Menjabarkan Logika Terbolak-balik, Tentang (Siapa) Yang (Benar)?

Menjabarkan Logika Terbolak-balik,  Tentang (Siapa) Yang (Benar)? Menjabarkan Logika Terbolak-balik,  Tentang (Siapa) Yang (Benar)?

Kebenaran bukan ukuran kemutlakan premis, melainkan hanya sekedar penilaian singkat di atas lisan. Benar, bahasamu menunjukkan status lisanmu menjadi dapat dipercaya tidaknya tergantung pada setinggi apa kemampuan bahasa seseorang. Benar, bukan?

Kebenaran yaitu ke-benar-an, menuju ke (pada) hal yang sifatnya benar. Apakah fakta aktual yang benar, opini yang benar, atau teori yang benar? Objek apa dan subjek siapa yang B-E-N-A-R? Siapakah pelaku pemberi kabar yang benar, apakah disampaikan kepada objek yang benar, lalu diteruskan kepada orang ketiga yang menganggap sebarannya itu (benar)?

Benar adalah sebuah nilai kongkrit yang disahkan, akan tetapi nilai kebenarannya tergantung masing-masing kepala menyebutnya benar atau salah? Kita sebut saja, pengampu kekuatan selalu benar. Pengampunya bagian dari subjek, kekuatan di antaranya merupakan bagian dari objek ke(benar)an. Siapa dan apa dalam sepaket data ‘kebetulan’ benar, bisa jadi benar-benar salah. Hanya ‘kebetulan’, yang salah kemudian menjadi benar. Atau sebaliknya, kesalahan diterangkan sebagai suatu kebenaran sementara, bukan benar yang sifatnya permanen. Benar begitu, kan?

Menerangkan peristiwa politik yang sifatnya benar saja, hanya akan menjadikan kebenaran itu rancu di hadapan orang ketiga. Bernilai ganda, artinya kebenaran yang pura-pura diciptakan akibat kejadian politik bernilai tak tetap. Karna nilai kebenaran tidak pernah tetap, dengan kata lain nilainya benar sementara saja. Lalu, apa dan siapa yang benar secara permanen?

Opini yang sampai di hadapan pembaca ini pun belum tentu benar. Silahkan melahirkan nilai dan keputusan masing-masing, benar atau tidak benar, toh manusia hanya makhluk yang diperintah benar namun terkadang tak mau dibenarkan. Jangan terobsesi menganggap diri kita benar, karna penilai kebenaran teratas yang paling berhak menarik premis kebenaran atau kesalahan hanya TUHAN Yang Maha Benar. DIA Yang Maha Benar, pun DIA Yang Maha Esa, Satu, Tunggal keberadaannya.

Keberadaan Yang Maha Benar adalah satu-satunya nilai kebenaran yang bersifat statis, tidak berubah meskipun orang-orang yang (merasa) benar menganggap premis tersebut sebagai ketidakbenaran.

Benar, diri kita hasil produksi Yang Maha Benar. Maka kebenarannya adalah membenarkan apapun yang datang dari DIA Yang Maha Benar. Tidak hanya membenarkan, tetapi meyakini kebenaran itu seluruhnya. Yang Maha Benar menunjukkan banyak sekali kebenaran, bukan satu, dua, atau setengahnya.

Pemilik Kebenaran permanen adalah Yang Satu, sedangkan daftar nilai kebenarannya lebih dari diriNya. Semua hal yang diproduksi dan diciptakanNya menjadi kebenaran tunggal, meskipun masih ada yang mengingkari ketunggalan itu benar atau masih perlu dibuktikan agar menjadi benar.

Benar, satu huruf yang disambungkan membentuk premis dalam kitabNya. Benar pula, sebaris ayat yang dirangkaikan membentuk sebenar-benarnya pernyataan. Dan benar, setiap surah yang dikisahkan menjadi sebaik-baik hikmah yang paling benar untuk diyakini ketepatannya. Oleh karenanya trilyunan otak saintis telah mendeteksi mushaf yang dianggap benar tadi, sehingga diakuratkan ke dalam deretan angka yang dinaikkan statusnya menjadi “valid” atau memiliki “reliabilitas tinggi”, kemudian kebenarannya dapat dipercaya dan teruji.

Muncul premis yang dipatenkan dijadikan patokan, bahwa kebenaran itu teruji dan dapat dipercaya. Diuji kebenaran siapa yang paling bisa dipercaya, kebenaran mana yang paling tepat dan tertinggi nilai reliabilitasnya, barulah kemudian ia bernilai sangat tinggi kebenarannya.

