Sette Migliori Amici

Sette Migliori Amici


Cerita Sette Migliori Amici, ditunjukkan kepada Nosalgia Cinta Pertama. Setiap kita pasti pernah punya orang yang ketika SMK kita suka tapi nggak pernah bisa kita dapetin sampai hari ini.

Kategori Fiksi Remaja

2.1 K Hak Cipta Terlindungi

Bagian Enam Belas - Arti Sebuah Kebahagiaan

Bagian Enam Belas - Arti Sebuah Kebahagiaan Bagian Enam Belas - Arti Sebuah Kebahagiaan

Lampu bioskop sudah menyala ketika film yang aku dan Aira tonton selesai. Weekend ini aku memutuskan untuk mengajak Aira pergi ke Bioskop di Depok Town Square untuk sekedar menghilangkan kepenatan. Perhatianku dan Aira tertuju pada sebuah film tentang pendaki gunung yang meninggal di atas sebelum kelompok mereka sampai dibawah.

Everest, itu judul film yang ku tonton. Kesetiaan dan persahabatan mampu di dapat ketika menonton film ini, banyak hal yang mungkin perlu aku tiru dari film ini dalam hal kepercayaan satu sama lain. Film ini cukup menarik, bercerita soal ekspedisi beberapa orang-orang yang cukup ‘berada’ dan punya uang banyak yang ingin mencoba pengalaman sampai puncak Everest. Tapi apa yang terjadi malah sebaliknya, mereka terjebak di puncak karena badai yang dahsyat. Aku belajar satu hal lagi dari film ini, sehebat apapun kita memperkirakan kemungkinan itu tidak terjadi sangat amat kecil. Malah yang sebaliknya selalu datang disaat-saat yang tidak diinginkan.

Aira masih merapikan barang bawaannya, kali ini dia berbeda, dia membawa sebuah ransel yang sering ia pakai untuk pergi ke sekolah. Katanya dia mau belajar sekalian untuk ikut SBMPTN. Aku kagum kepadanya, disaat tersantai sekalipun dia masih terus belajar, masih  terus menghitung, masih terus menghafalkan sesuatu. Untuk cita-cita dan impiannya memasuki kampus impian dan juga adalah kampus impianku Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Aku suka ketika melihatnya sedang seperti ini, seakan-akan waktu menunjukkanku jeda untuk sekedar memandang wajahnya yang ayu, lampu bioskop yang menerpa wajahnya dan juga cahaya dari layar yang menampilkan credit film Everest membuatnya seribu kali lebih cantik.

Aku dan Aira keluar dari bioskop dengan bercerita soal adegan paling aku suka atau adegan paling dia suka. Aku menyukainya ketika dia sedang bercerita, banyak hal yang selalu bisa dia ceritakan. Dari mulai hal yang tidak penting sampai hal yang penting, dia selalu bisa membuat orang lain terheran atau tertawa dengan ceritanya. Kadang tingkahnya yang polos dan tidak tahu menahu membuatnya semakin terlihat manis dimataku. Aku selalu memperhatikannya, bibirnya yang mungil ketika sedang mengucap, matanya yang lentik dan juga hidungnya yang pesek. Semuanya seakan-akan menjadi indah, aku seperti melihat bidadari dalam bentuk manusia. Walaupun kebanyakan bidadari yang kutahu dari dongeng-dongeng mereka mempunyai tubuh yang tinggi, tapi tidak dengan Aira. Mungkin bisa kuperkirakan tingginya hanya 162 cm, aku selalu suka meledeknya demikian. Dia akan mulai memarahiku dengan gaya polosya itu ketika aku mulai berbicara soal tingginya.

Waktu merekam semuanya, semua hal indah yang kulakukan dengan Aira hari ini. Semuanya spesial, ketika dia mulai merapikan kerudungnya, itu membuat jantungku berdebar lebih cepat daripada biasanya. Jatuh cinta itu memang unik, rasanya seperti terjun bebas dari atas ketinggian, perlahan tapi pasti kau akan merasakan guncangan tak terduga pada jantungmu, dia bergerak lebih cepat dari biasanya namun kau tahu itu adalah efeknya. Setelah dari situ kau akan merasakannya, keindahan yang kumaksudkan, kau akan melihat pemandangan yang begitu indah dari atas sana, yang mungkin akan sangat jarang kau melihatnya. Ah, awan-awan putih yang lembut, lautan yang luas dan juga rerumputan yang hijau nan asri. Kau bisa melihat semua keindahan itu dari atas, ketakutan kita soal terjatuh dan sakit hati itu selalu saja datang, namun keindahan yang kita lihat ketika berada disana cukup setimpal dengan kesakitan yang kita rasakan.

Selalu ada patah hati disetiap cinta yang datang, selalu ada lubang dari setiap jalan yang mulus, selalu ada sedih disetiap kebahagiaan yang terjalin. Ah, hidup memang selalu seperti itu, kita tidak pernah bisa memungkirinya. Ketika hatimu patah, kau diajarkan untuk terus bertahan dan bergerak, ketika kau merasa bahagia kau diajarkan untuk terus berlari dan terbang, dan ketika kau jatuh kau diajarkan untuk merunduk dan mulai tenang. Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian, dan semuanya selalu setimpal. Dan ketika kau memutuskan untuk jatuh cinta, kau punya risiko untuk patah hati nantinya.

