Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

2.1 K Hak Cipta Terlindungi

Bagian Tujuh Belas - Kejujuran Lewat Sebuah Tulisan

Bagian Tujuh Belas - Kejujuran Lewat Sebuah Tulisan Bagian Tujuh Belas - Kejujuran Lewat Sebuah Tulisan

“Ram gue nggak yakin.” Ujarku pada Rama dengan penuh keraguan. Hari ini adalah hari dimana bukuku akan terbit, dan akan diadakan Launching buku disalah satu kafe di tangerang selatan. Mba Ayin dan aku sengaja memilih kafe untuk tempat launching karena agar lebih santai mengobrol dengan para pembaca dan juga bisa menikmati makanan jika lapar, kalau ditoko buku terkesan resmi dan tidak ada makanannya pula. Dan akhirnya keputusan kami jatuh di salah satu kafe di Tangerang, kafe yang aku tuju adalah kafe tempat aku dan Mba Ayin bertemu waktu itu, Whats Up Cafe. Gudangnya anak gaul Ciputat kumpul dan bersenda gurau. Memanfaatkan tempat yang stategic dan juga keuntungan jarak dengan rumahku yang cukup dekat, aku merekomendasikan tempat itu kepada Mba Ayin dan sesuai perkiraanku Mba Ayin menyetujuinya.

“Nggak yakin kenapa?” Rama masih terfokus mengendari mobil Honda Jazz merah milik ayahnya. Dia sengaja meminjam mobil milik ayahnya karena dia bilang ini adalah hari istimewa, salah satu sahabatnya akan menlaunching sebuah buku yang mana itu adalah  diriku.

“Nanti banyak yang datang nggak ya? Ini kan buku pertama gue, dan yang kenal gue juga nggak banyak Ram.” Kataku khawatir.

“Tenang aja, nanti akan gue bayar orang yang lewat biar pada datang nyaksiin lo.” Sahut Rama santai.

“Nggak semua bisa dibeli Ram. Rasa ketertarikan juga termasuk.”

“Nggak semua nggak suka uang Dim.” Dia berdalih. Rama adalah orang yang kadang sedikit berlebihan soal uang, tapi pada dasarnya hati nya baik dan cukup ramah untuk kalangan anak muda.

Aku hanya terdiam, mobil Honda Jazz merah yang Rama kendarai hampir sampai di tempat tujuan. Hari ini hanya Rama sahabatku yang datang, Saka dan Yuri pergi berlibur ke Jungle Land, Bayu dan Moses sedang ada urusan soal pekerjaan, ya setelah lulus sekolah nanti kami harus sesegera mungkin mendapat pekerjaan. Aira, ah dia sedang sibuk belajar SBMPTN katanya, lagipula ada keponakan yang harus dia jaga. Aku tidak memaksa mereka untuk datang, ada Rama saja sudah bersyukur. Yang penting nantinya mereka membeli bukuku, sahabat tetap sahabat, tapi sebuah karya tetap sebuah karya harus ada apresiasi disana.

Setelah Rama memarkirkan mobilnya, aku turun dan melihat tempat launching bukuku. Masih sepi belum ada yang datang, karena acaranya juga masih satu jam lagi. Aku melihat Mba Ayin yang sudah melihat kedatanganku dan meyuruhku untuk menghampirinya, aku meninggalkan Rama yang masih sibuk memarkir mobilnya, sudah kubilang padanya tidak perlu repot-repot membawa mobil tapi karena sifat keras kepalanya semuanya menjadi sedikit rumit. Whats Up Cafe terlihat begitu sepi, hanya ada dua sampai empat orang pengunjung saja, dan aku yakin mereka ke sini bukan untuk acaraku tapi hanya untuk nongkrong dan menikmati makanan disini. Dari kejauhan Mba Ayin melambaikan tangan kepadaku, aku tersenyum kepadanya. Aku menghampirinya dengan penuh semangat.

“Udah lama mba?” Tanyaku kepada Mba Ayin yang masih sibuk dengan Teh Lecinya.

