayah bisa berkata kalau impian itu belum terwujud sepenuhnya. Maka Bara sebesar apapun impianmu dan juga tekadmu, keluarga adalah segalanya, dia di atas keterikan bernama hukum dan impian, tanpa mereka kita hanyalah serpihan yang akan selalu merasa kesepian di dunia.

Aldebaran Putra Pratama, ketika kau sampai di surat ke empat ini, maka kau harus mengetahuinya. Keluarga adalah caramu untuk terus merasa ada, jaga ibu dan kakakmu, sayangi mereka. Karena ayah tidak selamanya bisa menjadi penjaga mereka, malam ini ketika ayah menulis surat ini, kau sudah tertidur pulas di keranjang bayi yang ibumu beli.

Aldebaran Putra Pratama, Selamat bertumbuh dewasa.

---

Rooftop rumah menjadi sangat tenang ketika aku menatap bintang-bintang di langit malam dengan seksama. Bintang bersinar terang malam ini, begitupun bulan, mereka berdua menjadi pelengkap bagi cerahnya malam. Aldebaran Putra Pratama, ayah memberikan nama itu ketika aku terlahir ke dunia ini. Kata ibu Aldebaran berarti bintang yang paling terang di Konstelasi Taurus dan juga bintang paling terang di gelapnya malam. Putra artinya aku adalah putra dari ibu dan ayah, putra yang menjadi penerus keluarga dan juga penjaga bagi ibu dan ayah kelak. Pratama adalah nama belakang ayah, dan ya Aldebaran Putra Pratama selalu saja nama ini menjadi doa terbaik bagiku.

“Belum tidur De?” Mas Sena datang tiba-tiba dengan membawa beberapa buku pelajaran. Kakak laki-lakiku dia adalah seorang guru, guru matematika, dia penyuka matematika layaknya Almarhum ayah, tapi sayangnya kakak tidak seberuntung ayah yang bisa sampai ke New York.

“Belum mas.” Ujarku singkat sambil membenarkan posisi dudukku.

Mas Sena mengangguk perlahan, kali ini dia merebahkan badannya di Rooftop rumah kami. “Kamu tuh.” Kata Mas Sena sambil menunjuk salah satu bintang di langit yang kutahu itu adalah Aldebaran.

“Kembaran aku mas hehehe.”

Mas Sena hanya tersenyum, aku dan Mas Sena sudah tidak terlalu dekat ketika ayah pergi, kami menjadi dua bersaudara yang kurang dekat. Bahkan kami jarang ketemu, hanya setiap weekend seperti ini saja kami berusaha untuk saling sapa agar tidak dibilang sombong atau hanya sekedar untuk lebih memperat hubungan adik dan kakak. Hal yang paling aku sering lakukan dengan Mas Sena adalah hal-hal yang konyol, hal-hal yang kadang bisa membuat aku tertawa setengah mati atau sekedar tersenyum.

Sewaktu kecil kami pernah membuat ibu marah karena merusak beberapa dagangan ibu yang berada di toko, ya ibu mempunyai toko klontong. Walaupun itu menjengkelkan bagi ibu tapi bagi kami itu adalah hal yang teramat sangat menyenangkan. Tapi kami tidak terlalu jahil, kadang kami membantu ibu merapikan dagangan atau sekedar menghitung jumlah uang yang di dapat dari hasil penjualan harian, dan kadang juga ibu memberi kami upah. Yang biasanya akan kami gunakan untuk bermain Playstation dekat dengan rumah.

Masa-masa kecil seperti itu sangatlah menyenangkan, ya aku dan Mas Sena sangatlah akur dan bahagia dulu tapi sekarang ketika bertumbuh dewasa aku sudah bekerja dan Mas Sena sudah mempunyai anak, kami hanyalah dua orang dewasa yang canggung untuk sekedar berkata “Hai”.

“Ini apa?” Tanya Mas Sena sembari memberikan sebuah bundel naskah.

Aku mengernyitkan dahi. “Mas nemu dimana?”

Mas Sena sedikit tertawa, tawa yang mencurigakan atau mungkin tawa ledekan? “Nemu? Mas nggak nemu, Mas dapet dari receptionist di kantor.”

Aku sedikit mengaga. “HAH?! KANTOR?!”

Kali ini tawa Mas Sena semakin kencang dan semakin meledekku saja. “Hahaha ternyata adik Mas yang satu ini mau jadi penulis ya?” Katanya sambil mengusap-ngusap kepalaku, usapan pertama nya setelah sekian lama. Beberapa hari yang lalu aku memang mengantar naskah tulisanku ke salah satu penerbit di Jakarta Selatan. Impian untuk menjadi penulis sudah aku bulatkan semenjak lulus SMK.

Aku menghindar segera dari Mas Sena. “Mas bukannya Mas guru matematika?”

“Itu cuma sampingan, justru pekerjaan Mas yang sebenarnya Senior Editor Bara.”

“Kok aku nggak pernah tahu?”

Mas Sena tersenyum kali ini senyum yang sinis. “Kamu terlalu sibuk sama pekerjaan kamu sampai lupa sama Mas kamu sendiri Bar.” Aku terdiam ketika kalimat itu terlontar dari bibirnya. Aku menunduk merasa bersalah karena setelah sekian lama kami berdua layaknya orang lain yang menyapa kalau lupa arah jalan saja. “Besok ke kantor Mas ya, kita omongin naskah kamu.”

Aku menoleh ke arah Mas Sena tiba-tiba. “Serius Mas?”

Mas Sena mengangguk, lalu dia pergi begitu saja meninggalkanku di Rooftop rumah. Senyum tersungging dari bibirku, perlahan cahaya sinar bintang Aldebaran semakin terang, seiring dengan kebahagiaan yang dia dapatkan.

Arifin Narendra Putra

Dua

Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project dipublikasikan 19 Maret 2017
Ringkasan
Aldebaran Putra Pratama, ayah memberikan nama itu ketika aku terlahir ke dunia ini. Kata ibu Aldebaran berarti bintang yang paling terang di Konstelasi Taurus dan juga bintang paling terang di gelapnya malam.