Tentang Ayah

Tentang Ayah


Sebuah Catatan Kecil Tentang Ayah...

Kategori Fiksi Umum

121 Hak Cipta Terlindungi

Satu

Satu Satu

“Haloo?” Ujarku kepada orang yang berada di ujung telepon. “Re maaf gue telat, gue masih kena macet.” Lanjutku kepadanya.

Malam ini aku ada janji untuk bertemu Rere, perempuan yang aku temui di kantin kampus. Dan setelah sekian lama juga ini adalah kencan pertamaku dengan perempuan. Mungkin bagi kalian ini sedikit berlebihan tapi percayalah, aku tidak tahu bagaimana caranya mengobrol dengan perempuan, jangankan sampai ke tahap mengobrol menyapa saja rasanya susah sekali. Memerlukan keberanian tingkat tinggi bagiku untuk sekedar berkata “hai” Ahh memalukannya diriku.

Jalanan sekitar Margonda macet panjang, tidak bisa bergerak sama sekali, hampir satu jam sudah aku Mandek disini tanpa pergerakan. Walaupun ini bukan pemandangan yang asing bagiku karena jalanan Margonda dari ujung ke ujung selalu saja macet, jalanan yang tingkat kemacetannya paling parah menurutku. Aku dan Rere janjian di salah satu kafe di Ciputat, Rere yang memilih, karena jujur aku tidak mengetahui sama sekali keseluruhan daerah Ciputat, yang kutahu Ciputat hanyalah UIN saja, itupun karena aku mencarinya di Google. Kata Rere kafe yang akan kami jadikan tempat kencan adalah kafe baru di daerah itu, namanya kalau tidak salah Kolaborasa Cafe.. Namanya sedikit absurd menurutku, karena jarang ada kafe yang bernama seperti itu. Rata-rata kafe yang ku tahu mempunyai nama yang unik, kekinian dan gaul. Dan ini Kolaborasa? Aku sudah membayangkan betapa tidak enaknya makanan yang ada disana.

Gue nunggu di kafe ya, lo hati-hati kalau macet jangan main klakson aja kasian yang depan hihihi. Gue udah booking meja buat kita berdua, LO HARUS DATENG! Whats App dari Rere tiba-tiba saja masuk ke ponelku.

Aku membacanya dan tersenyum sendiri dengan perhatian yang dia berikan. Menyenangkan rasanya ketika ada seseorang yang memperhatikan gerak-gerik kita, memperhatikan bagaimana cara kita memakan sesuatu, memperhatikan bagaimana kita tertawa, tersenyum dan bersedih. Selalu memastikan apa yang kita lakukan dan katakan, menyenangkan rasanya ketika orang lain peduli terhadap kita.

Mungkin sebagain orang menganggap ini berlebihan, atau mungkin kalian juga menganggap ini berlebihan, kan? Tapi bagiku tidak, mungkin karena aku tidak pernah mendapatkannya selama bertahun-tahun  jadi perhatian macam apapun yang aku terima akan menjadi hal yang indah dan menyenangkan.

---

Hampir dua jam aku terjebak macet dan akhirnya tiba di kafe yang Rere maksudkan. Selepas memakirkan mobil di parkiran aku mulai menghampiri Rere yang berada di dalam kafe, ternyata tidak seusai dengan namanya, Kolaborasa Cafe sangatlah modis dan gaul. Anak-anak nongkrong di sana dan sini, ada beberapa anak-anak Moge, ada beberapa pendukung tim AC Milan dan juga Juventus yang akan bertanding nanti malam, rupanya akan ada nonton bareng nanti.

“Mba meja atas nama Rere Indah Kirana.” Kataku kepada pelayan yang sedang berdiri memegang menu makanan di samping pintu masuk.

“Sebentar ya Mas.” Ujar pelayan itu lembut kepadaku, lalu dia bergegas pergi ke arah Kasir menanyakan kepada temannya adakah pesanan meja atas nama Rere. Dari kejauhan pelayan itu mengangguk mendengar perintah temannya, perlahan dia langsung berjalan ke arahku lagi dengan langkah kaki yang cepat. “Ada mas, di lantai dua ruangan VIP kami.” Ujarnya masih lembut, kali ini dengan senyum manis yang menyungging di bibir tipisnya itu.

