"Serbet", "Daster", dan Jenggot

"Serbet", "Daster",  dan Jenggot

Karena Muslim, maka hormati dan beri lah pelayanan maksimal untuk para tamu "fal yukrim dhaifahu" pesan Nabi kepada Umatnya. Jika Islam dikatakan tidak bisa mewakili Indonesia keseluruhan, paling tidak budaya ketimuran menjadi alasan kenapa harus memuliakan tamu.

Tamu yang datang katanya beda "warna" keislamannya dengan Muslim Lokal katanya?. Kok repot ngurusi itu, yang pasti sama-sama Muslimnya, terlalu banyak kesamaan Islam "Lokal" dengan Islam "Import" mereka. Tuhannya sama, Nabinya sama, Kitab Sucinya sama, dan kesamaan-kesamaan lain.

"Kun Khairal Mudhīf lidhuyūf" jadilah Indonesia tuan rumah terbaik untuk siapa saja yang menjadi tamu, tapi jangan juga "lebay" karena "udang di balik batu", teringat pesan Baginda Nabi "siapa yang menjilat kepada orang kaya sekalipun si kaya itu sholeh, sungguh telah hilang 2/3 agamanya". Jadi tetaplah menjadi bangsa yang 'Izzah bermarwah.

Positifnya, ketika "Sang Konglomerat" bertamu ke Indonesia, banyak yang kembali belajar "ke arab-araban" mengutip istilah mereka dulu. Melalui TV terlihat seorang menteri yang kesehariannya tidak memakai "serbet" dikepalanya, alhamdulilah mendapat hidayah untuk memakai "serbet" pula.

Mungkin saking perlunya berpenampilan kearaban saat ini, yang dulu bilang "makin panjang jenggotnya, makin goblok otaknya" kebelet sim salabim mau punya jenggot, Why? Ternyata Jenggot plus "daster" itu style orang kaya.

Zainal Hakim

"Serbet", "Daster", dan Jenggot

Karya Zainal Hakim Kategori Catatan Harian dipublikasikan 01 Maret 2017
Ringkasan
Ternyata Jenggot plus "daster" itu style orang kaya.
Dilihat 38 Kali