Maka kitab DIA Yang Maha Benar sudah teruji keabsahannya, selalu memberikan pembuktian benar ‘bahkan’ sebelum manusia meneliti di laboratorium kebenaran mereka sendiri. DIA Yang Maha Benar dapat dipercaya sekalipun dengan atau tanpa dilakukan pembuktian atas kebenaran tersebut. Kebenaran Tuhan selalu terbukti tak terbantahkan nilai ketepatannya. Itulah yang disebut dengan kebenaran.

Kebenaran pertama, teruji dan dipercaya bahwa kita meyakini kebenaran itu datangnya dari Pemilik Kebenaran Yang Tunggal. Bukan tidak mungkin, proses menemukan kebenaran itu datangnya dari kepercayaan yang selalu benar teruji sekaligus dipercaya, yakni islam rahmatan lil’alaamiin. Islam yang benar, rahmat untuk seluruh alam. Rahmatnya sudah kita rasakan, teruji dan dipercaya mendatangkan kenikmatan saat berislam ataupun selama menjalankan islam sebagai aturan, itulah kebenarannya.

Islam sebagai objek kebenaran dilaksanakan oleh subjek-subjek yang memilih islam sebagai jalan menuju kebenaran. Apabila islam adalah objek, maka muslim dan muslimah adalah subjek dari islam itu pastinya. Kita bisa saja membalikkan susunan gramatikalnya, karna aturan manusia biasanya bersifat sesuka hati, dibuat kalau membuat mereka senang dan aman, tidak dilaksanakan kalau menjadikan mereka terasingkan atau (merasa) teraniaya. Itulah kebenaran gramatikalnya.

 Saya tawarkan gramatikal menerangkan atau diterangkan seperti ini:

  1. Subjek Predikat Objek, artinya premis yang berlaku adalah “Manusia Memilih Islam Karna Benar.”
  2. Objek Predikat Subjek, artinya premis yang berlaku adalah “Islam Dipilih Manusia Karna Benar.”

Aturan tata bahasa manusia selalu seperti itu, dimanapun wilayah tinggalnya. Itulah  kebenarannya, bahwa manusia tidak bisa memilih antara dibenarkan atau membenarkan, karena tugas kita hanya cukup menentukan diri sebagai subjek atau objek untuk menentukan cara yang benar dalam menemukan kebenaran permanen. Kebenaran mutlak yang tidak bisa diubah-ubah adalah islam sebagai suatu kebenaran. DIA Yang Maha Benar menciptakan islam sebagai jalan kebenaran yang nyata, tanpa terputus kebenarannya. Islam menjadi kebenaran tunggal yang sampai kapanpun akan tetap benar karena datangnya dari Yang Maha Benar, maka setiap pemilihnya yang berada di jalan islam adalah orang-orang yang menjalankan kebenaran islam secara paripurna tentunya. Islam yang paripurna datangnya dari Pemilik Kebenaran Yang Tunggal, itulah kebenaran yang paripurna.

 

Islam Paripurna

Islam sebagai suatu kebenaran, tidak menampilkan kebenaran di awal kejayaannya saja. Justru totalitas kebenaran islam ditampilkan sebagai suatu kebenaran paripurna yang menyeluruh benarnya, tiada keraguan didalamnya. Apabila ragu, kembalilah pada keparipurnaan islam sebagai suatu kebenaran yang selalu menunjukkan kita cara berpikir yang benar. Berpikir lebih total, alfikrul mustaniir, melahirkan pemikiran yang cemerlang dalam menemukan kebenaran-kebenaran milik islam. Hak cipta islam yang benar merupakan milik Penciptanya Yang Maha Benar, selanjutnya keislaman kita sebagai manusia yang berpikir cemerlang harus lebih meyakini aturan-aturan islam sebagai kebenaran mutlak tak tergantikan sepanjang zaman. Menaati aturan islam secara paripurna adalah bentuk totalitas kita meyakini suatu kebenaran permanen dari Pemilik Kebenaran, melaksanakannya pun dengan menyeluruh tanpa meniadakan satu atau yang lainnya. Barulah kita menjadi muslim muslimah yang paripurna! Wallahu’alaam…

 

Baiq Dwi Suci

Menjabarkan Logika Terbolak-balik, Tentang (Siapa) Yang (Benar)?

Karya Baiq Dwi Suci Kategori Renungan dipublikasikan 11 Maret 2017
Ringkasan
Kebenaran yaitu ke-benar-an, menuju ke (pada) hal yang sifatnya benar. Apakah fakta aktual yang benar, opini yang benar, atau teori yang benar? Objek apa dan subjek siapa yang B-E-N-A-R? Siapakah pelaku pemberi kabar yang benar, apakah disampaikan kepada objek yang benar, lalu di
Dilihat 37 Kali