Hegemoni Sayap di Negri Rayap

Hegemoni Sayap di Negri Rayap Hegemoni Sayap di Negri Rayap

Hegemoni Sayap di Negri Rayap

          Gundukan tanah dekat gudang jerami itu riuh sekali. Ribuan rayap sedang mengadakan domonstrasi besar-besaran di depan istana Ratu. Meskipun menggunakan sistem Kerajaan (atau tepatnya Keratuan) mereka tetap mengenal demonstrasi, Sang Ratu selalu dengan senang hati menerima aspirasi rakyatnya. Tapi kali ini situasinya sungguh berbeda, para demonstran, yang mayoritas merupakan kaum rayap yang terpandang (karena di negri rayap, yang sering demo adalah mereka yang berkasta mulia, rayap jelata lebih sibuk bekerja dan melayani sesama) menuntut sesuatu yang tak masuk di akal. Mereka menuntut agar ratu memberi mereka formula sayap, mungkin mereka iri dengan konvoi capung yang sering terbang desekitar gudang.

               Suasana semakin memanas, ditambah lagi terik matahari pukul 11 siang yang terasa membakar, satu dua rayap yang berpenampilan preman rayap memaksa menerobos barisan keamanan Istana Keratuan. Ratu yang masih di ruang pribadinya berfikir keras apa yang harus di lakukan menghadapi ribuan demonstran yang semakin brutal.
Sampai akhirnya Ratu mengirimkan pesan kepada kepala keamanan istana agar menyiapkan majlis negosiasi dengan perwakilan demonstran, Ratu sendiri yang akan bernegosiasi dan mendengar aspirasi mereka.

***

               6 rayap perwakilan demonstran dipersilahkan memasuki istana, dikawal ketat oleh Kepala Keamanan.

Sebenarnya, jika keadaan belum serunyam ini, jangankan bernegosiasi dengan Ratu, menatap wajah mulia ratu saja, rayap tak ada yang mampu. Konon katanya, ratu memiliki kemampuan seperti yang dimiliki Dewi Angin Timur dari Yunani, yakni bisa mempengaruhi dan menundukkan lawan bicaranya. Tapi entah setan rayap mana yang telah merasuki mereka sehingga mereka menjadi penganut ajaran iblis yang makar pada Tuhanya. Mungkin benar pepatah yang mengatakan bahwa "iri dengki dan tinggi hati bisa merusak perangai dan budi pekerti".

"Katakan apa yang ingin kalian katakan!" Sang Ratu dengan jubah kuning menyala tersandang di bahu berkata tegas, seperti berwibwa sekali.
"Kami berhak mendapatkan lebih dari apa yang di dapatkan rayap jelata" salah satu perwakilan memuali negosiasi, maju dua langkah, langsung menuju pokok arah bicara.
"Kami telah mengabdi pada Ratu 6 bulan lebih, kami bukan rayap biasa lagi. Kami semua tau bahwa Ratu memiliki ramuan untuk menumbuhkan sayap. Maka berikanlah kami ramuan tersebut agar kami bisa berevolusi" rayap itu melanjutkan.
"Evolusi? Dari mana kalian mengenal kosa kata itu?" wibawa sang Ratu mulai terkikis oleh kaget, tak menyangka pembicaraan akan memanas sedini ini.
"Kami semua tau, kami telah beberapa kali keluar dari gundukan tanah, kami melihat, kami belajar. Larva berevolusi menjadi capung, jentik nyamuk berevolusi menjadi nyamuk dewasa, ulat berevolusi menjadi kupu-kupul, dan tentu saja kami berhak berevolusi menjadi "Rayap Bersayap"." perwakilan yang lain mulai ikut menimpali, bahkan walau mereka tak tau nama yang tepat untuk diri mereka ketika sudah bersayap.
"Lantas apa yang bisa kalian lakukan dengan sayap "rapuh" itu?" Ratu bertanya, hanya untuk beretoris, ia tau ini keadaan yang sulit sekali.
"Kami akan menjelajah luasnya udara, kami akan menaklukkan dunia, terbang tinggi menuju bulan, akan kami buktikan bahwa rayap bukan makhluk lemah" para perwakilan sudah mulai saling menimpali.
"Apa kata kalian? Menaklukkan dunia? Terbang tinggi menuju awan? Dunia itu kejam wahai anakku, kalian seharusnya tau fakta itu, kalian hanya akan menjadi santapan para predator lapar. Aku ini ibu kandung kalian, aku tau apa yang terbaik bagi kalian" Ratu berkata pelan, entah itu meremehkan atau kasihan. Hilang sudah wibawanya, jiwa keibuanya telah menelanya mentah-mentah.
"Kami tidak akan pernah tau jika kami tidak pernah mencobanya, kita akan beradaptasi dengan cepat, seperti capung dan kupu-kupu" mereka tak sedikit pun tersentuh dengan perubahan nada bicara Sang Ratu.
"Kalian berbeda dengan mereka anakku, sayap kalian akan sangat rapuh, dan kalian . . . . " suara Sang Ratu mulai melemah.
"Maaf Ratu, izinkan aku menyela," salah satu dari mereka menyela, maju beberpa langkah. Sang Ratu menelan ludah, ini pertama kali dalam sejarah rayap. Rayap menyela Ratu.
"Diskusi ini tidak akan pernah ada gunanya, ribuan rayap sudah berkumpul sejak pagi tadi dihalaman istana, cepat atau lambat jika Sang Ratu tidak mengambil kebijakan yang tepat, kejadian terburuk dalam sejarah akan terjadi siang ini" yang satu ini bicaranya mantap dan meyakinkan sekali, penuh intervensi.
"Beri aku waktu berfikir" Sang Ratu mulai sedikit putus asa.
"Tapi mereka tak punya waktu lagi untuk tidak melakukan hal-hal buruk wahai Ratu" ia berkata lagi, masih dengan penekanan ala politisi ulung.

