Chapter 2 : Saat Kau Memintaku untuk Membenci Islam

Chapter 2 : Saat Kau Memintaku untuk Membenci Islam Chapter 2 : Saat Kau Memintaku untuk Membenci Islam

Lea, ini adalah surat kedua semenjak setahun lalu aku mengirim surat yang semoga saja telah sampai di tanganmu. Meski sembari sedikit demi sedikit aku mengikis harapan bahwa kau akan membalas suratku. Sementara aku selalu bertanya-tanya tentang bagaimana kabarmu, entah masih di rumah kecilmu ataukah kau sudah pindah ke tempat yang baru. Tak apa bagiku. Aku tetap mengirim surat ini untukmu, berharap bahwa kau tak perlu menanggung pedihnya sembilu bernama rindu, sebagaimana aku.

Lea, hampir tiga tahun semenjak aku memutuskan untuk menjauh darimu. Tak dapat kupungkiri tiap kali mengingat kenangan kita dulu, hal itu justru memunculkan candu-candu untuk merindu. Kau barang pasti tak akan mengerti, betapa berat perjuanganku untuk pergi. Namun, Lea, aku merasa ini semua sudah keharusanku untuk pergi.*

****

Lea, aku menghabiskan waktuku beberapa bulan ini untuk mengunjungi perpustakaan tiap-tiap kota. Menggugurkan berjam-jam waktu untuk membaca buku yang kuambil dari rak bertuliskan "Agama Islam". Kadang, aku harus melepas rosarioku, untuk masuk ke masjid-masjid--menyusup ketika mereka mengadakan kajian agama. Entah, mungkin kau memicingkan mata, namun aku sebenarnya terlalu takut mereka akan mengusirku jika mereka tahu tentangku.

Kau bisa saja menganggapku bodoh. Kau pun tentu mengerti betapa berat menjadi kaum minoritas apalagi di waktu seperti sekarang ini, Lea. Namun, semua hal tentang Muhammad, telah membuatku justru semakin rindu; hingga aku berusaha menemukannya di halaman-halaman dalam buku, atau di serambi-serambi tempat yang mereka sebut "majelis ilmu".

*****

"Sayang, gimana kalo suatu hari nanti aku pergi, trus tau-tau aku punya pacar lagi?", tanyamu di suatu malam.
Angin berhembus pelan. Api lilin di meja makan kita menari-nari.
"Yaaaa... Gimana ya?", aku terkekeh di ujung kalimat.
"Ih, jujur aja.", katamu sumringah.
"Mungkin aku akan menangis"
"Hidih, cowok kok nangis?"
"Yeee elu mah, nangis bukan berarti lemah kan? Itu karena aku sayang sama kamu."
Kau memalingkan muka. Mencoba menyembunyikan pipimu yang memerah yang sebenarnya masih terlihat jelas.

...

Lea, di kajian yang aku ikuti hari ini, tiba-tiba pikiranku memutar berulang-ulang kenangan kita saat itu. Adakah kamu masih ingat?

"Rasulullah begitu menyayangi umatnya.", kata seorang yang duduk bersila di hadapan kami. Mereka menyebutnya dengan ustadz atau ulama.

Lea, aku menemukan Muhammad di kalimat-kalimat yang dia ucapkan dengan lembut. Aku terpana, mendengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan dengan cermat. Beberapa kali, hatiku merasa sakit menahan getaran-getaran yang entah karena apa.

Sang Ustadz kemudian membacakan salah satu ayat Qur'an. Untunglah, dia menyebutkan bahwa ayat ini terkandung dalam Surah An-Nisa' ayat 41 sehingga aku bisa membacanya sendiri kemudian.

Menurut riwayat yang sang Ustadz ceritakan, Muhammad pernah menangis ketika dibacakan ayat ini oleh salah satu orang terdekatnya. Meski sang Ustadz juga membaca makna dari ayat tersebut, namun aku belum terlalu mengerti apa yang membuat Muhammad menangis karenanya.

Aku mengambil ponsel dari saku. Mencoba mencari Surah An-Nisa' ayat 41 lewat internet.


فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang yang durhaka nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS an-Nisa’: 41)

...

Lea, meski bagimu akan terdengar aneh, namun tanpa kusadari air mataku tumpah setelah membacanya berulang-ulang. Aku tak bisa menolak kebaikan yang dibawa oleh Muhammad melalui Islam. Aku menunduk, menyembunyikan air yang tanpa kukomando turun melewati tebing pipiku--malu dilihat oleh orang di sekitarku.

"Lantas kenapa, kita seringkali tidak sadar. Betapa Rasulullah sangat menyayangi kita sebagai umatnya.", sang Ustadz mengulang lagi kalimat yang sama.

Aku tenggelam dalam rindu dan tangis yang entah karena sedih atau haru. Ada pertempuran hebat yang terjadi jauh di lubuk hatiku.

...

Lea, aku tak tahu bahwa ternyata kajian agama hari ini diakhiri dengan salat bersama. Kontan aku menghapus air mata, membereskan barang-barang yang kubawa, untuk segera pergi.  Sayangnya, salah seorang dari mereka meneriakiku,

"Mas! Mau kemana? Kita shalat berjama'ah dulu."

Mungkin karena tak berhati-hati, rosarioku jatuh di dalam masjid. Aku tak mungkin mengambilnya. Karena aku tak kuasa membayangkan, entah bagaimana reaksi mereka, Lea.

Aku tetap berjalan, dan berusaha berlari. Air mata meleleh dari pelupuk mataku, sekali lagi.

*****
Lea, betapa Muhammad begitu menyayangi umatnya. Hingga dia tak kuasa menahan tangis, memikirkan bagaimana dia harus menjadi saksi bagi umatnya yang durhaka. Padahal apa-apa yang menjadikan mereka durhaka, adalah yang aku pahami sebagai kesalahan mereka. Muhammad dengan kerendahan hatinya memikirkan mereka semua, yang barangkali aku berada di dalamnya. Aku tak mengerti, sementara masih terjadi pertempuran hebat di dalam hatiku.

Entah apakah rinduku padamu dan rinduku pada Muhammad yang berebut tempat, atau karena hal lain.
Lea, maafkan karena ternyata aku yang harus pergi. Bukan karena aku tak menyayangimu. Aku harap kau mengerti.

...
..
(kisah ini terinspirasi dari buku "Seribu Malam untuk Muhammad" karya Fahd Pahdepie dan artikel di http://www.nu.or.id/post/read/75505/ayat-al-quran-yang-membuat-rasulullah-menangis)

Muhamad Mustain

Chapter 2 : Saat Kau Memintaku untuk Membenci Islam

Karya Muhamad Mustain Kategori Renungan dipublikasikan 17 Maret 2017
Ringkasan
Lea, ini adalah surat kedua setelah setahun surat pertama yang entah sampai di tanganmu ataukah tidak. Aku masih mencari Muhammad; di halaman-halaman yang ada di dalam buku, atau serambi tempat yang mereka sebut dengan "majelis ilmu". Adakah aku telah jatuh pada sosok Muhammad?
Dilihat 51 Kali