“Nggak baru aja.” Jawabnya singkat. “Kamu sama siapa?”

Aku menoleh ke arah Rama yang berjalan ke arahku. “Oh ini sahabat saya mba, namanya Rama.” Kataku kepada Mba Ayin.

“Ganteng juga.”

“Mba kan udah...”

“Memang kalau sudah berumah tangga nggak boleh bilang laki-laki lain ganteng?” Potong Mba Ayin sebelum aku menyelesaikan omonganku. “Kamu pernah nggak punya jaket yang lama kucel dan bau, terus kalau udah punya jaket baru. Kemudian kamu boleh nggak pakai yang lama?”

“Boleh-boleh aja Mba asal dicuci.”

“Yaudah, saya juga boleh-boleh aja dong bilang laki-laki lain ganteng, selama nggak ketahuan suami saya.” Katanya sambil tertawa. Walaupun sudah berumah tangga kuakui Mba Ayin cukup cantik, manis dan imut untuk ukuran perempuan berumur kepala tiga seperti dia.

Aku hanya terdiam mendegar perkataan Mba Ayin, sekilas aku sadar Rama tidak berada disampingku padahal tadi aku melihatnya berjalan ke arahku. Seketika aku menoleh kebelakang, aku melihatnya sedang menggoda mba-mba kasir kafe. Aku lupa cerita bahwa kadang Rama adalah seorang yang mata keranjang, iya matanya di congkel lalu dimasukkan ke dalam keranjang, lalu di jual di pinggir-pinggir jalan. Arghhh Rama itu kalau sudah melihat perempuan yang menurutnya cantik dia akan senantiasa memperhatikan perempuan tersebut, kalau ada kesempatan maka dia akan mendekatinya dan mengajak ngobrol, pada akhirnya kenalan, dekat dan pacaran. Terakhir dia melakukan itu dia di tampar dua orang perempuan sekaligus. Kasihan aku melihatnya, tapi apa boleh buat hukum karma di dunia ini tetap harus berlaku, jadi biarkan saja dulu.

Aku mengumumkan di media sosial akan melakukan launching di daerah Ciputat. Banyak yang komentar dan bertanya tentang acara ini bahkan ada yang sudah bertanya soal bukunya. Disitu aku mengetahui sesuatu bahwa bukuku banyak peminatnya. Kira-kira beberapa komentarnya dan pertanyaannya seperti ini.

Kak cover bukunya kok aneh gitu?

Ini buku pelajaran bukan?

Wah di Ciputat acaranya ya? Ada Dewi Persik nggak?

Ini Dimas yang nulis Laskar Pelangi itu bukan?

Arghh sudahlah itu tidak penting...

---

Sudah hampir setengah jam aku dan Mba Ayin menunggu, ada juga beberapa orang-orang dari penerbit yang membantu mengawasi acara launching bukuku, dan alhasil tidak ada satupun yang datang padahal acara akan segera di mulai. Beberapa pengunjung yang tadi pun sudah pergi begitu makanan mereka habis. Aku mulai khawatir dan gelisah, jangan-jangan tidak ada satupun orang yang akan datang dan sia-sia acara launching ini di gelar. Aku sebenarnya tidak mengharapkan acara launching ini ada, karena aku sadar aku adalah penulis baru dan belum banyak pembaca yang aku miliki tapi Mba Ayin meyakiniku waktu itu di kantornya.

“Yakin Dim, setiap tulisan pasti akan menemukan pembacanya. Dan pasti mereka akan menemukan pelajaran berharga dari tulisan kamu.” Kata Mba Ayin sambil menepuk pundakku.

“Contohnya mba?” Tanyaku padanya.

Dia mencoba berpikir. “Hmm sebentar.” Dia mulai membuka draft naskah yang waktu itu baru dia print. “Kalau cerita soal pingsan di depan kelas karena nggak bisa ngerjain soal matematika termasuk pelajaran berharga bukan sih?”

