HER - Apakah Teknologi Membuat Manusia Merasa Kesepian?

HER - Apakah Teknologi Membuat Manusia Merasa Kesepian? HER - Apakah Teknologi Membuat Manusia Merasa Kesepian?

Apakah teknologi membuat manusia menjadi lebih merasa kesepian? Akankah teknologi mengurangi kualitas seorang manusia?

Her (2014), sebuah film yang skenarionya ditulis sekaligus disutradarai oleh Spike Jonze, barangkali merupakan salah satu film mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence) terbaik yang pernah dibuat dalam sejarah perfilman dunia. Para kritikus film, juga teknolog dan futuris, menganggap film ini merupakan salah satu yang paling realistis karena tema kecerdasan buatan yang diangkatnya tidak dibuat dengan sentimen umum mengenai ‘robot jahat yang berusaha menguasai dan menghancurkan umat manusia’.

Secara cerdas Jonze justru mengajak penontonnya merenungkan sebuah pertanyaan serius mengenai emosi dan rasa cinta yang terbangun secara unik di antara Theodore (Joaquin Phoenix) dan Samantha, sebuah operating system (OS) berbentuk personal assistance yang suaranya diisi oleh Scarlett Johansson. Ini merupakan sebuah permenungan yang manis sekaligus ironis tentang apakah mungkin seorang manusia menumbuhkan rasa cintanya kepada mesin dengan kecerdasan buatan di dalamnya – dan di saat bersamaan ia juga mempertanyakan apakah mungkin sebuah piranti lunak mampu mengembangkan dirinya agar memiliki sisi emosional manusia yang begitu dalam (deep human emotion), seperti rasa cinta.

Dalam film berdurasi dua jam empat menit ini, kita diajak untuk mengikuti bagaimana perasaan Theodore kepada Samantha tumbuh secara wajar—layaknya rasa cinta yang tumbuh secara alamiah kepada sesama manusia. Pertanyaan ‘apakah teknologi membuat manusia menjadi lebih merasa kesepian?’ rasanya menjadi tidak relevan dan terbantahkan oleh ‘kisah cinta’ antara Theodore dan Samantha ini. Sebab ternyata Samantha mampu membangkitkan Theodore dari rasa depresi karena bercerai dengan istrinya dan ditinggal anaknya. Theodore tak dapat mengendalikan bagaimana perasaannya berkembang dan cintanya tumbuh kepada Samantha, yang ada tetapi tak berwujud, meski ia juga mempertanyakannya… Pada momen itu, jawaban Samantha layak untuk kita renungkan, “The heart is not like a box that gets filled up, it expands in size the more you love. I’m different from you. This doesn’t make me love you any less. It actually makes me love you more.

Pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan adalah, mungkinkah kecerdasan buatan memiliki emosi dan kedalaman semacam itu? Ray Kurzweil, yang sejak tahun 2012 mengepalai salah satu project pengembangan kecerdasan buatan di Google Inc., mengatakan bahwa kecerdasan buatan di level Samantha sangat mungkin terwujud. Menurutnya, saat ini komputer telah mampu memberikan respons unik kepada perintah menunisa berdasarkan prediksi atas sejumlah kemungkinan yang telah memiliki polanya sendiri. Pada waktunya, kemampuan itu akan terus berkembang hingga prediksi dan respons itu bisa membentuk karakteristik tersendiri—seolah-olah ia memiliki perasaannya sendiri, yang sebenarnya merupakan respons balik pikiran dan perasaan manusia atas apa yang ditangkapnya. “AI dengan level Samantha,” kata Kurzweil, “Kemungkinan akan kita jumpai di tahun 2029.”

Saat ini sebenarnya kita sudah karib dengan teknologi AI mirip Samantha, atau meskipun tidak secanggih OS One yang digambarkan Jonze dalam Her. Virtual personal assistance sudah bisa kita jumpai di banyak telepon pintar. Sebut saja Cortana yang dipasang Microsoft di hampir seluruh smartphone keluaran Windows. Atau Siri, virtual personal assistance yang dikembangkan Apple sejak iPhone 4s, yang sudah bisa ‘diajak bicara’ karena kemampuannya mengidentifikasi suara lawan biacara dan menjawab pertanyaan-pertanyaan default yang sudah disiapkan ‘cara menjawabnya’ di dalam sistem. Basis teknologi yang digunakan untuk mengembangkan Cortana dan Siri, kata Larry Heck, teknolog yang menangani proyek AI di Google dan Microsoft, termasuk “…speech recognition, semantic/natural language processing, dialogue modeling between human and machine, and spoken-language generation.”

