Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

2.1 K Hak Cipta Terlindungi

Bagian Dua Puluh - Thantophobia

Bagian Dua Puluh - Thantophobia Bagian Dua Puluh - Thantophobia

Kita tak pernah bisa memilih untuk jatuh cinta kepada siapa, namun kita berhak untuk memantaskan siapa yang paling harus kita cintai dan siapa yang harus tidak kita cintai, semua tergantung kita. Seberapa keras hati mengatakan iya, tapi pikiran mengatakan tidak, jangan terlalu dipaksakan. Mereka yang terlalu memaksakan hanya terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Sekarang berpikirlah sejernih mungkin.

Kalimat penenang Bayu membuatku terus berpikir sepanjang malam, maka benar kita tidak pernah bisa memilih, Tuhanlah yang membolak-balikkan hati manusia dengan mudah. Aku jatuh cinta dengan Aira bukanlah sebuah pilihan tapi ketetapan Tuhan yang tidak pernah bisa ku bantah akan terjadi, dan kemarin hatiku dipatahkan oleh Aira. Aku hanya berdiam diri dikamar sepanjang hari, ketika ibu bertanya sedang apa aku di dalam aku akan selalu menjawab mempersiapkan barang-barang untuk keberangkatan esok hari. Padahal setengah matinya hati ini hancur lebur bagaikan sebuah debu yang tertiup angin dan terbang entah kemana, tidak tentu arah dan tiba-tiba hilang begitu saja menyatu dengan udara.

Lebih sakit mana, melihat orang yang kita cintai dekat dengan sahabat kita? Atau melihat sahabat kita dekat dengan orang yang kita cintai? Argghh semuanya sama saja, Rama telah mematahkan hatiku juga, sahabat macam apa yang menusuk sahabatnya sendiri dengan pisau dan menghempaskan gada tepat pada dada sahabatnya. Aku jadi membenci semuanya, hal-hal yang membuatku patah hati. Kata orang patah hati adalah cara Tuhan untuk melepaskan kita dengan orang yang salah untuk mempertemukan kita dengan orang yang benar, itu kenyataannya memang. Namun, sebagai manusia biasa aku tetap saja tidak bisa beralih ke orang lain, kalau aku adalah pantai dan Aira ibarat lautnya kami tidak pernah terpisahkan. Cinta itu kadang memang membuat kita bahagia bukan main, cinta akan membuat kita melayang-layang ke udara tanpa berpikir bahwa sewaktu-waktu kita bisa terjatuh begitu saja dan mungkin akan mengalami beberapa memar dan patah tulang.

Yang paling aku benci dari semua ini adalah karena perasaanku dengan Aira tidak benar-benar pergi. Masih ada yang belum tuntas, masih ada perasaan cinta yang bersarang dalam hatiku namun semuanya terasa samar-samar. Seperti tidak ada atau mungkin ada tapi tidak terlalu berharga.

Suara pintu di ketuk, terdengar pelan namun lama kelamaan sedikit keras. “Dimas ada yang cari tuh.” Panggil ibu dari balik pintu kamarku tiba-tiba.

Aku menghapus air mataku agar ibu tidak melihatnya,  aku tidak ingin terlihat sebagai laki-laki yang pengecut di depan ibu. Ayah sudah meninggal dan akulah yang harus menjadi pengganti ayah yang menjaga ibu sampai dia tua nanti, kalau sang penjaga malaikat tanpa sayapnya saja menangis bagaimana caraku membuat dia bahagia.

Lagi pula apa salahnya laki-laki menangis, tangisan adalah bagian dari emosi kita sebagai manusia. Dan kita tidak akan pernah bisa mengelaknya, tidak akan pernah bisa untuk terus menahannya. Sekeras dan sekuat apapun kita menahan dia agar tidak keluar, kesedihan pada akhirnya yang akan menang, menjadikan diri kita manusia paling pengecut yang pernah ada. Tapi percayalah, pelangi akan mulai berpijar di matamu ketika air mata itu sudah kering dan kau tersadar akan sesuatu dan mungkin itu yang akan aku rasakan nanti. Semuanya hanya masalah waktu, untuk memulihkan dan membenahi hatiku yang patah.

