Kisah Semangkuk Ice Cream

Kisah Semangkuk Ice Cream Kisah Semangkuk Ice Cream

Aku menatap perempuan dihadapanku dengan lekat. Dia masih sibuk menikmat puding dihadapannya. Matanya berbinar, dan aku tau pasti dia menyukai rasa puding Maccha yang berwarna hijau itu. Ku tarik nafas, sibuk menata hatiku yang terasa berdegup kencang.

“Aku suka sama seseorang.” Kataku sambil menatap perempuan di hadapanku tanpa berkedip. Dia tersenyum tipis dan melirikku sekilas. Lalu pandangannya kembali tertuju pada meja, kini giliran ice cream cappuchino yang menarik perhatiannya.

“Lalu” tanyanya cuek.

“Aku merasa bersalah. Tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku.” Kataku sambil menggigit bibirku.

“Apa yang kamu harapkan dari dia?” pertanyaannya telak menghantam dadaku. Aku menggeleng lemah.

“Tak ada. Seperti sekarang saja sudah cukup buatku. Aku cukup tau diri kok. Aku hanya ingin dia selalu ada. Aku gak berharap lebih, atau lebih tepatnya aku tidak mau berharap lebih. Aku takut. “ kataku sambil ikut memperhatikan ice cream di hadapanku.

Aku mendengar dia tertawa kecil, kemudian menatapku tajam.

“Kamu benar-benar menyukainya?” tanyanya penuh selidik. Aku mengangguk tanpa bisa menyembunyikan binar di mataku.

Dia kembali tertawa, kali ini lebih sedikit lepas. Aku cemberut melihat perubahan sikapya yang aneh.

“Kamu tidak percaya padaku?” tanyaku sambil mengerutkan keningku. Dia mengangguk.

“Aku percaya, sangat percaya. Bagaimana mungkin aku gak percaya, binar matamu itu sudah cukup menjelaskan bahwa kamu memang benar-benar jatuh cinta.” Katanya sambil tertawa dan menyuapkan sesendok ice cream ke mulutnya.

“Apa yang membuatmu jatuh hati?” tanyanya kemudian.

“Gak tau. Dia baik, manis dan lembut.” Kataku sambil tersenyum simpul.

“Ya Tuhan, itu sih standar banget. Namanya di awal-awal bukannya memang begitu.” Katanya sambil tertawa.

“Ah sudahlah, aku suka semua yang dia lakukan untuk aku. Apapun  itu. Mau itu standar atau luar biasa.” Kataku bersungut-sungut. Dia meredakan tawanya, berbatuk sedikit lalu menatapku dengan serius.

“Lantas, apa lebihnya dia dari suamimu? Kalau hanya baik, manis dan lembut suamimu juga begitu kan. Suamimu juga sabar dan selalu mengerti kamu.” Dia menggantung kata-katanya, menunggu respon ku. Sekarang gantian aku yang tersenyum konyol ke arah dia. Aku merasakan wajahku memerah atas pertanyaannya, merah karena menahan malu dan bingung harus berkata apa.

“Jika memang tidak mengharapkan apapun dari dia, trus mau kamu apa? Mau menjadi selingkuhannya? Atau dia memang berniat menikahimu?” Dia kembali melanjutkan pertanyaannya. Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan mangkuk saat dia menyendok ice cream untuk dinikmati.

“Apa kamu sudah siap menyandang gelar “Perebut suami orang” atau “Wanita simpanan” ? Katanya sambil tersenyum geli menatapku. Aku cubit lengannya dengan sedikit memajukan bibirku untuk menunjukkan kekesalanku.

“Aku bingung. Aku harus apa? Aku gak bermaksud merebut suami orang kok. Aku hanya suka berbincang dengan dia, suka menghabiskan waktu bersama dia. Itu aja.” Kataku memelas, mengharapkan teman di depanku bisa mengerti keadaanku.

“Aku bahkan sering mendoakan kebahagiaannya. Aku juga tidak pernah keberatan dia meluangkan waktu bersama istri dan anak-anaknya. Aku justru selalu mendukung agar setiap weekend dia banyak menghabiskan waktu untuk mereka. Aku tidak bermaksud merebut kebahagiaan mereka.” Kataku kemudian.

“lalu?” Katanya sambil menatapku lekat.

“Aku cukup tau diri untuk tidak berharap lebih. Melihat dia bahagia, mendokan dia, mencoba mengerti dan selalu ada untuk dia. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk dia. Aku hanya ingin jadi tempat ternyaman untuk dia berbicara, aku hanya ingin bisa selalu menemani dia.” Kataku sambil mengaduk-aduk ice creamku.

“Apa kamu tidak cemburu melihat dia bersama istrinya?” tanyanya lagi. Aku menggeleng lemah dan memejamkan mataku.

“Aku cemburu, tapi aku bisa apa. Itu sudah bagian dari resiko, bukan? Aku mencintainya dan aku tidak mau rasa cemburu ku merusak semuanya.”  Aku melihat temanku melongo menatapku.

“Aku tidak paham, sebenarnya mau mu apa dengan mencintai dia? Kamu melukai dirimu sendiri untuk dia?” Kata temenku sambil melongo, memperhatikan raut mukaku.

“Bukan begitu, aku bahagia kok dengan semua yang aku rasakan. Kalaupun ada cemburu, aku masih bisa menahannya. Mauku, aku ingin dia selalu ada untuk aku. Hanya itu. Aku tidak berani bermimpi untuk bisa hidup bersama dengannnya karena aku sudah menikah dan diapun sudah menikah. Tidak bolehkah aku bersamanya, meski hanya sekedar berteman dekat?” tanyaku kemudian.

“Berdoa saja kepada Tuhanmu, agar kalian di beri jalan keluar terbaik. Kamu tau, aku pernah ada di sisi berseberangan dari posisimu kini. Dan penjelasanmu tadi, membuatku kembali mengingat pedihnya di khianati oleh suamiku. Kalau aku boleh berkata, lupakan dia. Jangan gila. Meski kamu berkata bahwa kamu tidak ingin merebut dia dari istrinya, tapi kamu harus tau kamu telah merusak dongeng bahagia mereka demi kebahagiaanmu sendiri. “ Aku melihat ada air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Maafin aku, Rin. Aku tidak bermaksud begitu.” Kataku gugup sambil meraih tangannya. Aku memejamkan mataku, perasaan bersalahku semakin berkecamuk. Kamu menggeleng.

“Jangan meminta maaf kepadaku. Aku sahabatmu, aku tidak mau kamu berbuat seperti ini. Aku mengerti bahwa kau benar-benar jatuh cinta kepada laki-laki itu, hingga kamu rela menahan semua rasa sakit yang dia berikan untukmu. Aku hanya tidak ingin kamu terbelit masalah. Pikirlah, bisa jadi rumah tanggamu akan berantakan karena ini.” Dia berkata lirih. Aku menatapnya dengan penuh rasa bersalah.

“Aku takut kehilangan dia.” Aku menunduk, menekuri semangkuk ice cream di hadapanku yang sedari tadi mencair. Maafkan aku Rin, maafkan temanmu ini. Gumamku dalam hati.

 

 

desy febrianti

Kisah Semangkuk Ice Cream

Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 09 Maret 2017
Ringkasan
Berdoa saja kepada Tuhanmu, agar kalian di beri jalan keluar terbaik. Kamu tau, aku pernah ada di sisi berseberangan dari posisimu kini. Dan penjelasanmu tadi, membuatku kembali mengingat pedihnya di khianati oleh suamiku.
Dilihat 58 Kali