DIMANA ADA SAMPAH, DISITU ADA JALAN !

DIMANA ADA SAMPAH, DISITU ADA JALAN ! DIMANA ADA SAMPAH, DISITU ADA JALAN !

Ini kisah tentang negeri seribu dewa, sedangkan hamba-hambanya adalah para zombie yang selalu kehausan akan darah segar. Mereka adalah golongan terbuang dari sisa-sisa masa kejayaan para dewa-dewi. Zombie-zombie ini tidak lagi hidup membawa nyawa, melainkan hanya bernapas dengan hasil perburuan. Darah-darah segar yang dikumpulkan demi menyambung nyawa merupakan bekas tulang belulang manusia-manusia hina di zamannya. Inilah zaman dimana setiap jiwa sangat ketakutan menghadapi kematiannya. Inilah masa dimana semua kepala rela membeli tabung udara agar dapat bertahan hidup meski sedetik. Dan inilah era dimana tak ada lagi organ yang tidak diperjualbelikan, kecuali menggadaikan bagian tubuh kepada si pelelang termahal yang mampu membayar dengan harga fantastis!

Faktanya, penulis menemukan banyak organ terbuang percuma tanpa bayaran yang sempurna. Lihatlah dirimu sendiri! Berapa koin emas yang kau dapat ketika indahnya kukumu harus dipotong agar tak dimasuki tanah atau debu? Berapa lembar dolar yang kau terima demi membiarkan lentiknya bulu matamu berjatuhan? Berapa helai sutera yang kau peroleh atas setiap helai rambutmu yang rontok? Berapa banyak lagi keelokan bagian tubuhmu yang terlepas sia-sia, lalu hilang begitu saja.?!

Kecantikan dan kemolekan itulah yang kini dipertontonkan gratis, bahkan dipertunjukkan bagi siapapun yang ingin menikmatinya daripada harus terbuang percuma. Titah mereka si pejuang feminisme, ‘Yah, daripada bagian-bagian organ itu dibuang lebih baik dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesenangan orang banyak’. Tidakkah kau perhatikan ampas-ampas plastik makanan atau botol-botol minuman di sekitar rumah, ketika isinya telah habis dimakan maka wadahnya akan kembali dibersihkan, dicuci lalu digunakan kembali. Begitulah sampah diolah dengan cara paling baik, tapi toh statusnya tetaplah berlabel ‘sampah’. Maka tak salah bunyi dari slogan kebersihan yang mengajak kita semua “Buanglah sampah pada tempatnya.’ Awas! Jangan sekali-kali membuang sampah tidak pada tempatnya!!!

Sayangnya, manusia semakin cerdas. Ibarat sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, maka manusia hasil produksi abad millennium ini tidak terlalu senang menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran hanya untuk mendayung berkali-kali demi mencapai tujuannya. Mereka lebih suka mendayung cukup sekali saja, kemudian mendapatkan berpulau-pulau tujuan kemudian. Lebih instan lagi, manusia hasil produksi era instan ini pun tak peduli meski dengan sekali dayung perahu mereka harus berkali-kali bocor. Yah, tinggal ditambal, lalu kembali didayung, bocor lagi tambal lagi, bocor terus ya tambal terus. Biar cepat asal selamat, biar bocor asal singkat. Biar meluber, asal sampai. Biar bocor, biar meluber, biarkan saja. Asalkan, tetap dapat berlebih-lebih pulau. Biar asal, toh tetap sampai.

Begitulah seni berpikir manusia praktis abad 2000, sehingga tak ada cara yang paling baik selain membakarnya atau paling tidak sampah itu dikubur agar ia mengendap menjadi pupuk organik bagi kesehatan tanaman setelahnya. Ya, sampah seharusnya diendapkan terlebih dahulu sampai ia berubah bersama zat didalam tanah kemudian  dimanfaatkan dalam keadaan paling baik. Barulah ia mampu memberi manfaat terbaik bagi kehidupan organisme di sekelilingnya.

Namun tidak demikian pada lingkungan kotor yang sudah terlanjur dipenuhi sampah, penuh aroma busuk. Mereka menjadikan tumpukan sampah sebagai tempat ternyaman untuk alas tidur, menjadikannya mainan sekaligus menjajanya seperti makanan pasaran. Agar sampah tampak tetap cantik, mereka meletakkannya didalam akuarium buatan yang selalu diberi air tawar terbersih. Sampah-sampah ini mau tidak mau harus diberi perlakuan terbaik agar mereka tetap bertahan hidup didalam akuarium mainan si majikan, tuan-nya empunya sampah.

Nah, tumpukan sampah ini semakin hari semakin banyak kita temui berkeliaran dimanapun. Tak lagi berkeliaran saat malam hari dan sembunyi saat siang, rasanya sudah basi. Hari ini pun sampah itu mungkin bisa kau temukan di tempat-tempat yang tak lazim seperti gedung-gedung yang katanya sih ‘terhormat’. Didalam gedung-gedung itulah berkumpulnya pelelang sampah. Saking terhormatnya kursi yang mereka duduki, maka tak satu pun sampah yang rela dibiarkan tak terpakai. Sampah jenis apapun mereka fungsikan dengan tujuan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan rakyat. Rakyat yang mana??!!!

Bila dibandingkan harga setiap bagian organ dengan harga ide-ide para aktivis murahan di tengah jalan, mereka sibuk berorasi sambil terus mengusap cucuran keringat yang membasahi hampir seluruh tubuh. Turun ke jalan tanpa ada yang menyuruh, berbicara lantang tanpa perintah, mulut-mulutnya tak pernah jera dibungkam oleh ketukan-ketukan palu meja hijau. Telinga-telinganya selalu kebal atas caci-makian orang-orang yang tak punya idealisme. Sebut saja mereka ‘haters’, pembenci otak-otak idealis. Jangankan dibayar, bahkan mereka lebih senang dibekukan kemudian dimatikan pemikirannya. Tanpa upah, tanpa bayaran, ikhlasnya tak terhingga. Katanya sih, ‘karena Alloh’. Lillaahita’alaa… dijawab sama penghuni gedungnya toh, ‘cuman untuk rakyat, demi rakyat..’ Sekalilagi, rakyat yang mana?!!

Baiq Dwi Suci

DIMANA ADA SAMPAH, DISITU ADA JALAN !

Karya Baiq Dwi Suci Kategori Renungan dipublikasikan 11 Maret 2017
Ringkasan
Awas! Jangan sekali-kali membuang sampah tidak pada tempatnya!!!
Dilihat 27 Kali