“Siapa bu?” Tanyaku kepada ibu.

Ibu tersenyum tapi senyumnya cukup mencurigakan. “Ada deh, kebawah sana.” Ujar ibu lalu beranjak meninggalkanku untuk pergi ke dapur, mungkin membuatkan sang tamu minuman.

Aku mulai berlari ke arah ruang tamu karena penasaran siapa yang ingin menemuiku. Karena Bayu dan Moses baru saja pulang beberapa jam yang lalu dari rumahku tidak mungkin mereka kembali lagi. Lagi pula untuk apa mereka kembali, semua nasihat mereka untuk membantuku ikhlas dan menerima semuanya sudah khatam sampai habis. Mungkin kalau nasihat mereka dijadikan sebuah buku, aku sudah sampai di bab akhir. Hanya tinggal Bayu dan Moses yang masih setia menemaniku, karena mereka tahu betapa hancurnya diriku ketika mengetahui bahwa Aira dan Rama mempunyai hubungan khusus daripada seorang sahabat, aku membenci Saka, jujur karena dia tidak berkata yang sesungguhnya dan lebih memilih diam dan membela Rama.

Ah percayalah, ketika kau mulai mempunyai sebuah masalah, seketika kau akan menyadari yang mana sahabat yang selalu ada untuk kita saat susah ataupun senang dan yang mana sahabat yang ada selalu saat kita senang saja.

Langkahku ke ruang tamu terhenti ketika Aku melihat sosok perempuan berambut panjang terduduk sambil membaca sebuah majalah langganan ibu. “Lo ngapain disini?” Tanyaku kepada Kirana dengan nada yang setengah tidak percaya.

Dia menoleh ke arahku, mengetahui bahwa aku sudah berada disini memperhatikannya terus membaca majalah langganan ibu. Dia tersenyum kepadaku. “Kenapa lo kaget gitu? Kayak lihat hantu aja.” Katanya lalu tertawa kecil. Sekarang aku paham apa maksud senyuman ibu. Kalau bukan soal Kirana siapa lagi.

Aku berjalan perlahan ke arahnya. “Ya ngg.. nggak, tumben banget lo mau ketemu gue.” Seruku dengan lembut. Ah ini adalah kalimat basa-basi yang paling basi yang pernah ada.

Dia berjalan perlahan ke arahku, sambil merogoh tasnya dia mengambil sesuatu. Sebuah kotak berwarna biru dongker dengan bacaan Alba di depannya. “Nih mamah gue ngasih ini sama lo, katanya buat kenang-kenangan sebelum lo berangkat ke Melbourne besok.” Jelasnya sambil menyodorkan kotak tersebut.

Aku mengambilnya dan mulai memperhatikannya, kotak berukuran 10x10 cm dengan warna biru dongker yang di ikat dengan pita di atasnya. “Ini kayak jam tangan.”

“Memang jam tangan dodol.” Sahut Kirana sambil mendorong badanku dengan pelan. “Kenapa sih orang dodol kayak lo bisa masuk Monash University, heran gue. Gue rasa mereka nerima lo khilaf kali.”

“Yee enak aja, gue keterima karena gue pinter lagi.” Kataku membantah perkataannya, aku tidak terima jika harus dibilang pihak Monash University menerimaku karena khilaf semata, kejam sekali.

Kirana menoyor kepalaku. “Iya pinter, pinter ngarang!”

Aku hanya membuang wajah kesal dengan perkataannya seperti itu, dia hanya tertawa. Aneh ya pertemuan pertama aku dan Kirana di awali dengan tidak baik tapi lambat laun semuanya jauh lebih baik dari sebelumnya. Entah ini perasaanku saja atau bagaimana, tapi Kirana terlihat sopan tidak seperti pertama kali bertemu. Ya setidaknya Kirana bisa membuatku lupa sejenak soal Aira. Perempuan yang membuatku patah hati setengah mati.