“Satu bagian lagi yang gue suka.” Ujar Aira dengan es krim yang masih berada di dalam mulutnya. Kami tiba di Zoe Cafe begitu cepat, jaraknya yang tidak terlalu jauh dari tempat kami menonton hanya membuat kami melewati jembatan penyebrangan saja.

“Yang mana?” Tanyaku.

Dia tersenyum. “Di bagian ketika pemeran utamanya, siapa namanya gue lupa?”

“Jake Gyllenhaal.” Jawabku.

Dia terheran sebentar. “Perasaan nggak ada yang namanya Jake?”

“Iya itu namanya aslinya, nama dia di film itu Scott Fischer.” Kataku menjelaskan.

“Nah itu dia si Scott. Gue suka pas dia nolongin temen-temennya, bertanggung jawab sama tugasnya sebagai seorang pemimpin ekspedisi, padahal dirumahnya sang istri sama calon anaknya menunggu untuk dipeluk sama sang ayah. Lo bisa bayangin kan bagaimana kecewanya seorang perempuan melihat sang ayah terjebak di puncak gunung Everest karena badai salju dan tidak ada alat komunikasi apa-apa selain radio, itu pun radionya ada di pos yang dibawah.” Aira mulai bercerita serius, dia mulai menghayati ceritanya sendiri, seperti seorang pendongeng yang ahli.

“He is absolutly amazing!” Lanjut Aira, dia mulai menatap ke arah langit-langit sambil merasa takjub dengan apa yang dilakukan para aktor itu di film Everest.

Aku mulai tersenyum kecil memperhatikannya, aku tidak salah jatuh cinta dengan Aira. Oh bukan, cinta memang tidak pernah salah membuat kita jatuh cinta kepada seseorang. Mungkin kita harus berterima kasih kepada hati, dia yang membuat kita memilih, membuat kita menjadi manusia paling beruntung yang pernah ada. Aku mencintai Aira lebih daripada mencintai diriku sendiri, masa-masa seperti ini yang paling kusuka. Ketika dia begitu tertarik terhadap sesuatu, aku suka itu, seakan perasaannya keluar begitu saja.

“Jadi seorang ‘ahli matematika’ lower class kayak lo tertarik juga sama sebuah film?” Tanyaku menggodanya.

“Memangnya menurut lo gue cuma bisa menghitung aja?” Aku menggeleng dan dia tersenyum.

Aku menghabiskan malam yang cukup romantis dengan Aira, ini memang bukan yang pertama namun aku tidak akan melupakan momen sepanjang hidupku. Waktu merekamnya secara perlahan, bagaimana Aira tertawa dan bagaimana kami beruda tertawa bersama. Waktu merekamnya, bagaimana gelang yang kubelikan untuknya ia pakai malam ini, begitupun kerudung yang ku berikan kepadanya beberapa waktu yang lalu. Ah, cinta akan selamanya seperti ini membuat kita bahagia dari waktu ke waktu. Dan tidak ada yang salah sama sekali soal cinta, yang salah hanyalah kadang kita tidak bisa menerima sepenuhnya.

---

Di jalan-jalan yang panjang Aira memelukku erat, malam ini dingin jelas sangat dingin. Aira kupersilahkan untuk memakai jaketku yang sedikit lebih tebal dan dia menerimanya dengan senyum yang indah.

“Terima kasih.” Katanya.

Ini pertama kalinya Aira memelukku, aroma tubuhnya masuk menyeruak kedalam hidungku. Seketika aku memejamkan mata sejenak, mencium aroma tubuhnya dan perlahan perasaan jatuh cinta itu semakin dalam. Kerudungnya mulai tertiup angin seiring dengan lebih cepat nya aku memacu motorku. Jalanan kota Depok cukup sepi kalau sudah mendekati pukul 11 malam. Namun aku menyukainya, setiap waktu yang kugunakan dengan Aira adalah waktu yang paling berharga yang kumiliki dalam setiap inci nafasku. Jika saja aku bisa memilih berjodoh dengan siapa, malam ini juga, detik ini juga aku memilih Aira yang dengan sederhana begitu indahnya dia ketika berucap. Namun, kita ditakdirkan untuk tidak bisa mengetahui semua rahasia yang Ia siapkan. Takdir, adalah hal yang paling rahasia yang sudah Ia tetapkan, jangankan melihat mungkin mengintip saja tidak bisa. Kita hanya bisa menerkanya dengan doa, dan malam ini aku berdoa agar Aira kelak menjadi jodohku yang sebenarnya, menjadi perempuan yang akan merawatku sampai tua, mengajarkan alif ba ta kepada anak-anakku dan disitulah aku akan menjadi laki-laki paling beruntung yang pernah ada.