Aku mengangguk lalu bergegas ke lantai dua sesuai arahan pelayan tadi. Ruangan VIP? Batinku bertanya-tanya, kenapa harus pakai ruangan VIP segala, untuk apa? Ini hanya pertemuan biasa, hanya agar aku dan Rere bisa lebih saling mengenal satu sama lain dengan sederhana. Agar ikatan perasaan kami bisa menyatu lebih cepat, aku dan dia kemudian pacaran, kemudian beberapa tahun kemudian aku lulus dari kuliah lalu menikah dengan dia, mempunyai anak dan hidup bahagia selamanya. Ah rasanya kurang bagus, mirip cerita-cerita di buku dongeng keponakanku saja.

Sesampainya di lantai dua mataku langsung menangkap Rere yang sedang melambaikan tangan kepadaku. Shit! Benar ruangan VIP Batinku sedikit mengumpat. Aku menghampirinya dengan senyum yang mengembang, aku bahagia ketika kehadiranku diterima oleh orang yang bahkan baru beberapa minggu ini aku kenal.

“Udah lama Re?” Basa-basi yang bodoh.

“Ya menurut lo sebentar? Manager kafe ini sampai ganti gara-gara gue kelamaan nungguin lo.” Aku tertawa garing mendengar jawabnnya. Seharusnya aku tahu sejak tadi dia hanya menungguku. Malam ini Rere terlihat sangat amat cantik, dengan kerudung merah muda yang ia kenakan, paduan jaket Parka berwarna hitam dan kemeja yang selaras dengan kerudungnya. Harum bunga mawar baru saja keluar dari dalam tubuhnya, aroma itu perlahan menusuk hidungku dengan sempurna dan benar saja aku memang telah jatuh cinta kepada Rere.

Aku sudah lama tidak berkencan dengan perempuan, mungkin terakhir kali aku berkencan dengan seseorang itu... Sebentar aku berpikir dahulu, beri aku waktu...

......

......

......

......

......

Sebentar beri aku waktu..

......

......

Ah tidak ada sama sekali, ya benar aku tidak pernah berkencan dengan perempuan. PUAS KALIAN! Ya memang ini kencan pertamaku sejak aku SMP dulu, jaraknya sangat jauh, dan sekarang kencan pertama terjadi di masa kuliah, ya kencan pertama. PUAS KALIAN!

Semenjak kepergian ayah 22 tahun yang lalu menyisakan luka yang teramat sangat perih bagiku. Kepergian ayah benar-benar membuatku menjadi laki-laki penakut dan cengeng waktu itu. Dan semenjak kepergian ayah tersebut aku tumbuh dengan pribadi ibu, pribadi perempuan. Kalian pasti tahu itu kan, ya perempuan yang lembut, yang sabar dan selalu menyendiri disaat butuh ketenangan, yang selalu menangis disaat tidak kuat menahan beban. Semenjak kepergian ayah aku sepenuhnya tumbuh sebagai laki-laki yang mempunyai sifat perempuan. Eitss bukan berarti aku menyukai laki-laki ya, sudah aku jelaskan tentang Rere, kan? Yup benar, hanya sifat, sikap dan lemah lembutnya saja sisanya masih tetap laki-laki.

“Waktu gue lihat lo di hukum sama senior tuh rasanya bahagia banget hahaha, lo tuh keliatan lebih culun dan jadi lebih cupu dari aslinya.” Rere tertawa ketika kami sedang membicarakan para senior dan menyinggung soal hukuman.

“Lo emang seneng banget ya kalau liat gue ke siksa?”

Rere tampak berpikir, wajahnya yang lucu membuatku tidak kuat menatapnya. “SENENG BANGET HAHAHAHA.” Ujarnya sambil tertawa keras, kali ini mungkin suaranya sampai keluar ruangan VIP ini.

“Makasih banget loh Re makasih.”

“Sama-sama.” Dia masih tertawa, kali ini sambil meminum jus Alpukat yang ada di tangan kanannya.

Aku masih memandangnya walaupun dengan perasaan sebal karena baru saja dia menertawakanku keras dan beberapa orang memperhatikanku, perlahan aku menjadi pusat perhatian. Rasa malu mendadak merasuk ke dalam diriku sendiri. Sial Rere. Umpatku dalam hati. Namun di antara rasa sebal yang ada aku jatuh cinta padanya, jatuh cinta pada wangi bunga mawarnya, jatuh cinta pada setiap gerakan dan juga tindakannya, jatuh cinta pada setiap senyum dan tawanya. Intinya jatuh cinta pada semua hal yang ada pada dirinya, ah memang seperti itu rasanya jatuh cinta bahkan apa yang sebenarnya buruk di dalam diri pasangan bisa menjadi baik ketika cinta datang.

