Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

2 K Hak Cipta Terlindungi

Bagian Delapan Belas - Malam Api Unggun Perpisahan

Bagian Delapan Belas - Malam Api Unggun Perpisahan Bagian Delapan Belas - Malam Api Unggun Perpisahan

Esok adalah hari kelulusan, hari dimana kami akan meninggalkan sekolah. Ya, menjadi orang yang pertama kalinya keluar dari rutinitas sekolah dan menggantinya dengan rutinitas bekerja atau kuliah. Namun di antara kami yang memilih untuk bekerja hanyalah Moses, aku akan mengejar impianku untuk masuk UIN begitupun Aira dan Yuri. Sementara Saka dia akan masuk salah satu kampus yang menurutnya keren, padahal itu biasa saja. Justru aku lebih menganggap keren fakultas yang akan coba ia ambil, Jurnalistik. Rama dan Bayu, ah mereka berkuliah di Jogja, entah fakultas yang mereka ambil sama atau tidak aku tidak mengetahuinya yang aku tahu ketika akan tes disana Rama berbisik padaku. “Godain mahasiswa senior dikampus nanti enak nih.” Kurasa perempuan telah menjadi jati dirinya.

Malam ini aku dan yang lain ingin merayakan semuanya, ya hanya kami bertujuh. Kami akan kembali mengenang masa pertama kami berkenalan dan akhirnya berada dalam satu kelas yang sama. Malam api unggun, akan terulang kembali, sehari sebelum kami akan pergi meninggalkan sekolah. Ini dramatis.

Bumi perkemahan Ragunan adalah tempat yang kami pilih untuk merayakan semuanya, semua hal yang barangkali terlalu rumit untuk dijelaskan tapi mampu kami tafsirkan dengan sedikit pandangan yang berbeda. Kalian pasti mengerti maksudku, soal takdir… Apa kalian pernah berpikir kenapa kalian bisa bertemu dengan orang-orang yang kalian sebut sahabat? Seandainya takdir terjadi karena respon cepat kita pada suatu kejadian mungkin akan sedikit berbeda. Namun, takdir sudah dituliskan, sesuatu yang tidak bisa dirubah. Tuhan sudah mengatur semuanya, agar kalian bisa bertemu dengan orang yang kelak akan kalian panggil dengan sebutan sahabat, yang nantinya hari-hari bersama orang itu akan kalian ceritakan kepada anak kalian kelak. Itu juga yang sedang kurasakan kali ini, perpisahan adalah bentuk mengerikan dari sebuah pertemuan. Sebuah jalan yang tidak pernah bisa aku duga, mungkin berguna juga ketika kita menduga-duga tapi itu hanya berjalan 20% menurutku, dan kadang kebanyakan dugaan kita lebih dari salah.

Waktu berputar begitu cepat, dan tidak ada yang bisa kita lakukan selain terus berjalan. Tidak ada jalan mundur untuk sebuah keputusan dan tindakan, hanya ada sebuah langkah, langkah yang barangkali akan menghalangi kita untuk melihat ke belakang, langkah yang barangkali adalah cara paling menyeramkan untuk kembali melihat kenangan. Aku menyebutnya langkah masa depan, tapi mungkin kebanyakan orang menyebutnya sebagai kematian. Kita yang hidup nantinya akan mati, berpisah dengan orang yang paling kita sayang. Bukankah menyakitkan? Perpisahan kecil yang kita lalui di taman-taman pinggir kota atau stasiun dan bandara saja sudah bisa membuat kita menangis dua hari dua malam. Lalu bagaimana dengan perpisahan yang sifatnya abadi.

Mungkin setelah keluar dari sini sudah saatnya untuk fokus memikirkan masa depan yang lebih abadi. Ketika tumbuh menjadi orang dewasa kami sadar, tidak ada lagi yang namanya main-main, yang ada hanyalah sebuah tanggung jawab yang harus di selesaikan. Bukan hanya pada dunia, tapi juga pada akhirat kelak. Kalau peribahasa Moses. “Tobat dah mendingan.” Kira-kira seperti itu. Siklus nya sederhana mari ku perlihatkan.