“Mba kayaknya itu nggak patut di jadiin pelajaran berharga deh.”

Mba Ayin mengangguk pelan. “Oke-oke.” Seru dia sambil kembali membolak-balik naskah tersebut. “Nah ini pelajaran berharga nih, mendorong kakek-kakek tua dari atas jurang. Gimana?” Tanya Mba Ayin dengan tatapan serius.

Aku mengernyitkan dahi. “Mba kayaknya aku nggak nulis kayak gitu deh.”

“Ah masa? Terus ini naskah siapa yang saya print?” Aku menggeleng, Mba Ayin masih terus mencari nama penulis yang menulis naskah tersebut. “Loh ini Diary saya, maaf ya, saya salah print. Soal kakek-kakek tadi lupakan ya hahahahaha.” Katanya sambil tertawa, menutupi kejahatannya.

Terkadang Mba Ayin bisa berubah menjadi editor paling menyebalkan yang pernah ada, tapi kadang Mba Ayin juga menjadi editor, teman atau kakak yang paling pengertian yang pernah ada dan paling sabar tentu saja. Tidak pernah ada orang lain yang kulihat paling sabar menghadapiku selain Mba Ayin, kadang aku suka tidak tahu diri ketika Mba Ayin sudah berkata “Sudah serahkan saja sama Mba.” Kadang aku malah melunjak, dikasih hati minta jantung begitu kalau kata orang tua-orang tua zaman dulu. Artinya sudah dikasih enak malah minta nambah, ya kira-kira begitu.

Lima menit lagi acara akan dimulai tapi tak ada satupun orang yang datang, MC sudah bersiap-siap di depan panggung. Wajahnya sedikit tidak bersemangat, aku tahu sebabnya. Tapi sudahlah semuanya sudah terjadi dan sekarang tantangan terberatku bukan hanya membuat orang-orang tertarik dengan cerita yang kusajikan dalam bukuku tapi juga membuat orang yang lewat tertarik untuk datang ke launching bukuku. Tak lama berselang, lima orang datang dengan setelan anak kampus, aku rasa mereka anak-anak kampus dekat sini. Kampus yang kutahu dekat sini hanyalah UIN, tapi sudahlah lima orang itu cukup untuk awalan. MC langsung membuka acara karena juga sudah waktunya, dia memanggil namaku dan Mba Ayin langsung menepuk pundakku kemudian meyakinkanku untuk maju.

“Lima orang dulu, nanti pasti ada yang dateng lagi.” Seru Mba Ayin sambil mendorongku maju.

Tanpa pikir panjang aku segera maju menuju panggung, Rama yang sedari tadi masih bersama mba-mba kasir melihatku dan memberikan semangat. Aku hanya tersenyum padanya sambil terus menarik nafas mencoba untuk tetap tenang, padahal hanya berada didepan lima orang. Ah entahlah mungkin karena ini pertama kalinya aku berada pada sebuah acara yang aku sendiri adalah narasumbernya. Biasanya aku hanyalah seorang penonton yang melihat dari bawah, tapi sekarang aku berada dipanggung menceritakan semuanya. Ini mungkin yang namanya proses, kalau kata orang-orang roda kehidupan selalu berputar pada porosnya. Poros yang dimaksudkan adalah mimpi, impian kita membawa kita keatas ketinggian namun kadang impian kita sendiri yang membawa kita kembali ke bawah. Tapi bagaimana caranya roda itu bekerja adalah sebesar apa niat kita untuk tetap konsisten berada di atas dan bisa menyeimbangkan agar tidak jatuh kebawah. Namun tidak selamanya orang akan bisa berada di atas, ada masa dimana dia jatuh. Dan mungkin aku sudah terlalu banyak jatuh, dan waktunya aku kembali ke atas, ke tempatku yang seharusnya.