Cinta buta, cinta tak mengenal toleransi, cinta tak mengenal keburukan yang cinta kenal hanya kebahagiaan dan keindahan yang ia tunjukan pada setiap detakan jantung yang perlahan mulai berdegup kencang ketika Rere mulai menepuk atau memukul manja diriku. Itu menyenangkan dan sangat menyenangkan.

“Jadi kenapa masuk Ilmu Komunikasi?” Tanya Rere selepas kami tertawa puas.

Aku menoleh ke arah Rere lalu perlahan mata kami bertemu. “Males jawab ah nanti di ketawain lagi.” Ujarku dengan cuek kembali memakan makananku.

Rere memukul pelan bahuku, ah mungkin aku harus sering membuat dia sebal. “Ihh serius Bara, kenapa? Gue kan penasaran.”

“Loh emang ada yang salah sama gue masuk Ilmu Komunikasi? Sampai penasaran banget gitu.”

“Masalahnya kan lo nggak punya muka yang memadai kayak cowok-cowok Ilmu Komunikasi yang lainnya.”

“Makasih-makasih!” Kataku sedikit kesal karena dia baru saja mengejekku lagi.

Rere tertawa keras, perlahan dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil segukan karena tertawa terlalu keras. Wajahnya merah ketika tertawa, seperti semua perasaannya bercampur aduk dalam satu tempat. “Oke-oke kita serius ya.” Dia berhenti tertawa. “Kenapa masuk Ilmu Komunikasi? Kalau gue ya masuk Ilmu Komunikasi karena suruhan Papah, padahal gue nggak suka tapi apa boleh buat karena Papah yang suruh gue nurut aja daripada nggak dikasih uang jajan hihihi.” Ujarnya kepadaku.

Aku terdiam beberapa saat ketika Rere mulai menyebut kata ‘Papah’, aku terpatung mendengar kata itu. Aku selalu membayangkannya, betapa bahagi hidup orang lain dengan keluarga yang masih utuh, bermain bersama Ayah atau belajar bersama Ayah, keduanya sangat menyenangkan. Tapi tidak bagiku, masa bahagiaku dengan laki-laki bernama Ayah sudah habis dan tamat, mungkin tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Hanya angan saja jika aku berharap ada sosok Ayah dalam hidupku, mungkin ibu? Ahh tapi aku butuh sosok yang benar-benar laki-laki, kan? Yang bisa mengajarkan matematika atau mungkin mengajarkan bagaimana caranya mendapatkan perempuan dalam seminggu atau hal konyol lainnya. Aku kadang merasa hidupku kurang beruntung dengan tidak hadirnya orang yang aku sayang, tapi aku selalu bersyukur karena masih diberi ibu walaupun dia bukan Ayah tapi itu sudah cukup...

Mungkin.

“Bara!”

Hentakan Rere membuatku tersadar dari lamunan. “Eh iya kenapa?”

Dia memasang wajah sebal. “Pertanyaan gue tadi belum lo jawab Aldebaran Putra Pratama, kenapa malah bengong aja? Mikirn apa?”

“Mikirin lo.”

“Yee gila lo.”

Aku tersenyum kepada Rere. “Oke gue jelasin kenapa gue masuk Ilmu Komunikasi.”

“Kenapa-kenapa?”

“Karena gue suka ngomong.”

Rere terdiam tiba-tiba, wajahnya menunjukkan wajah yang bingung, seperti orang yang sedang melihat hantu di depannya. “Gimana-gimana maksudnya?”

“Iya gue suka ngomong orangnya, suka aja gitu jadi pusat perhatian orang kalau lagi ngomong sesuatu, nah dari situ mulai kepikiran untuk masuk Fakultas ini. Lagi pula kan gue bisa mengasah bakat-bakat yang lain sembari belajar Public Speaking.” Kataku menjelaskan kepada Rere.

Ekspresi wajahnya masih sama, lucu. “Itu doang?” Aku mengangguk ketika pertanyaan itu terlempar kepadaku. “Nggak keren banget alasannya.” Katanya datar.

“Ya emang harus kayak gimana?”