Kelahiran - Fase Pertumbuhan - Sekolah - Kelulusan - Impian - Punya keluarga - Punya anak dan cucu - Menjadi tua - Menuju masa depan yang abadi, secara teknis artinya meninggal. Dan mungkin disela-sela kami mengejar impian kami, kami juga harus bertanggung jawab pada semua hal yang harus kami selesaikan.

---

“Udah lama sejak 3 tahun yang lalu kita nggak main api unggun lagi.” Ujar Bayu malam ini. Malam ini semuanya terasa begitu nyaman, kami lengkap tujuh orang melingkari api unggun untuk kemudian mengenang masa-masa dimana kami pernah bertegur sapa sekilas lewat momen ini. Momen dimana api membakar kayu yang kami kumpulkan, dan disamping aula yang berada di dekat tenda kami akan membakar jagung ataupun ayam untuk persediaan makan malam sampai esok pagi kembali memasuki sekolah baru.

“Waktu ngerubah semuanya. Berjarak Tiga tahun dari masa orientasi, waktu yang cukup untuk tahu rahasia kalian semua.” Kataku sambil terus memperhatikan api unggun. “Malam ini indah bukan karena bintang-bintang bersinar terang, bukan karena bulan menampakkan sinarnya. Tapi karena kita, kita semua lengkap ada disini.” Lanjutku.

Aku melihat para sahabatku menatapku dengan penuh keyakinan. Kali ini entah, rasanya tidak ada lagi perasaan ingin bermain-main. Kali ini aku melihat Aira bukan sebagai orang yang akan mendampingiku sebagai seorang kekasih kelak, hanya sebagai seorang sahabat. Ya, yang peduli satu sama lain. Entah darimana datangnya perasaan pesimis ini pada cinta yang benar-benar nyata, sahabat-sahabatku masih menatapku dengan tatapan yang tajam.

“Someday we will to be different.” Seru Bayu yang mulai berlagak menjadi orang luar negeri. Padahal bahasa inggrisnya belum lancar.

“Oh ayolah, lo kan tinggal di Indonesia Bay.” Protes Moses sambil melempar Bayu dengan kue kering. Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua, oh bukan tapi yang benar kami tertawa. Waktu bergerak perlahan, lebih lambat kali ini merekam tawa kami semua.

Perlahan senyumku sedikit memudar. “Bayu bener.” Pernyataanku tiba-tiba membuat semuanya diam, seketika aku merasa bersalah karena membuat tawa mereka terbungkam. Namun aku rasa ini waktu yang pas untuk mengatakan semuanya. “Kita nggak selamanya akan kayak gini, kan? Suatu hari nanti kita akan jadi berbeda, bisa lebih buruk atau lebih baik dari sebelumnya. Kalian semua pasti akan ngerti, nggak selamanya kita bisa bareng-bareng…”

“Kan kita bisa janjian ketemu setelah lulus dari sini.” Potong Yuri.

Aira mengangguk. “Iya, kita pasti bisa kok terus bareng-bareng sampai nanti.” Aku selalu suka ketika melihat dia berpendapat, apalagi ketika melihat kerudungnya tertiup angin. Ah, kekasih impian.

“Ya mungkin kita masih bisa janjian ketemu, tapi bagaimana kalau sudah nggak bisa? Gimana kalau nanti di depan, waktu memisahkan kita dan nggak membiarkan kita bersama? Ada masanya kita harus berpisah jalan, kan?” Tanyaku sambil melihat respon semua sahabatku.

“Maksud lo kita pisah?” Rama menyahut tiba-tiba.

Aku mengangguk ragu. “Kalau salah satu dari kita nggak ketemu di rumah Saka waktu itu dan membuat persetujuan bareng soal persahabatan ini, apa Sette Migliori Amici masih tetep ada?” Tanyaku memandang semua sahabatku yang wajahnya terpapar api unggun.