“Lo nangis?” Tanyanya sambil memperhatikan mataku yang sembab.

“Eh acara tv nya bagus ya? Ini acara favorite gue nih.” Kataku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan mengganti topik yang lebih asik daripada membahas soal air mataku yang tumpah sejak pagi.

Kirana mengambil remote dari tanganku. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan lo. Gue tahu abis nangis kan lo? Jujur.” Kirana menjadi sok akrab, aku benci itu tapi kali ini tebakan dia benar, aku mengangguk perlahan. “Nah benerkan, kenapa emang? Cerita sama gue, siapa tahu gue bisa bantu.”

Aku menggelengkan kepala dan mulai melemparkan diri ke sofa ruang tamu. “Ngapain gue cerita sama lo, lagian kenapa jadi sok akrab gini deh lo.” Timpalku dengan nada yang sedikit meninggi.

Dia mengekor di belakangku dan mulai duduk disampingku. “Gue siap kok jadi pendengar yang baik, anggap aja ini balasan karena lo udah bayarin gue nonton dan makan waktu itu.” Kali ini tidak ada keraguan atau candaan dalam perkataan Kirana, kali ini dia benar-benar serius.

Aku menatapnya lekat, berusaha untuk meyakinkan diri sendiri agar aku bisa bercerita kepadanya dan nantinya tidak akan menimbulkan masalah apapun. Sampai pada akhirnya aku mulai memberanikan diri untuk bercerita padanya, berusaha untuk mulai sedikit terbuka pada anak dari teman ibuku. Aku menceritakan semuanya dari mulai persahabatanku dengan ke enam orang yang paling aku sayangi, lalu permasalahan soal perasaan suka dan kagumku kepada Aira, sampai semuanya. Semua hal yang membuatku patah hati dan menangis sepanjang hari. Dia benar-benar serius, dia terus memperhatikanku bercerita, telinganya selalu siap mendengarkan setiap kata yang aku ucapkan. Mungkin kali ini memang dia hanya ingin balas budi, ya sebagai ganti tiket nonton dan makan waktu itu.

Kadang tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat perasaan kita lepas, kecuali dengan bercerita. Bercerita membuat kita jauh lebih kuat dan lebih menerima kenyataan kalau semuanya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kadang aku menyukai perkataan pepatah lama; Kadang semua hanya ingin tahu, bukan ingin membantu. Bahkan orang yang kita anggap baikpun sebenarnya berbelati. Dan orang yang selama ini dianggap tidak ada tapi mereka perduli. Yang lebih jahatnya lagi, orang yang tertawa bersama kita kadang menertawakan kita dengan keras di belakang. Dan mungkin itu adalah perkataan yang paling bisa diterima untuk orang-orang yang sedang tidak sengaja kecewa sepertiku.

---

“Thantophobia.”

Aku menoleh ke arah Kirana yang masih memakan Steaknya itu. Kami memutuskan untuk makan di luar, karena aku berpikir ibu sudah terlalu tua untuk memasak jadi akan sangat adil aku mentraktir Kirana lagi di warung Steak dekat rumah. “Itu apaan?” Tanyaku keheranan, karena untuk pertama kalinya aku mendengar istilah itu.

“Itu semacam phobia. Namun phobia yang ini berbeda, phobia yang ini adalah phobia kehilangan orang yang lo sayang.” Jelasnya sambil menggerakkan pisaunya ke atas, layaknya seorang mahasiswi yang sedang presentasi di depan kelas. “Secara manusiawi kita kenal phobia ini sebagai patah hati atau rasa kecewa. Tapi secara sains ini disebut Thantophobia.”

“Terus?”