“Ya gimana kek yang keren gitu, masa alasannya gitu doang.” Dia melipat tangannya lalu matanya tajam menatap ke arah depan, dia sudah mulai sebal denganku. Aku suka ketika Rere seperti ini, seperti ada jutaan kembang api yang perlahan berada dalam pikiran dan juga hatiku, memang benar kalau kita sedang jatuh cinta apapun bisa menjadi indah, seperti sekarang wajah sebal Rere yang terus aku perhatikan.

Malam ini mernjadi malam terindah bagiku karena kencan pertama dengan perempuan pertama telah berhasil, dan mungkin aku sudah jauh lebih dekat dengan Rere, dan mungkin lagi perasaan kami sudah menyatu secara tidak langsung. Aku merasakan itu entah Rere merasakannya atau tidak. Suasan kafe malam ini ramai, karena weekend juga makanya ramainya seperti stadiun sepak bola. Orang-orang bersorak di lantai atas ketika Juventus membobol gawang Ac Milan, aku mendengarnya ketika Higuain berhasil membobol gawang Donnaruma. Tapi di balik semua itu perasaan indah bersarang dengan sangat baik di hati dan juga pikiranku, seakan menabur benih dan menjadi bunga yang indah.

Dalam sekelebat tiba-tiba ponsel Rere bergetar. Aku meliriknya, ada nama laki-laki disana yang entah aku tidak mengetahuinya. Mungkin pacarnya atau kakak atau saudara atau apapun yang berada dalam ruang lingkup hidupnya, Tapi apa benar pacanya? Pikirku tidak karuan ketika aku berusaha untuk menebak-nebak.

“Sebentar ya.” Rere mengambil ponselnya dan dia sedikit menjauh dariku agar mendapatkan ruang.

Aku masih memperhatikannya, aku cemburu? Jelas aku cemburu ketika orang yang aku taksir mendapatkan telepon dari orang lain yang aku tidak kenal, dan lebih parahnya lagi dia adalah laki-laki. Setiap laki-laki mungkin tahu kalau sedikit ada percikan-percikan api cemburu ketika nama perempuan yang dekat dengan dia menerima telepon dari orang lain. Sudah garuk-garuk meja saja aku, gigiku mulai bersentuhan membuat bunyi yang nyaring, gregetan.

“Siapa?” Tanyaku penasaran dengan orang yang menelponnya.

Dia menoleh ke arahku. “Papah.” Katanya lembut.

Aku tersenyum lega, untung bukan pacarnya. “Kenapa papah?” Aku mulai berusaha peduli terhadap dirinya.

“Suruh pulang, udah malem katanya.” Jelas Rere singkat, aku hanya mengangguk sambil membulatkan mulutku. “Yaudah yuk pulang, udah selesai juga kan makannya?” Katanya tiba-tiba.

“Eh udah-udah.” Sifat tidak enak mulai muncul dari dalam diriku, masa iya anak orang aku ajak pergi sampai larut malam, mana papahnya sudah menelpon tadi. "Gue antar ya?” Dia mengangguk sambil merapikan barang-barangnya.

Aku tersenyum sambil mengambil dompet untuk megeluarkan atm untuk membayar, kebiasaan burukku adalah tidak pernah sempat bawa uang cash, bukannya sombong tapi aku memang lebih suka yang praktis saja.

Aku bahagia malam ini karena kencan pertama berhasil, bahagia setengah mati karena mengantar Rere pulang. Tapi ada satu hal yang mengganjal hati, entah kenapa jadi kepikiran. “Papah nyuruh pulang.” Perkataan Rere layaknya tusukan pada diriku, tusukan yang tidak akan pernah bisa sembuh, lukanya akan bertahan selamanya. Selepas mengantar Rere pulang aku terduduk diam di mobil dan mengecek ponsel sambil berharap ada sesuatu yang bisa membuatku lebih bahagia lagi malam ini. “Ayah belum nelpon ya.” Kataku dengan suara pelan, perlahan rasa sakit itu datang, rasa sakit itu datang dengan cara yang tidak menyenangkan. Jelas karena datang disaat aku sedang bahagia.

Menyebalkan...

Arifin Narendra Putra

Satu

Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project dipublikasikan 18 Maret 2017
Ringkasan
Semenjak kepergian ayah 22 tahun yang lalu menyisakan luka yang teramat sangat perih bagiku. Kepergian ayah benar-benar membuatku menjadi laki-laki penakut dan cengeng waktu itu. Dan semenjak kepergian ayah tersebut aku tumbuh dengan pribadi ibu, pribadi perempuan.