Rama menggeleng, begitu pun yang lain tampak berpikir dan menelaah apa yang sedang ku katakan. Angin malam yang dingin dan juga suasana yang sunyi membuat kami semakin lama berpikir tentang apa-apa saja yang bisa terjadi ke depannya setelah kami lulus nanti. Masa depan jauh lebih mengerikan daripada yang kita bayangkan. Selalu ada perpisahan dan pertemuan kembali disana, selalu ada rasa sakit hati dan bahagia disana, itu semua pasti. Namun, kami tidak bisa mengatakan di masa depan nanti kami akan berjalan bersama kembali. Dengan kepastian Tuhan masa depan adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat, tapi lewat kepastian manusia masa depan adalah hal yang samar-samar, abu-abu dan tidak nampak jelas.

“Itu menakutkan bukan?” Tanya Saka tiba-tiba memecah kesunyian di antara kami semua. “Jika masa terbaik hidup kita adalah hari ini, itu adalah hal yang gila. Maksud gue, setelah dari sini kita akan menjalani kehidupan yang mungkin jauh lebih layak.” Lanjut Saka.

“Ya, kita akan bekerja, menikah dan punya anak yang lucu-lucu.” Tatapan mata Aira kosong ketika mengatakannya.

Aku mengangguk. “Yang harus kita sadari adalah suatu saat nanti kita nggak akan pernah bisa melakukan hal yang sama kembali. Kehidupan nggak berjalan seperti itu, dia berjalan layaknya orang dikejar Deadline, terus maju dan harus presentasi apapun halangannya.” Entah darimana kalimat itu keluar dari mulutku, tapi aku rasa memang itu kata yang tepat untuk hari ini.

“Apa kita masih bersahabat nanti?” Tanya Yuri, dan pertanyaan Yuri membuat semua dari kami terdiam.

Apa kita masih bersahabat nanti? Aku dan yang lain terdiam sejenak sambil terus melihat mata Yuri yang sudah khawatir soal persahabatan ini. Tentu saja, di tempat baru yang akan kami pijaki nanti banyak teman-teman baru yang mungkin akan lebih asik atau seru. Ah aku tidak pernah mengerti, apakah fungsi persahabatan hanya berdasar pada lamanya waktu mereka tinggal bersama? Dan ketika sudah berpisah masing-masing persahabatan itu akan putus dengan sendirinya? Bukankah hal seperti itu tidak adil.

Banyak yang bilang persahabatan akan abadi, akan menjadi moment dimana akan kita rindukan saat kita tua nanti dan hanya tinggal menunggu saja. Orang-orang yang pernah mengambil andil dalam hidup kita mereka adalah orang paling berarti yang pernah ada. Namun, yang aku takutkan bukanlah soal mengingat mereka, tapi menegur mereka. Apakah sifat kami masih sama di masa depan nanti, ataukah jauh lebih cuek dan lebih membesarkan gengsi karena permasalahan Gue jauh lebih sukses daripada dia, walaupun dia sahabat gue tetep aja gengsi nomor satu. Apakah akan seperti itu?

Moses berdiri sambil menambah lagi kayu bakar karena api sudah mulai sedikit mengecil. “Pastilah kita masih bersahabat.” Sahutnya singkat.

“Iya bener, pasti masih bersahabat. Lo mau gue kasih email gue sekarang atau gimana? Kalau tiba-tiba lo mau hubungin gue?” Ujar Bayu sambil tertawa. Dan kami semua tertawa karena candaan mereka berdua. Suasana pecah begitu saja, ketakutan soal di masa depan masih bersahabat atau tidak hilang seketika. Entah, walaupun ketakutan pasti akan selalu ada. Tapi seperti nya kami akan terus bersahabat walaupun waktu memaksa kami untuk berpisah tempat.

“R4m4z3r0h3r0@gmail.com” Seru Rama.

“Email lo aneh gitu?” Tanya Bayu heran.

“Iya email itu gue buat waktu gue masih suka sama Kangen Band.” Seru Rama kembali.

Kami semua kembali tertawa terbahak-bahak. Ah hidup selalu tidak menyenangkan kalau selalu ada ketakutan didalamnya, kan? Kadang kita hanya perlu menerima kenyataan, sambil sesekali berpikir tentang masa depan.

