Zaman Keba(L)ikan

Zaman Keba(L)ikan

Zaman sekarang, siapa yang tidak mempunyai HP? Zaman sekarang siapa yang tidak menggunakan internet? Zaman sekarang siapa yang tidak memiliki sosial media? Ada pasti, tapi sedikit dari yang banyak sekali. Akses informasi begitu mudah sekarang. Semua orang pun bebas menyebarkan berbagai hal. Tentu ada yang menyebarkan hal-hal yang bermanfaat tapi tak sedikit yang juga menyebarkan hal-hal penuh mudharat. Kita harus sadari itu. Kita harus bisa memfilter diri, mana-mana saja hal-hal yang perlu kita serap dan hal-hal yang perlu kita buang.

Namun, nyatanya remaja sekarang kebanyakan tidak memiliki “saringan tersebut” kebanyakan justru berkiblat pada apa yang dibacanya, diketahuinya melalui sosial media. Ah ya, memang hal ini juga tak lepas dari peran orang tua sebagai kontrol selain remaja sendiri. Bagaimana seharusnya orang tua menanamkan filter yang baik untuk memberikan “saringan” terhadap arus informasi yang begitu deras baik yang penuh manfaat maupun yang tidak.

Remaja sekarang tidak bisa dikekang dengan keras karena kecenderungannya untuk memberontak akan sangat besar, pun tak bisa terlalu dilepas karena bisa kebablasan. Sulit memang untuk menyeimbangkan. Orang tua harus tahu kapan harus keras, dan kapan harus lunak. Orang tua harus tahu kapan harus mengizinkan kapan harus melarang. Ini juga berlaku pada anak-anak remaja sekarang harus tahu dimana posisinya, sehingga bisa menempatkan dan membawa diri dengan baik dimasyarakat. Bukan hanya menjadi pengikut di salah satu pihak, menjadi penghujat pihak lain, membela mati-matian sosok yang dikaguminya dengan fanatik, asal-asalan mengikuti tren yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran, dan menyepelekan nilai-nilai agama yang harusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita harus ingat bagaimana Ismail dan Ibrahim bekerja sama membangun baitullah, atau yang sekarang kita kenal dengan Ka’bah, kiblat seluruh umat islam didunia. Bagaimana mereka berdua bersama-sama membangun, menyebarkan ketauhidan ke seluruh dunia, bagaimana sebagai unit terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga, mampu memberikan kebaikan kepada sesama. Pengabdiannya kepada Yang Maha Esa, dengan tunduknya beliau untuk melaksanakan perintahNya untuk menyembelih Ismail. Bisa bayangkan bukan bagaimana perasaan Ibrahim menyembelih anaknya sendiri? Namun karena keikhlasannya, Allah menggantikannya dengan yang lebih baik, menggantikan Ismail dengan seekor hewan. Orang tua memang sejatinya akan selalu melakukan pengorbanan layaknya Ibrahim kepada Ismail. Entah itu perasaan, harta, tenaga dan banyak hal. Ornag tua harus sadar betul, bahwa setiap marahnya, setiap larangannya, setiap hukumannya merupakan wujud cinta kasih dan keikhlasan kepada anaknya, merupakan wujud ketaatan kepada Allah untuk mendidik titipanNya. Bukan semata-mata hanya memanjakan, memberikan makan dan uang, memberikan kebebasan atau sebaliknya, mengekang terlalu keras, melarang anaknya melakukan berbagai hal.

Disisi lain, anak pun harus berbakti kepada orang tua, layaknya Ibrahim, meskipun Ayahnya merupakan penyembah berhala, beliau tetap hormat dan menyayangi Ayahnya, atau layaknya Ismail yang memiliki Ayah seorang Nabi juga hormat dan kasih kepada Ayahnya. Ismail yang patuh kepada Ayahnya ketika melakukan perintah penyembelihan, juga Ibrahim yang berani mengatakan bahwa apa yang dianut Ayahnya bukan hal yang benar. Ibrahim yang tahu bagaimana “memberontak” dengan benar. Anak harus tahu kapan menjadi Ismail kepada Ibrahim dan kapan menjadi Ibrahim kepada Ayahnya.

Lihatlah Ibrahim yang garis keturunannya melahirkan keturunan-keturunan terbaik yang menjadi Wakil Allah di Bumi ini atau akrab kita sebut Nabi dan Rasul. Ya, keturunan terbaik dihasilkan oleh pendidikan terbaik. Pendidikan ini luas ya, bukan terbatas disekolahkan ditempat terbaik tapi lihatlah bagaimana Ibrahim mendidik Ismail juga Ishak. Bagaimana Ibrahim membangun kebaikan-kebaikan, hingga keturunannya pun melanjutkan kebaikan-kebaikan itu. Seorang Ibrahim yang Ayahnya seorang penyembah berhala atau Ismail yang Ayahnya seorang Nabi.

Yang saya tekankan disini adalah siapapun kamu dapat melakukan kebaikan, pun sekelas yang memiliki Ayah seorang penyembah berhala pun yang memiliki Ayah seorang Nabi, yang memiliki suami sekelas Fir’aun, ya istrinya yang bernama Asiyah ibu susuan Musa merupakan salah satu wanita terbaik, pun sekelas Aisyah, istri seorang Muhammad Rasulullah, atau Luth, Nuh, suami dari seorang istri dan anaknya yang jelas jelas mendustakan Allah.

Keluarga merupakan komponen penting, namun individu yang baik bisa lahir dimana saja. Remaja merupakan fase yang sangat penting untuk belajar banyak hal. Kebaikan juga keburukan. Jangan kalian anti kepada keburukan, jangan kalian hujat orang yang melakukan keburukan, hujat sifatnya, bukan individunya. Menurut saya, mungkin saja salah satu alasan Allah menciptakan Iblis adalah untuk mengajarkan keburukan yang tidak mungkin diajarkan melalui malaikat. Dari Iblis kita jadi tahu mana saja hal yang tidak boleh dilakukan. Mana saja hal-hal yang akan membangkitkan murka Allah.

Hanin Septina

Zaman Keba(L)ikan

Karya Hanin Septina Kategori Catatan Harian dipublikasikan 10 Maret 2017
Ringkasan
Potongan Kisah Perjalanan Cinta
Dilihat 12 Kali