Utopia

Utopia Utopia

Aku senang berbicara dan berdebat dengan diriku sendiri. Tentu saja semuanya hanya terjadi di dalam kepalaku. Tidak akan pernah aku mengeluarkan suara nyata hasil dari komunikasi dengan diriku sendiri. Aku masih ingin orang 'normal' menganggap keberadaanku sama saja seperti mereka. Apa aku gila? Tidak. Aku masih bisa melakukan kalkulasi dengan benar, aku masih bisa menuturkan tabel periodik secara urut, yang paling penting aku terlalu handal dalam memberikan senyuman menenangkan dan menjawab pertanyaan nada khawatir dari orang-orang sekelilingku dengan kalimat "aku baik-baik saja."

Akhir-akhir ini perdebatan yang terjadi di kepalaku semakin sering dan membuatku sakit kepala yang berujung dengan menghabiskan bergelas-gelas kopi kental hingga saat malam tiba mataku sulit untuk dibujuk agar segera terpejam. Bahkan setelah menenggak pil tidur, aku masih tetap terjaga. Lalu mimpi buruk akan menghampiriku tanpa perlu bersusah payah tidur. Saat pagi tiba aku akan beraktivitas seperti biasa, menjalani rutinitas dengan penampilan setengah zombie.

Putaran kehidupan menyedihkan ini terjadi sejak tiga bulan yang lalu. Sejak dia mengepak sweater biru kesayangannya yang selalu kupinjam saat kami keluar di tengah malam menikmati terpaan angin malam di jalanan yang mulai sepi dengan Nissan Murano yang dibelinya bekas tiga tahun yang lalu saat pertama kali dia memutuskan untuk pindah dan tinggal denganku. Aku masih ingat bagaimana wajahnya tertekuk kaku saat mengumpulkan semua barang-barangnya tanpa berani sedikitpun mengangkat wajahnya dan menatapku. Saat itu aku tak lagi bersimbah air mata yang telah kutumpahkan pada malam sebelumnya, yang ada hanya wajah suram dengan hati mati rasa akibat penyangkalan kesedihan yang mampu membunuhku di tempat.

Perdebatan di kepalaku terasa semakin keras mungkin karena ketidakhadirannya di hari-hariku yang mampu meredam kegilaan dengan mengajakku menyuarakan segala pikiranku padanya. Dia memang bukan lawan berdebat yang asyik, namun harus aku akui dia adalah pendengar yang luar biasa saat itu. Dia bukan tipe laki-laki yang suka membaca atau menonton film-film fantasi dan sci-fi seperti yang biasa kulakukan dengan tujuan bukan hanya sekedar hiburan di akhir pekan namun juga untuk menambah wawasanku. Dia hanya laki-laki 'normal' yang menikmati rutinitasnya sebagai teknisi IT di perusahaan yang menurutku sangat membosankan.

Aku hapal rutinitasnya, pada pagi hari dia akan bangun dan mengecupku singkat lalu sementara dia mandi, tak lupa dia menyalakan mesin pembuat kopi. Saat dia sudah rapi berpakaian, aku akan bergabung dengannya untuk menikmati kopi kami berdua. Kemudian dia akan kembali mengecupku singkat dan mengucapkan sampai jumpa dan semoga hariku menyenangkan, lalu dia akan mengejar kereta ketiga hari itu menuju kantornya.

Laki-laki yang benar-benar 'normal' dalam kehidupanku yang dalam bahasanya sejenis utopia dengan hanya aku penghuninya. Dia benar, kehidupanku adalah utopia dengan hanya aku yang mampu tinggal dan memahaminya. Bagi yang awam, aku mungkin dianggap nyentrik. Bagi yang punya sedikit wawasan, aku dianggap kreatif namun tak logis. Meski dia 'normal' dan tampak membosankan, aku bertahan dengannya saat itu. Mengapa? Karena aku tak yakin akan ada yang mampu menerimaku seperti dia.

Aku aneh, terlalu idealis, tidak logis dan kreativitasku sulit menemukan penikmatnya. Begitulah kata orang-orang 'normal' di luar sana. Aku tak ingin semua ungkapan orang-orang padaku mempengaruhi pilihan hidupku. Toh, aku masih hidup, masih menjejakkan kedua kakiku di sini, keberadaanku masih diakui negara, dan aku tidak meminta uang mereka untuk makan atau sekedar menghabiskan sekian ratus ribu untuk sebatang lipstik yang aku inginkan. Paling tidak itu kata-kata yang selalu dikatakannya berulang kali padaku saat aku mempertanyakan pilihan-pilihan yang kuambil dalam hidupku. Ya, dia 'normal', namun dia memahamiku. Aku tidak meminta apa-apa lagi padanya.