“Kita akan baik-baik aja kok. Yakin gue.” Sahut Saka sambil tersenyum lebar-lebar.

---

Malam ini bintang tidak bersinar, hanya ada bulan bersinar begitu terang. Diseluruh hamparan langit yang luas, bulan seakan-akan mejadi pusat dari semua perhatian manusia di muka bumi. Bulan malam ini indah, bulan purnama.

Mungkin udah saat nya gue berubah jadi serigala atau vampire Gumamku sambil tertawa geli sendiri. Aku memilih menyendiri setelah hampir satu jam kami mengobrol, aku memilih duduk di aula sendirian. Dan teman-teman masih bernyanyi di api unggun dengan Bayu sebagai gitaris. Aku rasa aku menemukan keluarga kedua, aku dan Rama atau Saka atau yang lainnya jika kami bertengkar layaknya adik dan kakak. Dan Yuri adalah The Big Mama. Siap menjewer kami kapan saja, enam anak nakal yang berlarian karena tidak mau makan. Mengapa kalau kita sudah nyaman dengan satu hal, Tuhan selalu melibatkan perpisahan dalam kenyamana tersebut? Aku tidak pernah mengerti, ayahku meninggal ketika aku masih kecil. Hari itu Dia kembali memanggil ayah untuk pulang, kematian adalah perpisahan yang abadi. Dan sekarang, ketika aku kembali menemukan sosok seorang ayah yang sering menasihati layaknya Saka atau Bayu Tuhan kembali membawa perpisahan kepada kami.

Mungkin memang seperti itu, kehidupan akan terus berjalan dengan perpisahan. Entah yang sementara ataupun yang selamanya.

“Sendirian aja bapak penulis?” Aira sudah berada di hadapanku tanpa aku sadari sama sekali. Dia seperti hantu cantik yang mempesona. Namun yang kutahu, secantik-cantiknya hantu tetap saja menyeramkan, kalau begitu Aira seperti bidadari cantik yang turun dari surga.

Aku hanya tersenyum sambil menatapnya. Kembali senyum Aira mampu membuat gempa bumi dahsyat di dalam dadaku dan menimbulkan hujan meteor di dalam pikiranku. Dan membinasakan seluruh organ tubuhku, kalau menatap senyum seseorang yang kita suka harus membayarnya, aku rela menabung puluhan tahun hanya untuk melihat senyum perempuan yang paling aku sukai ini.

“Boleh gue duduk?” Tanya Aira memastikan dengan menunjuk tempat kosong disampingku. Aku mengangguk, dia menarik nafas perlahan lalu mengeluarkannya. “Buku lo bagus.”

Aku tertegun mendengar pernyataan Aira. “Sorry, gue nggak salah denger nih?”

Dia menggeleng. “Gue nangis bacanya.”

“Lo pakein obat mata kali mata lo.” Candaku kepadanya.

Dia cemberut tiba-tiba. “Ihh serius, gue beli kok buku lo. Yaudah kalau gitu gue bakar aja sekalian di api unggun.” Sahutnya ketus.

“Eh iya-iya bercanda gue, serius banget.” Aku mulai menahannya ketika dia akan pergi. Aira, dia selalu saja menawan dengan sifat manjanya. Aku selalu berharap bisa mengelus kepalanya dengan lembut dan perlahan, mengecup keningnya dengan hangat. Aku berharap semua itu terjadi. Mungkin sudah saatnya aku mengatakannya, sesuatu yang tidak bisa kukatakan kepadanya sejak lama sekali. “Gue boleh ngomong sesuatu?”

Aira menoleh ke arahku dengan tatapan heran. “Boleh, tumben banget lo minta izin mau ngomong aja?”

Aku tersenyum kecil. “Lo ngaca nggak pas mau kesini?”

“Hah? Kenapa emang? Kerudung gue berantakan atau ada jerawat tumbuh?” Tanyanya panik.