Bertubi-tubi pertanyaan di ajukan oleh MC, dan dengan latihan yang sudah kulakukan dirumah beberapa hari yang lalu aku bisa menjawabnya dengan tenang. Disela-sela pertanyaan aku melihat Rama yang sedang menarik orang lewat untuk mendengarkan aku berbicara soal bukuku, anehnya mereka mau untuk sekedar duduk dan meramaikan kafe. Aku rasa Rama benar-benar membayar mereka untuk duduk di kafe ini. Acara launching nya perlahan ramai karena bantuan Rama dan Mba Ayin, sekarang aku merasa kalau acara ini layaknya acara launching yang beneran. Yang pesertanya banyak tentunya.

“Ada satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada Mas Dimas.” Kata sang moderator yang bisa kuperkirakan umurnya 21 tahunan. “Kenapa memilih mendedikasikan masa mudanya yang mungkin masih bisa mencari banyak pengalaman ini dengan menulis, nggak capek mas mojok dikamar terus nulis sendirian. Berasa jomblo.” Canda sang moderator untuk mencairkan suasana dan itu berhasil, semua orang yang ada di kafe tertawa termasuk Rama yang tertawa sambil mengejek.

“Eh iya aku selalu sulit menjawab pertanyaan seperti ini ya tapi pertama-tama aku memang jomblo.” Tambahku dengan nada yang mengejek diriku sendiri. Semuanya kembali lagi tertawa, tawa itu membuatku sedikit bisa tenang. “Kedua masalah kenapa aku memilih untuk menulis, pernah ada seseorang yang bilang tapi aku lupa siapa dia bilang ‘orang yang menulis adalah orang yang sedang berusaha jujur kepada dirinya sendiri, dan orang yang membaca adalah orang yang sedang berusaha memahami kejujuran orang lain’. Nah menulis buat aku adalah melepaskan semua belenggu yang ada dalam pikiran dan hati untuk kemudian aku terjemahkan lewat aksara dan bisa dibaca banyak orang.” Lanjutku.

“Banyak orang yang kadang tidak bisa jujur sama dirinya sendiri atau sama orang lain, nah lewat menulis inilah aku mencoba untuk jujur sama diri aku sendiri dan semoga semua pembaca buku aku bisa menerjemahkan dengan baik kejujuran aku versi mereka.” Tutupku sambil tersenyum ke arah moderator.

Sang moderator mengangguk paham. “Oke, beri tepuk tangan untuk Mas Dimas, dan berakhir sudah acara ini bagi yang mau memiliki bukunya hari ini bukunya sudah ada ditoko buku. Di pojok sana juga ada kalau tidak mau repot ke toko buku, mau diborong juga boleh.” Jelas sang moderator sambil menunjuk bukuku yang sudah disiapkan panitia di pojok kafe. “Tapi jangan coba borong hati mantan lagi ya, nanti inget kenangan masa lalu lagi.” Candanya dan semua orang kembali tertawa.

Satu jam acara ini berlangsung, dengan bantuan Rama banyak orang yang datang ke sini untuk sekedar berfoto dan mendengarkan semua ocehanku. Kuhitung-hitung sekitar 30 orang datang kesini, jumlah yang lumayan untuk seorang penulis baru.

“Keren Dim.” Sahut Rama ketika aku menghampiri dia untuk mengajaknya pulang. “Bangga gue punya sahabat kayak lo, jadi nggak malu-maluin.”

“Jadi selama ini gue malu-maluin?” Tanyaku.

“Iyalah, masa enggak.” Jawab Rama padaku walaupun dia masih fokus pada mba-mba kasir yang dia goda.

Wajahku datar langsung ketika mendengar pernyataan Rama. “Makasih loh Ram.” Dia menoleh ke arahku dan hanya tersenyum, seakan menjawab dalam hati Sama-sama.

“Gimana bisa kan?” Tanya Mba Ayin yang seketika sudah berada di belakangku.

Aku tersenyum ramah kepada Mba Ayin. “Ya mba, semuanya juga karena mba.”

“Ah bukan dong, karena kamu mencoba untuk berani, kalau misalnya tadi pas saya suruh maju kamu nggak mau maju gimana? Bukunya doang yang nampak penulis nya ngumpet di wc kafe.” Ledek Mba Ayin sambil tertawa, Rama yang sedari tadi menggoda kasir tiba-tiba ikut tertawa.