Setelah semua yang dia lakukan untukku, memahami dan menerimaku apa adanya, aku berpikir bahwa dia akan selalu ada untukku. Dia tidak akan meninggalkanku. Bagiku saat itu, meski kami berbeda, dia 'normal' dan aku 'gila', dia adalah belahan jiwaku. Dia adalah kepingan puzzle yang hilang dari hidupku dan kini telah kutemukan. Meski aku benci dengan pernyataan bahagia selamanya, aku tetap menganggap bahwa kami akan bahagia selamanya meski ada hari-hari buruk yang harus kami jalani. Lalu saat dia memutuskan pergi, aku tak pernah siap. Aku selalu membuat banyak skenario dalam otakku namun skenario dia akan meninggalkanku tak pernah terpikirkan olehku. Aku hanya sempat memikirkan skenario di mana aku yang meninggalkannya, bukan dia yang meninggalkanku.

Aku tidak pernah mendeskripsikan diriku sebagai orang yang membosankan. Aku punya seratus ide berbeda hanya dalam waktu 1x24 jam. Aku orang dengan pemikiran paling terbuka yang akan pernah orang-orang temui meski dalam pikiranku sibuk menghakimi jika seseorang terlalu bodoh dan naif saat berbicara padaku, namun aku sangat menghargai kejujuran dan kebaikan hati orang lain. Dengan kelebihan seperti itu, aku tidak akan menganggap hubungan kami membosankan dan jelas kata bosan harus dicoret dari daftar pertama alasan dia meninggalkanku.

Entah mengapa aku merasa seperti dipermainkan oleh akting dan pengaburan perasaanku sendiri. Aku sadar akan perubahan sikapnya yang janggal sebelum dia pergi. Sehari sebelum dia mengepak barang-barangnya, dia menyodorkan padaku selembar surat dari kantornya.

Aku menatapnya bingung. "Ini apa?"

"Baca terus."

Aku membaca surat yang menyatakan bahwa dia mendapatkan promosi dan kenaikan gaji.

"Wow, selamat." Kataku sambil memberikan senyum terbaikku.

Dia hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan. "Kamu tidak mengerti."

Aku mulai menangkap ada hal yang tidak beres dari semua ini namun otakku gagal menyusun skenario apa yang sedang kami lakoni saat ini. "Excuse me?" 

"Promosi dan kenaikan gaji, dengan syarat aku pindah tempat tugas."

Aku menggigit bagian dalam pipiku. "Yeah, so?" 

"Kamu belum mengerti juga? Itu artinya aku harus pergi meninggalkan kota ini dan..." Dia berhenti sejenak. "Dan juga meninggalkanmu."

Aku tertawa. "Ya ampun, itu bukan masalah besar. Tentu saja aku akan ikut pindah jika itu maumu."

Dia menggeleng lagi. "Tidak, kamu tidak mungkin meninggalkan kehidupanmu di sini."

"Itu kah yang kamu khawatirkan?" Aku tersenyum lalu melanjutkan. "Aku tidak masalah meninggalkan kehidupan kita di sini. Kehidupanku itu di mana ada kamu dan duniaku. Itulah mengapa aku punya pekerjaan freelance dan bisa kukerjakan di mana saja. Kamu tidak perlu khawatir."

Dia menatapku kaku, aku bisa merasakan senyuman di wajahku perlahan pudar. Aku sangat mengenalnya, dan tatapan yang dia berikan padaku saat kami berbicara ini tak pernah kuterima sebelumnya.

"Aku tidak ingin kamu ikut denganku. Aku tidak ingin ada kamu lagi di kehidupan yang akan kujalani ke depannya. Aku ingin kita berpisah."