Aku tersenyum sambil menatap wajahnya yang terlihat seribu kali lebih cantik jika terpapar sinar rembulan. “Lo cantik malam ini.” Kataku singkat.

Wajahnya mulai menampilkan ekspresi keheranan tingkat atas walaupun dengan pipi memerah. “Tumben, biasanya malah bilang gue pendek.” Katanya. “Lo cuma mau ngomong itu doang? Kalau iya gue mau nanya sesuatu.” Lanjutnya.

Sebenarnya ada lagi, bisa sabar sedikit nggak sih. Momennya lagi pas juga. Batinku menggerutu. “Nggak kok udah, itu aja.” Kataku kepada Aira. “Mau nanya apa?”

Dia hanya menatapku lekat, aku bisa melihat bola matanya yang hitam dan menawan itu. Kadang kita bosan bermain-main dan mulai mencari pasangan yang serius, kita akan menyadari bahwa hubungan itu membutuhkan pengorbanan dan harus dijaga, kita juga sadar kalau orang lain juga begitu. Hubungan ini penting karena menyangkut seseorang yang akan menemani kita sampai akhir hayat, dan kurasa Aira adalah orang yang tepat. Entah aku bisa menyimpulkan itu darimana, karena Tuhan telah menetapkan jodoh secara rahasia. Aku hanya berharap dan menginginkannya.

Keberadaan Aira selalu bisa membuatku jauh lebih baik daripada biasanya, seakan-akan cairan Dofamine di otakku mulai banjir dan mulai keluar lewat lubang-lubang dalam tubuhku saking banjirnya cairan itu. Aku hanya ingin dengan Aira, berjalan bersamanya, terbang mengepakkan sayap bersamanya dan terjun dari ketinggian bersama-sama. Sehingga tidak ada lagi kesedihan yang harus kurasakan karena keterpisahan orang yang paling kita sayang. Aira, dia tidak mengetahuinya soal perasaan ini. Mungkin kalau dia mengetahuinya, akan terjadi perdebatan, dan kejadian terburuknya mungkin kami akan berpisah dan tidak bertemu lagi. Mungkin aku harus lebih menahan ini sedikit lebih lama lagi sampai waktu yang tepat tiba, tidak, tidak malam ini.

“Kenapa milih untuk jadi penulis?” Pertanyaannya membuyarkan lamunanku.

Aku mencoba berpikir, menelaah dalam-dalam apa yang sebenarnya ingin kudapatkan dari menulis. Uang? Ketenaran? Atau kepuasan? Aku masih menimbang ketiga hal itu, jangan-jangan selama ini aku menulis hanya untuk sesuatu yang tidak berguna. Aku mencoba untuk mencari jawaban yang tepat sampai pada akhirnya aku teringat kepada mendiang ayah. Wajahnya dan impiannya berada dalam bayanganku. Seorang arsitek ternama yang akan membangun sebuah gedung dimana-mana, dan di akui banyak orang. Itu impian mendiang ayah sebelum ia meninggal, tapi tidak pernah bisa tersampaikan. Ayah pergi terlalu cepat.

Aku tersenyum kepada Aira. “Mau di ingat banyak orang.” Jawabku kemudian.

Aira memiringkan kepalanya. “Diingat banyak orang?” Dia mulai menyilangkan kedua tangan pada dadanya. Menandakan semakin malam cuaca berubah menjadi lebih dingin.

“Iya, waktu terus bergerak Aira, tidak pernah berhenti. Setiap harinya banyak manusia yang dilahirkan di muka bumi ini, setiap harinya banyak manusia yang mulai berkembang menjadi hebat, setiap harinya banyak orang luar biasa meninggal karena pencapaian mereka terhadap karirnya dan banyak juga orang biasa meninggal lalu tidak meninggalkan apapun.” Jelasku kepada Aira. “Gue nggak mau menjadi orang biasa, kalau setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk menjadi luar biasa dalam hidupnya, kenapa gue nggak? Dan itu sudah pasti orang-orang akan mengingatnya ketika gue nggak ada lagi di dunia ini.” Lanjutku.

“Beneran hanya karena mau diingat aja?”

