Hotel dan Konsep Imajinasi

Hotel dan Konsep Imajinasi Hotel dan Konsep Imajinasi

Oleh: Handry TM

 

NARASI atau sekarang lazim disebut dengan istilah tagline, sedang menjadi panglima dalam  menjual produk. Siapa sangka produk hotel saat ini sangat menggiurkan? Dan Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki reputasi tinggi soal pertumbuhannya. Catatan tiga tahun terakhir, negara kita memiliki pertumbuhan perhotelan terbaik di dunia, peringkat di bawahnya ada China, India, Brasil dan Amerika (data Trip Advisor).

            Tagline yang muncul dari bisnis ini adalah “Good Capital Gain.” Di bisnis hotel, keuntungan dalam bentuk uang terbilang nyata. Selain mendapatkan margin sewa hunian (kamar), ada bisnis food and beverage (makanan dan minuman), gerai produk, lifestyle dan entertainment. Hotel menjadi “rumah kedua” bagi orang-orang yang menginginkan suasana lain dari tempat tinggalnya.

            Mengapa Indonesia tumbuh pesat sementara bisnis hotel di banyak negara maju melemah? Dengan proyeksi hilir-mudiknya wisatawan domestik di atas 20 juta orang dan wisatawan asing menjelang 10 juta orang pertahun, maka hotel menjadi elemen penting dalam dinamika industri pariwisata global.

            Perilaku masyarakat menengah ditengarai sudah mulai bergeser soal hunian dan tempat nongkrong. Kalau semula nongkrong sebatas dilakukan di teras rumah, kini posisi meeting atau nongkrong sudah memilih di hotel. Bahkan mulai ada yang menyisihkan anggaran untuk sesekali menginap di hotel saat weekend. Bisnis ini tidak dibangun dalam format mewah, namun mengarah ke hotel kecil yang popular disebut sebagai Hotel Budget.

            Menginap di hotel bukan sekadar butuh merebahkan badan. Vivien Leigh, aktris pemeran film Gone with the Wind, punya pendapat lain, “I need something truly beautiful

to look at in hotel rooms...” Seseorang butuh imajinasi indah di dalam sebuah kamar. Ia tidak hanya ingin menonton teve sambil rabahan, atau nyeruput kopi sembari memotong daging roti dengan pisau.

            Siapa lihai menawarkan keindahan, ia yang akan disinggahi di kesempatan berikutnya. Konsep hotel masa kini bukan sekadar bed and breakfast (istirahat dan makan), juga menjual atmosfer dan khayalan. Menurut Dicky Sumarsono, CHA, penulis buku “Dahsyatnya Bisnis Hotel di Indonesia,” perputaran uang di bisnis ini mendahului start penjualannya. Karena reservasi (pemesanan tempat) pun menghasilkan dana segar untuk diputar.

 

30 Persen Modal

            Menurut buku best seller itu, mengapa partumbuhan besar cenderung di hotel-hotel kecil (sekelas bintang dua atau tiga), dibanding hotel mewah? Karena hotel kelas ini sedang menghadang pergeseran selera kelas menengah. Kelas masyarakat ini sudah tidak mau disebut miskin, namun belum mampu membayar hotel berkelas mahal.

            Cukup dengan modal 30 persen di bisnis Hotel Budget, sisanya diraih dari pinjaman bank atau investor dengan dana segar, berdirilah hotel sebagaimana yang kita harapkan. Ketika hotel pertama belum balik modal namun growth-nya menjanjikan, proposal untuk memulai bisnis hotel baru pun akan ditangkap bank atau investor.

            Diperkirakan, dengan berhasilnya pengelolaan hingga lima hotel pertama, untuk mencapai 20-30 hotel berikutnya akan mudah dicapai. Hotel Budget memiliki cash flow-cash in yang tinggi. Itulah capital gain yang meyakinkan. Pola hotel farm (peternakan hotel) semacam ini sekarang sedang menjamur di negara-negara dengan serapan pelancong tinggi. Di Indonesia, pertumbuhan bisnis ini terlihat menonjol di dua provinsi, Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Provinsi Bali.

            Apakah kita sedang bermimpi? Ternyata tidak. Menggoreng bisnis hotel kecil inilah yang akan memulai bagaimana caranya membangun hotel mewah dan lebih besar lagi. Tidak heran, sebuah korporasi yang  memiliki banyak hotel kemudian melesat dengan beternak hotel yang lebih besar lagi.

            Jangan terkejut ketika bisnis yang sudah membesar, tiba-tiba runtuh secara berurutan, karena pengelolaannya berada dalam satu mata rantai. Dibutuhkan sistem pengelolaan yang integral, cermat, tidak serampangan, memahami peta kekuatan serta kelemahan sendiri. Perlu mengingat kata-kata Sun Tzu, adalah sangat perlu memahami kekuatan dan kelemahan sendiri. Selalu berprinsip, seratus kali bertarung, seratus kali mengalami kemenangan.

            Hotel yang sekarang kita lihat, sungguh jauh dari konsep hotel saat pertama kali dibangun. Sejarah abad ke 17 dimana hotel pertama berdiri, awalnya disebut hostel. Fungsi utamanya sekadar menampung pendatang. Hostel yang diambil dari bahasa Perancis itu memang benar-benar melayani.

            Menjelang abad ke 18, Amerika memulai konsep baru. Hotel tidak hanya menampung dan melayani, namun menjadi industri jasa tersendiri. Dibangunlah City Hotel di New York pada tahun 1793. Hunian itu tampil penuh gaya, fashionable dan bercorak urban. Penginapnya dibuat betah, seolah tak ingin pulang meski harganya menguras isi kantong sedikit dalam.

            Berturut-turut muncul hotel papan atas yang membuat decak kagum para hedonis. Sebut saja Tremont House di Boston dan Astor House di New York. Sejak saat itu para pesohor tidak harus membangun gedung mewah bertingkat untuk mencapai “surga,” cukup menginap di kamar termahal di hotel. Siapapun bisa membayangkan dirinya menjadi tokoh idola, dengan cara menginap di kamar tempat sang idola pernah tidur di sana.

            Maka, juallah imajinasi terindah bagi para tamu, jika Anda berhasrat membangun bisnis ini secara serius.

           

           

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

 

 

Quotes

Pola hotel farm (peternakan hotel) semacam ini yang sekarang sedang menjamur di negara-negara dengan serapan pelancong tinggi.

 

 

 

 

handry tm

Hotel dan Konsep Imajinasi

Karya handry tm Kategori Inspiratif dipublikasikan 18 Maret 2017
Ringkasan
Percayakah jika bisnis hotel gurihnya seperti kacang goreng? Diasumsikan sehari tumbuh satu hotel di Indonesia. Bagaimana cara menangkap prospek yang tidak disangka-sangka ini?
Dilihat 14 Kali