Stigmata

Stigmata Stigmata

Dia menjerit ketika darah mengucur dari luka yang mendadak muncul di telapak tangan  dan punggung kakinya. Kutukan meluncur dari bibirnya yang hitam bercampur litani ayat-ayat suci dalam bahasa yang terlupakan kecuali oleh beberapa penguasa pustaka rahasia kitab kuna. 

Tetangga menonton dari luar melalu kaca jendela sambil bergidik ngeri. Seorang ibu menutup mata anaknya yang memberontak penuh rasa ingin tahu, dan seorang ibu lainnya menutup telinga bayinya yang terjaga oleh suara teriakan yang bergema dari dunia lain. Mereka berbisik-bisik: dia orang baik yang dermawan, saleh dan beriman.

Amarah yang meledak merusak kulit menjadi retak-retak, pembuluh nadi membiru menonjol ke permukaan bagai tato abstrak, melawan serangan doa dan mantra sekelompok imam dan pendeta yang berpeluh di bawah kenangan, teror dan sifat mahatahu yang dimonopoli. Transfer energi dilempar pada target yang berbeda: makhluk tak kasat mata kecuali cermin jiwa yang bersayap, bertanduk atau berekor, memegang trisula atau cambuk api atau gada besi atau beliung gerigi.

Sayap-sayap mengepak memompa udara, memercikkan darah segar memerah ke langit-langit ruang tengah. Suaranya telah berubah, serak-serak basah, menggeram, mendesah sebelum menggebrak rendah pada frekuensi audio yang hanay didengar oleh gajah dan makhluk-makhluk astral.  

Dia berbicara sebagai Aku, dan meyakinkan pendengar dan pemirsa bahwa Aku tak pernah pergi.  Aku mempunyai beragam wajah namun tak pernah berubah.

Penampakan citra wajah di langit-langit yang terbentuk dari noda darah. Dia tidak mengerti tentang Aku, jari-jarinya bergerak bagai menyusun potongan permainan teka-teki meski tidak beraturan. Akhirnya dia bernapas normal.

Ketika gelas penuh berisi air yang telah diludahi imam dan pendeta disemburkan ke mukanya, dia mendadak murka. Sekonyong-konyong langit gelap gulita, petir sambar menyambar membakar oksigen di udara. Guntur membahana memecahkan timpani telinga, awan hitam laksana ombak menggulung kaki cakrawala menutup jalan ke surga.

Dia bukan Aku, justru sebaliknya.

Karena Aku tak bingung untuk dipahami, dan tak takut untuk ditinggalkan.

 

Bandung, 9 Maret 2017

 *Stigmata: dari bahasa Yunani (στιγμα: "tanda" or "bercak"; majemuk: stigmata, στιγματα) mengandung beberapa arti. Istilah ini berasal dari tanda-tanda yang dimiliki seseorang pada tubuhnya (bekas bakaran atau torehan) yang antara lain menandakan bahwa orang itu adalah budak, penjahat, atau pengkhianat.(dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Ikhwanul Halim

Stigmata

Karya Ikhwanul Halim Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 10 Maret 2017
Ringkasan
Stigmata: dari bahasa Yunani (στιγμα: "tanda" or "bercak"; majemuk: stigmata, στιγματα) mengandung beberapa arti. Istilah ini berasal dari tanda-tanda yang dimiliki seseorang pada tubuhnya (bekas bakaran atau torehan)