Kata-kata yang keluar dari bibirnya bagaikan hantaman bom yang menyerang sisi diriku yang sedang terlelap dalam kedamaian. Realita yang terjadi langsung membuatku terjaga dan pelan-pelan kurasakan bahwa hatiku terluka dan lumpuh. Aku tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Tidak kuminta dia berpikir ulang dengan keputusannya, tidak kuminta dia agar menjelaskan lebih lanjut mengapa dia mengambil keputusan itu, dan tidak kupaksa dia agar tetap bersamaku. Aku hanya meninggalkannya dan mengurung diriku di dalam ruangan yang berfungsi sebagai studio seniku sementara dia mulai sibuk mengumpulkan dan mengepak semua barang-barangnya.

Aku menangis semalaman dan menolak keluar meski dia memanggil dan membujukku berulang kali hingga akhirnya aku jatuh tertidur. Saat cahaya matahari perlahan masuk dari tirai jendela studioku, aku terjaga dan memutuskan untuk keluar. Aku melihatnya memasukkan sweater biru itu ke dalam kopernya lalu semuanya usai. Dia telah selesai berkemas dan kata-kata yang keluar dari bibirnya bagai dengungan yang hanya samar-samar aku mengerti. Dia mengucapkan kalimat perpisahan dan maaf padaku. Lalu dia pergi dan aku masih berdiri di tempatku masih dengan bibir terkunci dan hati yang terasa kebas.

Sebulan pertama sejak kepergiannya aku berada dalam fase kebingungan. Aku tak bisa berpikir dan segala perdebatan yang biasa aku lakukan dengan diriku sendiri mendadak senyap dan dunia terasa begitu senyi. Malam-malamku tanpanya terasa aneh namun hatiku terlalu kebas untuk merasakan kesedihan. Rutinitasku terasa aneh, tak ada lagi kecupan darinya saat akan tidur dan saat bangun di pagi hari. Tak ada lagi suara air dari pancuran yang kudengar saat dia mandi di pagi hari yang menjadi white noise dan melenakan tidurku yang hampir terjaga. Tak ada lagi aroma kopi yang diseduhnya yang akhirnya membuatku terjaga seutuhnya. Tak ada lagi yang mengucapkan semoga hariku menyenangkan. Tak ada lagi laki-laki 'normal' yang mampu mendengar segala kegilaan yang disuarakan oleh pikiranku. Yang terpenting, semua skenario yang tercipta di otakku tentang kehidupan yang melibatkannya musnah tak bersisa.

Dua bulan kemudian, suara-suara dari pikiranku kembali. Kali ini begitu berisik dan mampu mengganggu keseimbangan utopia yang telah kuciptakan. Pikiranku begitu sibuk mendebat berbagai hal yang terlintas di pikiranku. Suara-suara itu berdebat mulai dari menu apa yang akan kusantap, apakah harus kumasak sendiri atau delivery saja hingga seribu alasan kemungkinan mengapa dia meninggalkanku. Perdebatan itu juga disertai penyangkalan tentang siapa yang salah, tentang alasan-alasanku mengapa tak berusaha memintanya tetap tinggal, tentang bungkamnya diriku dan sebab-sebab mengapa kini hatiku terasa kebas dan mati rasa. Aku tidak melawan semua debat itu dan tidak berusaha membela diriku dari penghakiman pikiranku sendiri.

Dua bulan berlalu, aku masih tetap dalam masa penyangkalan dan berusaha mengabaikan perdebatan yang semakin sengit. Suara-suara itu marah dengan diriku sendiri yang masih terus memilih diam dan membiarkan diriku saat aku terpojok dengan debat pikiranku sendiri. Aku masih mati rasa meskipun rutinitasku mulai membiasakan diri tanpa kehadirannya. Apakah aku baik-baik saja? Ya, rasanya begitu meskipun aku hampir gila dengan pikiranku sendiri. Apakah kepergiannya menyakitiku? Ya, benar, tapi aku bisa mengatasinya. Apa aku telah terbiasa tanpa dirinya? Ya, bahkan aku sudah punya rutinitas baru tanpa melibatkan dirinya. Apa aku akan menerima semua ini begitu saja? Tentu saja, sejak hari di mana dia pergi, aku sudah memutuskan bahwa hidup harus tetap berlanjut. Apa aku sedang menyangkal semua ini? Mungkin iya, mungkin tidak.

Itu adalah jawaban dari berbagai pertanyaan yang kuajukan pada diriku sendiri pada tiga bulan ini. Hidup harus tetap berlanjut dan aku pikir aku akan baik-baik saja sambil terus mengabaikan suara-suara teriakan dari pikiranku. Penyangkalan-penyangkalan itu akan terus hidup bersamaku. Paling tidak itu keputusan yang kuambil sebelum aku melihatnya kembali berdiri di depan pintu apartemenku yang dulu menjadi apartemen kami.