---

Hari ini adalah hari terbaik yang pernah ada, bukuku terbit dan banyak orang yang akan membacanya. Impian yang sejak SMP berada dalam kepalaku kini sudah tereksekusi dengan baik, dengan cara yang paling baik pula.

Keberhasilan inipun ingin aku rayakan bersama para sahabatku, aku mengundang mereka untuk makan malam lusa selepas kelulusan. Kalau Rama sudah tidak usah ditanya, dia pasti akan berdiri paling depan soal traktir mentraktir. Yang lain akan menyusul, ke tempat biasa Zoe Cafe. Lama-kelamaan tempat itu bukan hanya menjadi tempat favorite ku tapi juga tampat favorite sahabat-sahabatku. Ah senangnya ketika mempunyai kesukaan yang sama pada suatu tempat, tidak ada perdebatan jika ingin bertemu atau sekedar makan bersama.

“Mba Ayin cantik juga ya Dim.”

Aku terkejut dengan peryataan Rama. “Ram dia udah berumah tangga, masih mau lo gebet juga?” Aku berusaha untuk menyadarkannya, kadang Rama kalau tidak di rem semuanya bisa dia lakukan.

“Ya kan jodoh nggak ada yang tahu Dim.” Sahut Rama santai.

“Memang lo mau berjodoh sama ibu-ibu?”

Rama menatapku lekat. “Dim, kalau Tuhan sudah berkehendak mau dia ibu-ibu kek, mau remaja kek mau anak kecil kek. Yang namanya Jodoh semuanya ada di tangan Tuhan. Kita nggak bisa mengelaknya.” Ketika Rama berbicara seperti itu seakan-akan ada musik dramatis yang mendampinginya. “Asik ya gue?”

“Asik apaan? Perhatiin jalan aja lo.” Kataku sedikit menaikkan nada bicaraku.

Rama memang suka seperti itu tapi kalau kalian bertemu dengannya, hatinya baik kok putih seputih kertas.

Kertas yang terbakar api!.

“Lo bukannya deket sama perempuan ya Ram?” Tanyaku memastikan sesuatu.

Dia mengangguk. “Iya, tapi belum terlalu deket banget. Gue belum mau nembak dia, nanti aja kalau sudah lulus atau gue udah kerja gitu.” Ujar Rama.

“Loh kenapa nggak di tembak sekarang aja? Kan sama aja Ram.”

Rama menoleh ke arahku dengan ekspresi Cool nya dia. “Gue masih nyelidikin dia ini perempuan atau laki-laki.”

Aku tersentak, perlahan mataku melotot ke Rama. “Gila lo!”

Rama tertawa keras, bahkan sampai tak bisa berhenti. Aku melihat air matanya keluar karena tidak kuat menahan tawanya. “Bercanda Dim, bercanda.” Katanya masih berusaha menstabilkan tawanya.

“Siapa?” Tanyaku tiba-tiba. Rasa penasaranku mulai muncul.

Dia terdiam, menoleh ke arahku sebentar lalu kembali fokus ke jalanan. “Ada lah Dim temen gue, nanti gue kenalin lo, Saka udah tahu kok.”

Aku memilih diam, kekhawatiranku semakin menjadi. Tapi saat ini aku hanya bisa menduga-duga saja, dan tidak boleh ada satupun kecurigaan yang tidak terbukti. Semuanya harus terbukti, perlahan tapi pasti. Semoga saja bukan dia Batinku berdoa.

 

Arifin Narendra Putra

Bagian Tujuh Belas - Kejujuran Lewat Sebuah Tulisan

Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project dipublikasikan 03 Maret 2017
Ringkasan
Orang yang menulis adalah orang yang sedang berusaha jujur kepada dirinya sendiri, dan orang yang membaca adalah orang yang sedang berusaha memahami kejujuran orang lain