Aku menoleh ke arah Aira, perlahan aku mulai berdiri dan berjalan tiga langkah di depan Aira. “Ya kira-kira seperti itu, lagi pula bukannya kedengarannya asik ya kalau ada seorang ibu atau ayah yang bilang ke anaknya nanti ‘penulis waktu zaman ayah keren-keren, apalagi buku penulis yang ini.’ Lalu sang ayah atau ibu menyerahkan buku gue.” Aku tersenyum kepada Aira. “Lagi pula menjadi seorang penulis impian gue dari SMP, kalaupun gue dapat hasil lebih dari menulis seperti punya uang yang cukup, menjadi terkenal dan sebagainya. Itu hasilnya dari semua perjuangan gue.” Kataku kali ini pandanganku mengarah kearah sahabat-sahabatku yang masih saja bernyanyi sedari tadi, mungkin tidak ada yang menyadari kalau aku dan Aira berada disini.

Aira mengangguk sambil berjalan ke arahku. “Kalau nggak bisa diingat secara jangka panjang?”

Aku mengernyitkan dahi. “Maksudnya?”

“Ya setiap pekerjaan selalu begitu Dim. Penyanyi, penulis, artis, aktor, guru, presenter dan yang lainnya. Ketika jam terbang pertama mereka menjadi tenar, lalu setelahnya menghilang gitu aja dan publik lupa sama mereka.” Ujar Aira.

“Selama gue terus nulis kayaknya kemungkinan itu kecil.” Jawabku singkat.

Aira hanya tersenyum.

Malam ini aku dan Aira memandang bulan dari tempat yang sama, menikmati angin malam bersama dengan suara jangkrik yang terus berbunyi sampai pagi. Ah rasanya menyenangkan ketika orang yang kita sayang berada bersama kita sepanjang malam. Aku dan sahabat-sahabatku memilih untuk tidak tidur semalaman, kecuali Aira dan Yuri pukul 3 pagi mereka sudah terlelap di tenda perempuan.

Malam itu Bumi Perkemahan Ragunan tidak terlalu sepi, ada beberapa kampus yang sedang mengadakan ospek kepada mahasiswa baru di bagian lainnya. Aku dan yang lain bisa melihatnya, suara-suara gendang berbunyi, nyanyian dan juga teriakkan orang-orang yang sedang bersenda gurau. Aku menatap para sahabat-sahabatku, selalu senang rasanya ketika kita sadar bahwa ada orang-orang yang selalu membersamai kita dalam keadaan suka maupun duka. Lewat cara yang paling sederhana; persahabatan

---

Hari kelulusan tiba, aku dan yang lainnya lulus dengan tepat waktu. Ada beberapa temanku yang terancam mengulang tapi ternyata semuanya berhasil. Tiga tahun yang cukup menyenangkan berada di SMK. Seakan-akan semua hal indah atau menyebalkan selalu terjadi pada fase ini. Cinta pertama, jatuh cinta diam-diam, persahabatan, pertama kalinya mendapatkan panggilan hinaan, pertama kalinya di caci maki, dan lainnya.

Jelas banyak yang akan aku rindukan di sekolah nanti, semua kenangan yang berserakan sudah saatnya mulai kutata ulang dan ku simpan pada bagian dalam pikiranku. Agar kelak tidak ada satupun kenangan yang hilang dan lenyap begitu saja.

Sedari pagi kami sudah berada di tempat wisuda, seluruh murid-murid dibariskan sesuai kelasnya. Kemudian kami di arak memasuki gedung wisuda dengan musik yang sangat dramatis. Ingin menangis ketika mendengarnya. Ada sesuatu yang istimewa pagi ini, ada dua orang murid yang tidak diarak bersama kami, tapi mereka diarak secara khusus. Kalau dalam sebuah konser mereka mendapatkan bangku VIP. Dua orang ini adalah mereka yang nilai UN-nya terlampau tinggi, kepintarannya sudah tidak diragukan lagi. Perempuan dan laki-laki, yang ada dalam pikiranku ketika melihat perempuan dan laki-laki di arak dengan marawis dan payung, aku hanya teringat soal pernikahan. Walaupun konteks nya adalah wisuda tapi menurutku tetap saja, ini sebuah pernikahan.