Kepala keamanan memasuki ruangan, mengabarkan kondisi darurat, pleton keamanan paling depan sudah jebol, demonstran sudah tak bisa di tahan lagi.

"Baiklah, permohonan kalian diterima" Sang Ratu kalah,
"Setiap rayap yang telah mengabdi lebih dari enam bulan, akan mendapatkan formula sayap untuk musim dingin ini (yang berarti 2 minggu lagi). Segera kabarkan keputusan ini pada seluruh rayap demonstran dan suruh mereka segera bubar, dan kembali menjalankan tugas kerayapan masing-masing" Sang Ratu memutuskan dengan kepala tertunduk, ia kalah dari anak-anak dan rakyatnya sendiri.
Para prwakilan keluar dengan senyum bangga mengembang.
Hanya butuh waktu kurang dari 5 menit agar keadaan terkendali dan para rayap demonstran segera bubar, kembali ke aktivitas kerayapan masing-masing

***

           2 minggu berlalu bagai kedipan mata, sungguh tak terasa. Hari pelapsan telah tiba, satu dua rayap telah selesai melakukan evolusi, atau lebih tepatnya metamorfosis, berubah menjadi "Rayap Bersayap". Kuning keemasan, mengagumkan dan sungguh gagah perkasa. Yang lain mulai saling susul menyusul bermekaran, bertubi-tubi bak barisan domino yang roboh. Semua rayap bergembira, hanya Ratu yang bersedih, mengurung diri di istana, ia akan kehilangan anak-anak dan rakyatnya, ia tau apa yang akan terjadi, ini hanya soal waktu.

               Proses pelepasan rayap senja ini akan di pimpin langsung oleh kepala keamanan istana, atas mandat Sang Ratu. Seluruh rayap yang telah sempurna bermetamorfosis dibariskan rapi sejak sore tadi tepat di ujung gerbang yang langsung menatap awan. Suara tepuk tangan dan sorak-sorak masih riuh sekali, bahkan lebih riuh dibandingkan demo besar 2 minggu lalu.
Genderang mulai di tabuh, tepat saat matahari tergelincir di pelukan ufuk barat, pleton penerbangan pertama meluncur, disusul dari belakang pleton kedua dan seterusnya. Sebelum jingga awan maghrib sirna proses pelepasan Rayap Bersayap itu usai. Ini akan menjadi malam yang amat panjang bagi sejarah Negri Rayap.

***

             Sore keesokan harinya. Seluruh rayap berkumpul didepan istana, setelah selesai proses pemakaman masal, Sang Ratu menyampaikan pidato yang menggtarkan, semua rayap tertunduk malu. Dan dengan epik Ratu menutup pidatonya dengan ungkapan yang kelak akan terukir di depan istana.
"Ketinggian dan Sayap bagi mereka yang belum siap hanya akan berujung bencana dan musibah. Barang siapa yang selalu dengki dan merasa tinggi maka Tuhan akan merendahkan dan membinasakan mereka. Dan barang siapa rendah hati dan berbudi, maka Tuhan akan menjaga dan menyelamtkan mereka"

***

             Tadi, tepat saat embun pagi pertama menetes dari daun, Ratu memerintahkan kepala keamanan bersama pasukannya keluar dari gerbang, mengabarkan kondisi Rayap Bersayap terkini, menyelamatkan siapapun yang bisa deselamatkan.

Dan betapa terkejutnya Kepala Keamanan ketika melihat di sekeliling melihat ratusan "Rayap Terbang" mati tak berdaya, beberapa puluh terlihat hidup, berjalan rapi membuntuti seperti giringan napi, ling-lung dan putus asa, sayap-sayap kuning berserakan dimana-mana. Rasa sedih bercampur dengan haru dan pilu. Sejarah kelam negri rayap.

***

Sang Ratu selalu benar. Ketinggian dan Sayap bagi mereka yang belum siap hanya akan berujung bencana dan musibah.

 

--------

Cianjur. 28-02-2017

Gambar

Hammad abdrchmn

Hegemoni Sayap di Negri Rayap

Karya Hammad abdrchmn Kategori Inspiratif dipublikasikan 02 Maret 2017
Ringkasan
Sang Ratu selalu benar. Ketinggian dan Sayap bagi mereka yang belum siap hanya akan berujung bencana dan musibah.
Dilihat 25 Kali