"Baru pulang belanja?" Dia berbasa-basi sambil menunjukkan tanganku yang menenteng sebuah kantong plastik berisi susu segar, keju, satu pak telur dan sekaleng kornet sapi.

"Ada apa?" Aku tidak punya waktu meladeni basa-basinya. "Aku kira kamu sibuk dengan pekerjaan baru dan kudengar dari ibuku, kau sudah punya pacar baru."

Dia menatapku sedih dan menggeleng pelan.

Aku merasakan sensasi emosi aneh dari ekspresi yang diberikannya. "Jangan tunjukkan padaku ekspresimu itu. Aku tidak semenyedihkan itu untuk menerima ekspresi itu."

"Kamu tidak mengerti."

"What?!" Aku mulai berteriak.

"Sshh... Kamu tidak perlu berteriak di sini. Kita akan bicara baik-baik. Tapi tidak di depan pintu ini. Aku butuh kita berdua masuk dulu ke apartemenmu."

Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengatur amarahku yang mendadak muncul. Aneh, baru saja aku memutuskan bahwa aku bisa menerima semua ini dan melanjutkan hidupku. Suara-suara di pikiranku bersorak melihat sisi lain emosiku mulai muncul, aku rasa mereka mulai memenangkan perdebatan ini. Tidak, mereka tidak boleh menang. Aku telah mengambil keputusan yang tepat sebelumnya. Aku menyilakan dia masuk ke apartemenku. Dia mengikutiku yang berjalan menuju dapur untuk meletakkan belanjaanku.

"Kamu mendekorasi ulang beberapa bagian apartemen ini ya?"

Ya, untuk menyangkal kenangan bahwa dia pernah tinggal di sini denganku, jawab suara dalam pikiranku. Aku mendesis pelan, merasa kecolongan.

"Langsung saja jelaskan maksud kehadiranmu di sini."

"Kamu tidak menyilakan aku duduk dulu?"

Aku melipat tangan di dadaku. "Aku rasa sebaiknya kita tidak buang-buang waktumu yang berharga itu." Penyangkalan lagi, gelak suara di pikiranku. Aku mengabaikannya.

Dia menarik nafas dalam-dalam. "Dengar, aku tahu aku salah dengan pergi tanpa alasan yang tepat. Jujur, aku berharap kamu mendesakku lebih keras agar aku mau menyuarakan apa alasanku tidak ingin kita bersama lagi. Tapi kau hanya diam."

"Maumu apa?" Suaraku meninggi. "Kamu mau aku memohon-mohon? Aku tidak akan pernah bisa bersikap seperti itu. Aku tidak pernah menyiapkan skenario seperti apa jika kamu meninggalkanku seperti itu."

Dia terdiam sesaat. "Skenario? Bagimu kehidupan yang kita jalani ini hanya skenario?"

Aku tertawa kecut. "Apa lagi? Begitulah hidup."

"Di sanalah kamu salah."

"Apa? Oh, jadi sekarang aku yang salah?" Tanyaku gusar.

"Jangan salah sangka, ada yang tidak kamu mengerti di sini."

"Katakan padaku, apa yang tidak aku mengerti, hah? You only need one fuckin' day to get your shit together! Secepat itukah kamu mengambil keputusan?"

"Jujur, aku sudah mengalami dilema ini jauh berbulan-bulan sebelum aku memutuskan meninggalkanmu. Aku berharap kamu bertanya apa alasanku pergi. Aku ingin kamu menyingkirkan ego dan sikap control freak-mu itu."

Kami terdiam beberapa saat. Aku mendadak bingung, harusnya aku marah dan tersinggung dengan pernyataannya barusan. Hanya saja apa yang disuarakannya begitu selaras dengan teriakan-teriakan yang terjadi di kepalaku.

"Mengapa?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibirku. Rasanya pertanyaan itu begitu pelan hingga aku tak yakin apakah dia mampu mendengarku.

"Akhirnya kamu bertanya?"

Aku tidak menjawab. Aku rasa selama ini aku menolak dan membuat penyangkalan karena aku tidak siap dengan jawaban yang akan aku terima. Aku tidak siap dengan skenario ini.