Kembali kepada film Her, film ini menjadi menarik karena ia tidak terjebak pada gaya film science fiction bertema AI lainnya yang menceritakan hilangnya kontrol manusia atas kecerdasan buatan yang mereka ciptakan. Lebih jauh lagi, hasrat para robot untuk menghancurkan atau menghabisi umat manusia—dan menguasai dunia. Jonze memilih menghadirkan konflik lainnya: Munculnya jenis relasi baru antara manusia dan teknologi—relasi yang menghadirkan perasaan dan emosi yang dalam (bukan sekadar kepemilikan yang bersifat atas-bawah). Jonze menggambarkan secara cerdas sebuah kisah cinta abad ini, yang barangkali juga mulai dimiliki banyak orang lainnya di dunia, tentang bagaimana manusia bisa memiliki ikatan emosional tertentu dengan produk-produk teknologi.

Barangkali inilah yang layak kita diskusikan lebih jauh lagi: Selama ini pendapat kebanyakan teknolog dan ilmuwan seperti Stephen Hawking, Elon Musk, bahkan Bill Gates mengatakan bahwa perkembangan AI bisa memunculkan masalah tersendiri bagi umat manusia. Hawking bahkan mengatakan “The development of full artificial intelligent could spell the end of the human race” dan Elon Musk percaya bahwa “AI is the biggest existential threat”. Namun, Samantha bagi Theodore sepertinya berusaha memberikan dimensi yang berbeda… Bahwa manusia (biologis) tak akan dikalahkan atau dihancurkan oleh kecerdasan buatan yang diciptakannya – karena kecerdasan manusia akan terus berkembang. Perkembangan AI tidak akan menciptakan peperangan manusia melawan robot, alih-alih manusia akan terus mengembangkan kapasitasnya (sebagai manusia) dengan memanfaatkan kecerdasan buatan yang diciptakannya. 

Her adalah film yang indah. Ia sekaligus merupakan sebuah melodrama, romantic comedy, sekaligus artificial intelligence movie, dengan proporsi yang pas namun menginggalkan kesan yang mendalam. Didukung oleh acting Joaquin Phoenix yang memukau sepanjang film, Her tidak terjebak pada drama yang klise atau cerita science fiction dengan sentimen anti-robot yang mudah ditebak. ‘Perpisahan’ Theodore dengan Samantha adalah perpisahan yang indah: Saat Theodore yang kecewa pada Samantha yang ternyata tidak sangat ‘personalized’ (bahwa Samantha memang dirancang dan deprogram untuk bisa jatuh cinta pada ribuan orang) menyadari bahwa rasa cintanya pada Samantha ternyata tak sama dengan rasa cintanya kepada Catherine, mantan istrinya. Namun, bagaimanapun, ‘hubungannya’ dengan Samantha lah yang telah membawanya kepada kesadaran semacam itu. Hingga akhirnya ia memberanikan diri menulis ‘surat cinta’ untuk mantan istrinya itu. 

Secara puitis film ini diakhiri oleh sebuah skena ketika Theodore, yang telah berusaha melupakan kesedihannya dan juga menjauhkan diri dari Samantha, duduk berdua dengan sahabat karibnya, Amy. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dan melewati malam hingga pagi tiba. Film ditutup dengan Theodore dan Amy yang menyaksikan matahari terbit, menghadap ke pemandangan kota Los Angelos dengan nuansa futuristik, menggambarkan sebuah visi baru, kesadaran baru, termasuk masa depan hubungan yang baru…

  

FAHD PAHDEPIE

Fahd Pahdepie

HER - Apakah Teknologi Membuat Manusia Merasa Kesepian?

Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya dipublikasikan 04 Maret 2017
Ringkasan
Setahun yang lalu saya membuat artikel pendek ini untuk sebuah pengantar nonton bareng dan diskusi film Her (2014) di Pisa Kafe Mahakam. Pagi ini tak sengaja menemukan file ini. Daripada dibuang sayang, mudah-mudahan ada manfaatnya jika Anda baca.