Aku menatap Aira yang tertidur dari spion, aku melihat wajah manisnya itu. Seandainya aku bisa memperbudak waktu, maka aku akan mulai memperlambat atau menghentikan saat-saat seperti ini, hanya agar aku.. Hanya agar aku bisa melihat wajahnya seribu kali bahkan jutaan kali. Memandangnya tidak pernah membuatku bosan, memandangnya membuatku mempunyai harapan hidup yang jauh lebih baik, seakan-akan cairan dofamin dalam otakku meledak dan banjir. Pikiranku tidak karuan, yang aku bayangkan hanyalah aku dan Aira duduk berdampingan di pelaminan. Arrgghh entah darimana aku mendapatkan pemikiran semacam itu, lulus sekolah saja belum tapi sudah memikirkan sebuah pernikahan. Dengan Aira pula, tapi aku tidak bisa memungkirinya, aku mencintainya dan mungkin aku akan mau menikahinya. Menjadi Ali untuk Fatimahnya, menjadi Adam untuk Hawanya, dan menjadi Romeo untuk Julietnya.

“Dim.” Panggil Aira tiba-tiba.

Aku sedikit terkejut. “Lo kok nggak tidur? Gue kira udah tidur.”

“Udah sedikit nyenyak kok tadi tapi gue mikir, kasian bahu lo pasti pegel ya buat sandaran kepala gue kayak gini?”

“Oh nggak kok nggak, justru gue nggak mau kalau lo tidur di motor nggak ada sandarannya gini, nanti kalau kepala lo kebawa angin gimana? Terbang lah sudah.” Candaku kepada Aira.

Dia tertawa kecil, sambil memukul bahuku. “Ada-ada aja deh lo.” Aku suka tertawanya, sedikit manja. “Dim.” Panggil Aira lagi.

“Iya?”

“Lo tahu nggak arti kebahagiaan itu apa?”

Aku mengernyitkan dahiku sambil terus fokus ke mengendarai motorku. “Kenapa kok tiba-tiba nanya begitu?”

Aira menggeleng. “Nggak tahu, gue cuma merasa hari ini bahagia aja sama lo.”

Kita jadian? Oh ayolah aku juga bahagia Batinku sumringah. Aku berdehem. “Bahagia ya? Kalau menurut gue, bahagia itu ketika kita menemukan kenyaman terhadap suatu hal, atau ketika kita mendapatkan pasangan yang tepat, pekerjaan yang mapan, atau jika beruntung mendapatkan anak-anak yang baik.” Jelasku kepada Aira.

“Menarik.” Sahut Aira singkat. “Contohnya?”

Seperti sekarang, kamu memelukku. “Hmm... Seperti Sette misalnya, gue nyaman waktu kita berkumpul dan bercerita soal keresahan kita masing-masing. Waktu Rama dapet nilai jelek dalam Animasi, waktu Bayu diputusin Nisa dan nangis 2 hari 2 malam, waktu Yuri dan Saka berantem padahal alasannya karena Yuri minta es krim doang dan waktu Moses diolok-olok hitam. Itu juga salah satu kebahagiaan, kan? Adanya kehadiran orang-orang disekitar untuk kita.” Aku mulai serius, dan sepertinya Aira menjadi lebih serius.

“Yang terakhir itu jahat loh Dim, Moses tuh nggak hitam.”

“Terus?”

“Cuma kegosongan dikit aja, ibunya lupa ngangkat dia dari jemuran waktu kecil.” Aira tertawa dan aku tertawa. Candaan Aira mebuat pecah sunyinya malam. “Tapi kalau buat gue bahagia itu bukan seperti apa yang lo bilang barusan.” Lanjut Aira.

“Terus?”

“Bahagia buat gue itu ketika melihat orang-orang merasakan kebahagiaan yang kita rasakan, buat gue membahagiakan orang-orang yang peduli sama kita jauh lebih penting daripada membahagiakan diri kita sendiri, ketika mereka tertawa dengan apa yang kita lakukan untuk mereka itu sudah satu kebahagiaan.” Aku hanya bisa terdiam sambil mendengarkan. “Yang penting itu bukan mereka selalu ada untuk kita, tapi kita yang selalu ada untuk mereka. Membuat mereka bahagia dari waktu ke waktu, entah itu keluarga, sahabat, pacar, ataupun orang lain. Hidup itu nggak asik Dim kalau lo tertawa sendirian, hidup itu jauh lebih asik ketika lo juga membuat orang lain tertawa dengan apa yang lo lakuin.” Tutup Aira.

Aku tertegun dengan ucapan Aira, perempuan sederhana penyuka angka ini membuatku belajar sesuatu. Ya, apa yang Aira sebutkan benar soal arti kebahagiaan. Bahagia adalah ketika kita bukan hanya membuat diri kita sendiri tertawa, tapi juga membuat orang lain tertawa dan bahagia dengan apa yang kita lakukan untuk mereka.

Ya, itu sudah satu kebahagiaan.

Arifin Narendra Putra

Bagian Enam Belas - Arti Sebuah Kebahagiaan

Karya Arifin Narendra Putra Kategori Project dipublikasikan 02 Maret 2017
Ringkasan
Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian, dan semuanya selalu setimpal. Dan ketika kau memutuskan untuk jatuh cinta, kau punya risiko untuk patah hati nantinya.