Monokrom Tertiup debu

Monokrom Tertiup debu Monokrom Tertiup debu

Tak akan ku mengenal cinta bila bukan karna hati baikmu.

Masa putih biruku, tanpa pikir panjang kedepan, tanpa tatap serius, masa mencari pengalaman, masa segala ingin kucoba, masa untuk bersenang-senang semata, itu pikirku.

Empat tahun berlalu dengan kedip mata ringan. Disuatu tempat ku temukanmu tak sengaja, saat itu aku tak pernah berfikir untuk mengenalimu.

Pesantrenku terpisah antara putra dan putri, tapi kulihat mereka saling mengenal. Aku heran, awalnya. Tapi setelah ku kenali dunia maya ternyata semua ada disana. Begitupun dia, orang yang pertama aku kenal didunia maya adalah dia orang yang kutemukan tak sengaja. Awalnya aku ragu dia atau bukan. Tapi aku tak peduli itu, yang terpenting dia begitu baik padaku hingga aku nyaman berada didekatnya, kala itu.

....

....

Hari itu, Hari Raya Idul Adha. Sebenarnya tak menduga jika harus ada hubungan antara aku dengannya. Tapi ini sudah terjadi. Syetan jahat berhasil menggoyahkanku. Dengan pikiran kerdil, kujalani hubungan ini.

Satu kejadian, dia berhasil membuatku tegang. Saat kami bertemu di satu organisasi yang berkedudukan dia sebagai sebagai ketua dan aku sebagai wakil ketua. Kaget bukan main. Aku yang tak pernah angkat bicara didepannya. Entahlah waktu itu  setiap berada didepannya.  aku tak pernah bertingkah. Untuk sekedar tersenyumpun, bibir ini terasa terbungkam. Gerak badan ini terasa kaku. 

Oh ya, perkenalkan namanya Fahmi, ia dilahirkan di kota merdeka yang berhewan. Katanya sih tampan dan pendiem tapi dia kalem. Ia pintar, dan kuduga ia berwatak jaim. Dengan suaranya yang lembut ia bicara. Dia sangat dingin -saat itu- tapi untukku tidak. Dan masih banyak lagi, jika kuceritakan mungkin tak cukup sebuku ini aku tulis.

Hingga tiba saatnya, takdir mengatakan untuk berhenti sampai sini. Aku ingat saat itu aku sedang dalam kondisi tidak baik dan kuambil keputusan ini. Dan teledornya aku, hai ini ternyata lebih dari satu masalah. Aku selalu berusaha unutk lupa, tapi ini belum berhasil. Kupikir, jalani saja, hingga akhirnya memudar dengan sendirnya. Meski setiap ku dengar namanya, aku terbesit sakit. Ku coba biasa saja. 

Lama tak jumpa, hingga mungkin sudah pudar. Aku diuji kembali dengan dipertemukan diorganisasi yang sama, dan sama-sama sebagai kader. Takbisa, jika harus bersikap seperti seolah-olah tidak pernah kenal. Ya meskipun harus tutup telinga mendengar olokan mereka yang entah menyinggung ataupun menghibur. Percakapan kecil muncul walau sedikit kaku, tapi setelah lama semuanya menjadi cair. Ini menjadi baik tak seperti dahulu. Tapi tetap saja rasa ini, entah rasa apa, mungkin rasa tidak enak -yang jelas bukan rasa anggur ataupun rasa stoberi bahkan rasa ingin kembali- hingga kini lagi lagi kami harus bertemu kembali diorganisasi sekolah. Dengan senyum yang masih sama tapi dengan hal-hal yang berbeda.

Dan aku mulai sadar, bahwa semakin ingin lupa semakin aku mengingatnya. Semua seharusnya dijalani dengan biasa saja, dengan memberi ruang kenangan. Bagaimanapun, tinta warna-warninya pernah terlukis dikanvasku dan telah menjadi monokrom. 

Demikianlah, selembar kertas hitam putih yang tak sengaja kubuka lalu ku ingat-ingat. Tak ada maksud lain. Hanya ingin bercerita.

Cianjur, 15 Februari 2017

Sarah Alifia

Monokrom Tertiup debu

Karya Sarah Alifia Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 01 Maret 2017
Ringkasan
Ku temukan kembali monokrom itu, dan bukan hanya sekedar benda, ku temukan kembali dirinya. Kutiup debu diatasnya, lalu ku tersenyum simpul. Senyum teringat kala itu.....
Dilihat 29 Kali