Dia tersenyum kepadaku, sambil meminum jus alpukat yang ia pesan. Katanya jus alpukat adalah jus kesukaannya. Hari ini Kirana lebih banyak bicara dibanding sebelum-sebelumnya, tanpa aku bertanya dia sudah menjelaskan dirinya sendiri. Makanan kesukaannya, warna kesukaanya, kaos kesukaannya, untuk ketiga hal itu teryata kami mempunyai kecocokan. Udang, Merah dan juga Polo Shirt. Namun untuk musik jelas kami berbeda sangat jauh, dia penyuka One Direction, sedangkan aku penyuka Bondan Prakoso. Genre musik mereka termasuk sama Pop Rock, tapi Bondan lebih mengadaptasi gaya Rock yang sebenarnya, dentuman drum, sayatan gitar dan bass selalu mewarnai musik Bondan Prakoso setiap waktu.

“Ya akan sembuh pada waktunya. Setiap phobia itu kan bisa disembuhkan, setiap phobia selalu punya obat penawarnya. Kadang obat penawar paling ampuh untuk sebuah phobia adalah keberanian dan juga waktu. Berani untuk melakukan hal-hal yang lo takutkan, dan juga bergulir bersama waktu yang nantinya phobia itu akan hilang dengan sendirinya.” Ujarnya kepadaku.

Aku mengangguk dan tersenyum mendengarkan dia menjelaskan. “Oh iya besok nggak usah anter gue ke bandara ya.”

Kirana tersedak, wajahnya sedikit memerah karena tidak bisa menahan rasa herannya kepadaku. “Heh! Lagian siapa juga yang mau anterin lo, gue masih banyak urusan yang lebih penting!. Gue kesini juga karena disuruh mamah kasih jam tangan itu!” Dia kesal bukan main, mungkin dia menganggap candaanku kali ini terlampau serius. Mungkin dia menganggap aku mulai tertarik kepadanya, ah sudahlah semuanya memang selalu seperti itu.

“Ya kan siapa tahu Ran.”

“Nggak usah sok akrab lo!” Dia masih kesal dengan perkataanku. Tapi aku bisa melihatnya, lengkung senyum sedikit mengembang dari mulutnya.

Hari itu aku menghabiskan waktu berdua dengan Kirana di warung Steak dekat rumah, Kirana berhasil membuatku sedikit lupa soal patah hatiku dengan Aira dan Rama, oh bukan ini adalah phobia. Hanya sementara, Thantophobia. Ya itu namanya, aneh juga seorang perempuan galak seperti Kirana bisa mengetahui hal-hal semacam itu. Aku yang seorang penulis saja tidak pernah tahu ada phobia seperti itu, yang kutahu soal phobia hanya satu. Ular dan kecoa. Itu menakutkan, sungguh.

Barangkali phobia ini menakutkan, atau kita mengenalnya dengan patah hati. Tapi ada saatnya kita tersadar dari tempat kita terbaring dan meneruskan kehidupan. Suka atau tidak suka, hidup akan selalu membawamu ke masa depan, dia tidak pernah behenti kecuali Tuhan telah memilih hari untuk penghancuran bumi terjadi. Disitulah semua poros berhenti berputar.

Namun kehidupan berjalan selalu sederhana, Tuhan mematikan satu perasaan lalu mengirimkan perasaan lainnya disaat kita merana dan hilang arah. Semacam kompas, ketika kompas yang lama rusak Tuhan mengirimkan kompas baru sebagai petunjuk arah kita. Takdir itu tidak pernah bisa kita tebak, kita hanya berusaha untuk terus menduga sampai pada akhirnya kita akan berjalan dijalan yang benar. Aku mendapatkan satu kalimat penyemangat dari Bayu, kalimat yang barangkali sedikit menenangkanku walaupun wajah Aira masih terbayang-bayang dalam pikiranku.

Dim, kadang kita harus ketemu orang yang salah dulu baru kita ketemu orang yang benar.

Arifin Narendra Putra

Bagian Dua Puluh - Thantophobia

Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project dipublikasikan 07 Maret 2017
Ringkasan
Kita tak pernah bisa memilih untuk jatuh cinta kepada siapa, namun kita berhak untuk memantaskan siapa yang paling harus kita cintai dan siapa yang harus tidak kita cintai..