Membaca: Melawan Lupa

Membaca: Melawan Lupa Membaca: Melawan Lupa

“Buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai, tapi membuat kita tahu: kita hanyalah penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya. Itu sebabnya kata pertama yang menakjubkan adalah: “BACALAH””.

— Goenawan Mohamad

 

Memperbanyak referensi entah melalui menelaah buku, menonton, berdiskusi, interview, hingga observasi nyatanya membuat kita terlihat bodoh. Semuanya tak lain adalah definisi membaca dalam artian yang tidak sempit. Karena membaca secara luas meliputi mengeja tak hanya apa yang tersurat saja tapi meliputi hal-hal yang juga memiliki kandungan informasi tersembunyi. Lalu apa pasal dengan bodoh? Masalah? Iya, masalah kalau lantas berhenti pada kata itu. Sementara jika merasa bodoh menjadi awalan kita untuk ingin mengetahui kebenaran, bukankah itu bagus?

Memang seharusnya kita tidak cepat merasa pintar sebagai dorongan untuk terus mencari. Mencari dan menggali apapun yang kita anggap sebagai kebenaran, begitu seterusnya. Merasakan diri ini kosong sehingga harus terus diisi. Hingga akhirnya teko pengetahuan kita penuh dan luber dengan sendirinya serta menuntut untuk disalurkan. Inilah yang mendorong hati akhirnya terpanggil untuk berbagi.

Kalau haus akan air kita cukup minum segelas saja untuk meredakannya. Namun tidak begitu dengan haus akan pengetahuan. Segelas saja tidak cukup buat menghilangkannya. Bahkan sebanyak air di lautan pun, tidak ada istilah serakah dalam mereguk ilmu. Kalaupun ada, definisi serakah di sana sama sekali tidak tercela, justru sangat dianjurkan.

Ilmu bersifat seperti air, mengalir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ia menempati ruang-ruang kosong dan istiqomah memberikan kesegaran pada apa-apa yang dilintasinya. Wajar saja proses mendapatkannya tak pernah mudah. Ada banyak godaan. Wong sifat ilmu itu mulia. Cara memperolehnya pun tentu perlu perjuangan.

Semakin saya menambah intensitas membaca sebagai ikhtiar menambah input informasi, ternyata memang hakikatnya saya tengah pelan-pelan menanggalkan ketidaktahuan yang menempel di diri saya. Saya jadi tahu bahwa saya begitu tidak tahu apa-apa. Saya jadi mengutuk diri sendiri pada akhirnya, sudah sebanyak apa kata-kata yang masuk ke dalam otak saya? Mengisi sela-sela kepala yang masih sangat perawan belum terjamah. Membuat pikiran sesak dengan pengetahuan yang masak. Saya rasa hidup selama ini hanya dipenuhi dengan menuruti malas yang berujung kesia-siaan dan penyesalan.

Waktu yang telah dibentangkan Tuhan sebagai jatah hidup saya lebih banyak terbuang percuma ketimbang diisi dengan menoreh karya-karya bermanfaat, melahap bacaan-bacaan yang membawa maslahat. Waktu sebagai modal berharga meraih bahagia malah dihabiskan tanpa memperoleh timbal balik yang setimpal. Saya merasa hidup di dunia ini hanya menjadi bagian orang-orang penyebab masalah, alih-alih turut serta mencari jalan keluarnya.

“Bacalah!” Demikian sabda Allah pertama yang diturunkan kepada junjungan kita. Perintah yang mengandung makna berlimpah. Dengan penghayatan total atas suruhan itu tak sedikit mengantarkan pengamalnya bermetamorfosis menjadi rupa yang sempurna, melahirkan sumbangan perubahan yang tidak sedikit bagi dunia. Lalu alasan apalagi yang membuat kita enggan meluangkan sejenak waktu untuk membaca? Menyerap wawasan sebanyak-banyaknya.  Ah, ini nasihat yang sungguh berat.

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 7 Maret 2017

 

sumber gambar: dokumentasi Planet Antariksa 

Muhammad Irfan Ilmy

Membaca: Melawan Lupa

Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian dipublikasikan 09 Maret 2017
Ringkasan
“Bacalah!” Demikian sabda Allah pertama yang diturunkan kepada junjungan kita. Perintah yang mengandung makna berlimpah. Dengan penghayatan total atas suruhan itu tak sedikit mengantarkan pengamalnya bermetamorfosis menjadi rupa yang sempurna, melahirkan perubahan bagi dunia.
Dilihat 22 Kali