Menjadi Inisiator dan Katalisator Perubahan

Menjadi Inisiator dan Katalisator Perubahan Menjadi Inisiator dan Katalisator Perubahan

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

– Tan Malaka

 

Judul tulisan yang berat. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Isinya sepertinya akan biasa-biasa saja. Karena berharap dengan kadar yang tidak wajar pada manusia, namun realitanya tidak berkesesuaian, ujung-ujungnya kita akan tersungkur di jurang kecewa. He, jadi curhat. Maaf.

Semalam (pukul 22.00-23.00 WIB) saya menonton tayangan inspiratif program Michael Candra di chanel RTV. Narasumbernya ada 2 orang ibu-ibu luar biasa yang konsisten berbuat baik pada negeri ini meskipun keterbatasan tak lepas dari diri-diri mereka. Yang satu berfokus di bidang pendidikan. Inspirator kedua concern pada bidang kesehatan yang juga diintegrasikan dengan bidang lingkungan dan ekonomi. Mereka bagian dari problem solver bukan generasi pengkritik doang namun enggan berbuat, malas terlibat. Tapi saya akan fokus pada yang pertama saja.

Dengan fisik yang tidak sempurna tidak menyurutkan Ibu Miftahul Khoeriyah untuk berbuat baik untuk menjadi manusia yang sepenuhnya paripurna. Kakinya harus diamputasi akibat kecelakaan tertabrak tronton ketika duduk di kelas 3 Madrasah Aliyah. Remaja mana yang tak terguncang jiwanya harus dihadapkan pada kepahitan hidup yang demikian berat? Kenyataan ini sempat membuatnya was-was akan kehidupan di masa mendatang. Namun berkat dukungan dari orang-orang terdekatnya, keluarga, guru-guru, dan teman-temannya, membuat wanita yang akrab dipanggil Ibu Mifta ini bangkit dan optimis menatap masa depan.

Sedari kecil Ibu Mifta bercita-cita menjadi seorang guru, berbagi ilmu kepada banyak orang. Ia percaya bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu dari tiga amal yang akan tetap mengalir pahalanya bahkan ketika nyawa sudah tidak lagi di kandung badan. Spirit yang bersumber dari keyakinannya itu mengalir dalam dirinya menjadi generator untuk terus menyalakan semangat melakukan pengabdian. Kebaikan Ibu Mifta ini diejawantahkan dengan aksi nyata membangun sebuah sekolah gratis tingkat Menengah Pertama yang diperuntukan bagi siswa-siswa dari kalangan kurang berdaya secara harta.

Sekolah gratis ini mungkin akan lain ceritanya ketika penolakan di awal-awal karirnya sebagai guru tidak terjadi dan berjalan mulus-mulus saja. Tapi Allah memang penulis skenario dan perencana yang tak pernah keliru. Penolakan itu jadi pelecut semangat baginya untuk tetap mewujudkan cita-cita mencerdaskan anak bangsa dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Hal yang tak mudah. Tak semua orang ketika mengalami kegagalan akan berbalik jadi bangkit. Kebanyakan justru makin terpuruk. Tapi tidak dengan ibu satu anak ini. Ia yakin kalau setiap ada keinginan di sana ada jalan. Optimisme ini lahir dari keyakinannya akna pertolongan Allah. Subhanallah.

Pada masa awal pendirian sekolah tak sedikit cibiran datang dari warga sekitar. Macam-macam komentar miring dilayangkan, seperti, “paling sekolah itu hanya akan berjalan selama sebulan,” dan lain-lain. Tapi barangkali itu sebagai penguji, sejauh dan sekuat apa tekadnya untuk menebar manfaat. Bukankah berdasakan pepatah juga disebutkan bahwa makin tinggi sebuah pohon, makin kencang pula angin berhembus menerpanya. Perwujudan impian takkan terlepas dari berbagai rintangan. Tidak cuma-cuma.

Proses perekrutan siswa nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Orang tua sempat khawatir dalam perjalannya nanti akan ditarik biaya selain juga karena sekolah itu baru berdiri. Namun dengan berbagai penjelasan, bahwa 100% sekolah ini tak dipungut biasa sepeserpun, hanya bermodal tekad yang kuat dan tas sekolah, yang lain-lainnya difasilitasi dari sekolah, akhirnya ada juga orang tua yang percaya dan memilih menyekolahkan anak mereka di SMP itu.

Ternyata karena pengabdian pada negara lewat dunia pendidikan ini berasal dari niat yang tulus, berbagai tantangan tidak otomatis jadi halangan. Tapi malah jadi pendorong untuk lebih gigih membuktikan kepada orang-orang kalau gagasan memberi fasilitas pendidikan tanpa pungutan uang memang layak diperjuangkan.

