Kepada Bapak yang Ditikam Sunyi

Kepada Bapak yang Ditikam Sunyi Kepada Bapak yang Ditikam Sunyi

Kepada Bapak yang Ditikam Sunyi

; Samarinda – Jakarta

 

sepi tertinggal dalam kedua mata bapak

tak terdengar sedu sedannya

tapi pelan terisak jua

 

sepi tertinggal dalam dasar tubuhnya

meski ramai kota cahaya bertuan

yang ia mau; tubuhku ialah tubuhnya

 

sepi terjebak di kisaran jarak rusuknya

melepas ribuan detik dengan sulung

yang bertamu untuk waktu singkat

 

untuk membaca kesemuanya,

angin selidah tengah terbata mengeja:

 

bahwa sepi sudah sejak lama

bersemayam dalam rumah itu

tak ada kehidupan yang dinamai kehidupan

 

 

selain diucapkannya sebelum tiba di bandara:

 

“Jika selesai kuliah kelak, carilah pekerjaan di kota ini dan berkeluargalah di kota ini pula. Pulanglah. Sudah hampir sepertiga usia kau besar diadopsi dan digugu oleh laksa waktu. Jauh dari rumah. Jauh dariku yang hanya tinggal seorang. Sedang aku, dari hari ke hari, lambat laun semakin tua.

Jangan lena oleh ibukota, meski aku paham sekali, besar keinginan dan peluangmu untuk dapat bekerja di sana, pun berkeluarga di sana. Tapi, pulanglah. Aku semakin tua. Tak ada kebahagiaan lain selain melihat kalian, anak-anakku, besar dan hidup bersamaku yang hanya tinggal seorang di kota ini.”

 

Dan sehari sebelum pulang, diajarkan olehnya

cara terbaik memaknai sementara lindap-lindap sunyi.

 

Bandara Sepinggan, 2015

imam budiman

Kepada Bapak yang Ditikam Sunyi

Karya imam budiman Kategori Puisi dipublikasikan 08 Maret 2017
Ringkasan
sepi tertinggal dalam dasar tubuhnya\meski ramai kota cahaya bertuan\yang ia mau; tubuhku ialah tubuhnya.
Dilihat 41 Kali