“Ini kita kayaknya salah acara nih.” Bisik Bayu kepadaku.

“Gue belum masukin uang ke amplop lagi.” Sahut Rama kemudian. “Lo ada recehan Dim?” Pinta Rama kepadaku.

Dan kami tertawa habis-habisan sampai pada akhirnya kepala sekolah melihat kami dengan tatapan tajam.

Perpisahan tidak akan pernah mengesankan tanpa kita nikmati, kan? Banyak orang yang salah mengartikan perpisahan, ketika mengalaminya mereka hanya meratapi kemudian menjadi linglung dan kebingunan akan apa mereka kedepannya. Itu salah menurutku, seharusnya perpisahan dinikmati dengan cara yang menyenangkan, bukan karena aku senang berpisah dengan seseorang. Tapi hanya agar semuanya terlihat baik-baik saja, ya hanya agar tidak ada perasaan sakit yang berlebihan.

“Kita foto ya?” Kata Yuri selepas acara wisuda selesai. Yuri yang hari itu mengenakan kebaya berwarna ungu mulai sumringah dengan kebersamaan yang ada. “Ayolah, gue akan kangen banget. Dimas akan ke Melbourne, lo jadikan Dim?” Aku mengangguk sambil tersenyum. Ya, kakak memilihkanku kuliah disana Monash University salah satu kampus impianku juga dan impian untuk masuk UIN? Ah aku rasa S2 nya bisa.

“Saka akan kuliah di Grouningen, Rama dan Bayu akan kuliah di Jogja, gue sama Aira kuliah di Jakarta-Jakarta juga, nggak bisa sekalian jalan-jalan kayak kalian...” Yuri berusaha berpikir, matanya mulai melirik ke arah Moses yang sedari tadi sibuk berfoto-foto dengan adik kelas, Moses tidak punya tampang yang memadai sebenarnya, tapi dia punya kemampuan akademik yang tinggi. “Lo kemana Ses?” Yuri menodongnya.

Moses tampak bingung, kami ber-enam melihatnya seakan-akan ada yang aneh tentangnya, sepertinya dia akan memilih sesuatu yang berbeda dengan yang kami pilih. “Gue?” Dia tampak berpikir, wajahnya menjadi seribu kali lipat membosankan daripada beruang betina yang ada di Ragunan. “Gue kerja kayaknya, lumayan jadi Graphic Design kan gaji nya gede.” Sahutnya sombong.

“Yah lo, lulusan SMK nggak mungkin bisa Ses.” Celetuk Bayu.

“Ini tuh masalah kualitas, bukan kuantitas. Kalau gue bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan, jangankan lulusan D3, lulusan S3 sekalipun bisa gue kalahin.” Dia melanjutkan, kali ini dia merapikan dasi hitamnya.

“Udah biarin-biarin.” Saka menengahi, sambil mendorong Bayu mundur.

“Yaudah ayo foto.” Ajak Yuri, tanpa babibu lagi dia mulai menghitung mundur. Aku yang sedari tadi memperhatikan Aira tak terkesiap dengan hitungan Yuri. “Dim, jangan liatin Aira aja dong lo. Mau foto nggak!” Bentak Yuri tiba-tiba, aku lupa satu hal. Yuri adalah wanita berbadan sedikit gempal galak yang pernah memukulku dengan keras. Aku menurut karena tidak mau menjadi korban pukulannya lagi. Hari itu selepas kami berpisah masing-masing, ada satu hal yang kami ucapkan bersama; We’ll meet again.

Arifin Narendra Putra

Bagian Delapan Belas - Malam Api Unggun Perpisahan

Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project dipublikasikan 04 Maret 2017
Ringkasan
Kematian adalah perpisahan yang abadi. Dan sekarang, ketika aku kembali menemukan sosok seorang ayah yang sering menasihati layaknya Saka atau Bayu Tuhan kembali membawa perpisahan kepada kami.