Lalu terjaringlah 25 siswa pada tahun pertama sekolah ini beroperasi. Dengan memanfaatkan bangunan Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang sedari lama didirikan oleh bapaknya. Dibantu beberapa guru relawan yang merupakan teman-teman bu Mifta, akhirnya kegiatan belajar mengajar pun berjalan. Bu Mifta sendiri mengajar mata pelajaran matematika.

Memasuki tahun ajaran yang baru, digalanglah dana partisipasi dari masyarakat ditambah mengajukan proposal ke Diknas yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Dana tersebut dipergunakan untuk mendirikan bangunan sekolah yang layak. Melalui hibah tanah dari bapaknya seluas 700 m2 dan dana patungan tersebut akhirnya kini berdiri bangunan sekolah yang terdiri dari dua lantas dengan jumlah 7 ruangan kelas. Niat baik selalu akan menemukan jalan perealisasiannya. Semesta akan melakukan semacam konspirasi.

Sekolah yang terletak di Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini sekarang sudah meluluskan kurang lebih 20 siswa dan beberapa di antaranya sudah masuk SMA Negeri. Apakah ini sebuah kesuksesan? Tentu. Tapi suksesnya tak boleh berhenti di sini. Sekolah yang sama sekali tak menarik biaya dari para siswanya ini harus terus bertumbuh dan memberikan maslahat lebih banyak. Sukses perjalanan sekolah gratis Miftahul Khoeriyah ini mesti diperluas definisinya.

Dibalik ketangguhan bu Mifta ada seorang lelaki gagah berani yang selalu percaya pada mimpi isterinya. Dialah Djit Thendra, yang tak lain teman SMP nya. Dia juga yang awalnya mengajukan ide untuk mendirikan sekolah sendiri tatkala penolakan tiada henti terhadap isterinya dari berbagai sekolah yang coba dimasuki lamaran untuk menjadi guru di sana. Dia juga yang kini menjadi kepala sekolah.

Semenjak SMP, mas Djit sudah memiliki perasaan suka pada Mifta muda. Namun perasaan itu dipendamnya dalam-dalam. Hingga setelah bertahun-tahun tak berjumpa, ada kabar buruk tentang pujaan hatinya yang mengalami kecelakaan. Terpukullah hatinya. Meski ada gejolak dalam hatinya tentang apakah cinta ini akan terus dilanjutkan atau justru dibuat layu.

Akhirnya cinta mas Djit pada bu Mifta tetap tumbuh dan tak dibiarkan pudar. Mas Djit berhati mulia dan menerima apa adanya keadaan sang istri. Mereka menikah ketika bu Mifta sedang mengerjakan skripsinya. Duh, kisah yang manis. Dan tentu enggak bikin diabetes. Keduanya terus memupuk cinta yang mereka punya dan mengarahkannya pada hal-hal positif dan berdampak makro. Tanpa kerjasama keduanya, mungkin sekolah gratis itu hanya akan berjalan beberapa saat saja. Kolaborasi yang mantap. Patut ditiru.

Ke depan, bu Mifta ingin sekali mendirikan sebuah pondok pesantren Tahfidz Qur’an. Ia berharap dengan pendidikan yang dipadukan seperti itu, siswa-siswanya tidak akan hanya fokus pada pengetahuan umum saja, tetapi akan tetap berpegang teguh kepada pedoman agamanya, Alquran. Niat yang sungguh mulia. Semoga bisa terlaksana.

Poin dari tulisan ini adalah bahwa fisik boleh terbatas, namun tidak boleh halnya dengan produktivitas. Ia harus terus ditingkatkan. Harta boleh tak punya, tapi jiwa harus kaya. Dengan kebijaksanaan, dengan ketulusan, suka memberi tanpa mengharap imbalan, dan kaya akan karya. Bu Mifta menunjukan ini semua.

Pantaskah kita hanya ternganga saja tanpa berbuat apa-apa? Tidakkah kita malu punya fisik sempurna namun tak memberikan dampak yang signifikan pada lingkungan sekitar kita? Lalu apakah yang sudah kita lakukan untuk perubahan sampai sejauh ini, minimalnya perubahan pada diri sendiri? Silakan, tiga pertanyaan itu jadi PR untuk dijawab di rumah, di sekolah, di tempat kuliah atau di mana saja. Selamat mengerjakan!

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 8 Maret 2017

sumber gambar: news detik

Muhammad Irfan Ilmy

Menjadi Inisiator dan Katalisator Perubahan

Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Kisah Inspiratif dipublikasikan 09 Maret 2017
Ringkasan
Fisik boleh terbatas, namun tidak boleh halnya dengan produktivitas. Ia harus terus ditingkatkan. Harta boleh tak punya, tapi jiwa harus kaya. Dengan kebijaksanaan, dengan ketulusan, suka memberi tanpa mengharap imbalan, dan kaya akan karya
Dilihat 21 Kali