"Hidup bukan hanya sekedar skenario. Hidup bukan hanya sekedar tentang dirimu sendiri. Hidup ini terdiri dari banyak persinggungan dan kemungkinan-kemungkinan. Kamu tidak bisa mengontrol semuanya. Tahukah kamu mengapa aku menyebut duniamu adalah utopia dengan hanya dirimu dalam komunitasnya? Karena kamu tidak akan pernah bisa membawaku ke dalam utopiamu. Aku tidak akan bisa menjadi komunitas utopiamu. Meski aku berusaha menerima tanpa menjadi bagiannya, tetap saja aku merasa tersingkirkan. Pada akhirnya yang aku khawatirkan terjadi, sisi lainku berubah dan tidak bisa lagi menjadi sekedar tetangga di samping utopiamu saat aku menemukan oaseku sendiri. Meski sisi satunya ingin tetap bersamamu, namun tak lama kemudian dia ikut berubah dan simpatiku hanya menjadi sekedar rasa kasihan padamu."

Aku terperangah dengan penjelasannya. Kerongkonganku terasa kering. "Jadi, kota dan pekerjaan baru serta pacarmu yang sekarang adalah oasemu itu?"

Dia mengangguk pelan. "Bisa dikatakan demikian."

"Harusnya aku tahu semua ini jauh sebelum kamu memutuskan untuk pergi."

"Agar kamu bisa menyiapkan skenarionya?" Tanyanya getir. "Aku harap kamu mulai berhenti hidup dalam skenario dan biarkan saja takdir yang membawa jalanmu."

"Aku berhak memilih jalan hidup yang aku mau agar aku..."

"Agar kamu bisa mengontrolnya?"

Aku tersentak.

"Berhentilah mengontrol segala yang terjadi di hidupmu karena ada yang lebih berhak di atas kontrol hidupmu."

"Siapa yang kamu maksud?"

"Tuhan."

Aku memejamkan mataku dan bulir-bulir air mata mulai jatuh membasahi wajahku. Dia mendekat dan memelukku erat. Bahuku terguncang dan dia menepuk pundakku pelan berusaha menenangkanku seperti yang biasa dia lakukan saat aku sedih.

"Aku tidak menyalahkanmu atas kegagalan hubungan kita berdua. Bagaimanapun aku juga punya kesalahan yang besar di sini. Hanya saja, aku harap kamu tidak lagi menyangkal dan menciptakan jutaan skenario yang bisa kamu kontrol. Karena tujuan hidup bukanlah tentang hasil yang sempurna tapi bagaimana kamu menjalaninya dengan penuh warna."

Aku menarik diriku dari pelukannya. "Terima kasih telah menjelaskannya padaku."

Dia mengangguk pelan dan tersenyum. Sepuluh menit kemudian dia pamit meninggalkan apartemenku. Aku mengantarnya hingga ke depan pintu.

"Oh ya, satu lagi. Bagaimanapun, jangan pernah meninggalkan apalagi sampai memusnahkan utopiamu hanya karena aku tidak bisa menjadi bagian darinya. Kamu harus tetap hidup di dalamnya dan aku yakin, suatu hari nanti kamu akan menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi bagian dari utopiamu." Kemudian dia mulai berjalan meninggalkan apartemenku.

Aku merenungi setiap percakapan dari pertemuan singkat kami. Dia benar, aku tidak bisa menahannya hanya untuk sekedar menjadi tetangga di utopiaku sementara dia akhirnya menemukan oasenya sendiri. Aku juga harus berhenti hidup dalam skenario dan berhenti menjadi seorang control freak. Oh, mungkin aku harus kembali berdebat dengan pikiranku sendiri. Bagaimanapun, utopia itu berasal dari sana dan ya, aku akan menemukan seseorang yang mampu menjadi bagian darinya dan berhenti menyangkal serta beranggapan bahwa laki-laki 'normal' itu mampu tinggal berdampingan dengan utopiaku.

Yessy Niarty

Utopia

Karya Yessy Niarty Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 09 Maret 2017
Ringkasan
Tahukah kamu mengapa aku menyebut duniamu adalah utopia dengan hanya dirimu dalam komunitasnya? Karena kamu tidak akan pernah bisa membawaku ke dalam utopiamu. Aku tidak akan bisa menjadi komunitas utopiamu.
Dilihat 27 Kali