Sastra Dalam Kepala

Sastra Dalam Kepala Sastra Dalam Kepala

Ia adalah sastra, ruang dimana pembaca sebagai manusia biasa boleh melepas baju-baju yang melekat dalam kehidupan: agama, norma, aturan negara dan banyak lainnya. Sastra ialah fiksi, fiksi bisa berasal dari fakta. Fiksi dan fakta melebur dalam sastra, masuk ke dalam kepala-kepala, berakhir dalam makna. Sastra merangkul segalanya. Ia bisa hidup di mana saja: dalam duka, suka, ragu, pilu atau bahkan hal yang sebenarnya biasa. Tetapi sastra hanya berkecimpung dalam kepala. Imajinasilah yang melandastumpuinya.

Laiknya dua sisi mata uang, sastra bisa membuat banyak orang jatuh cinta dan sebaliknya: tak membuat jatuh cinta. Jika berkenalan dengan sastra, kata-kata yang tak lazim digunakan atau bahkan tak pernah kaudengar sama sekali akan ada, hadir dalam kalimat-kalimat di paragraf demi paragraf, dari satu cerita ke cerita lainnya. Sastra bukan mengambil yang tak ada menjadi ada. Ia hanya mengkristalkan peristiwa—entah fiksi atau fakta—dengan kata-kata.

Sastra yang dimaksud di sini bukan puisi atau syair. Bagi saya, sastra sejati ialah prosa. Prosa bisa dijewantahkan sebagai cerita pendek atau cerita panjang—mari menyebutnya sebagai novel—yang mampu menguak sesuatu. Sesuatu yang tak ada dalam pikiran. Sesuatu yang tertutup sesuatu yang lain kemudian bisa dilepas. Sesuatu yang menohok, mengganggu, menggelisahkan. Sastra akan senantiasa mengganjal isi kepala.

Kemarin, saya membaca sebuah cerpen berjudul Pelajaran Mengarang milik Seno Gumira Ajidarma. Meski sudah membacanya, saya ingin membacanya terus-menerus. Pembacaan yang ini adalah yang kali keempat. Yang pertama karena penasaran, yang kedua karena ingin mengacak-acak apa yang unggul di dalamnya, yang ketiga karena merindukannya dan yang keempat, yang ini, karena saya ingin menuliskan esai ini. Cerpen ini sederhana namun mampu membongkar ketidak sederhanaan.

Cerita Pelajaran Mengarang hanya bermula dari seorang guru yang memberikan tugas mengarang dengan menawarkan tiga pilihan judul: keluarga kami yang berbahagia, liburan di rumah nenek dan ibu. Sandra yang anak seorang pelacur tak bisa menceritakan apapun. Dalam kepalanya hanya ada bayangan perih kehidupan yang dijalaninya bersama sang mama. Sandra tak bisa menulis seperti yang teman-temannya tulis.

Dalam cerita pendek yang sederhana ini, Seno menguak tiga narasi besar sekaligus: sistem belajar yang tak menyentuh psikologi anak, pandangan umum tentang kehidupan anak-anak yang menyenangkan—ternyata tak sesederhana itu—dan sisi lain kehidupan seorang pelacur. Jean Paul Sartre berpendapat bahwa sastra adalah prosa yang mampu menyentuh kehidupan kemanusiaan dan permasalahan di dalamnya. Pelajaran Mengarang memenuhi itu. Dengan pilihan kata yang sederhana, cerita pendek ini mampu menyibak hal-hal yang tak biasa dipikirkan. Sisi lain kehidupan.

Makna sastra bagi saya adalah proses membaca yang hanya terjadi di dalam kepala. Sebelum masuk ke dalam kepala (baca: otak) sastra terlebih dahulu hinggap di sekitar kehidupan, peristiwa demi peristiwa yang bersileweran dan ditangkap indera. Peristiwa itu mengalami proses pengkristalan dengan huruf, lalu kata, menjadi kalimat, disusun dengan paragraf kemudian berakhir sebagai cerita pendek yang penuh makna. Proses tersebut hanya ada dalam kepala manusia.

Kita tak bisa mengukur sastra dari kacamata agama. Sebab jika di dalam sastra pelacuran adalah hal yang biasa, maka agama melarangnya. Tokoh Mama dalam cerpen Pelajaran Mengarang akan dianggap salah. Pun dalam norma sosial, pelacur dianggap hina. Keputusan Mamanya tetap mengurus Sandra dalam lingkungan pelacuran akan dianggap tidak baik. Pelajaran Mengarang sendiri tak mempersoalkan itu. Cerita ini hanya menyingkap perasaan Sandra. Tidak lebih. Kalaupun pembacanya mengalami konflik bathin yang lebih, itu lain soal. Sastra harus dipisahkan dari semua aturan kehidupan yang dibentuk manusia. Untuk memahami sastra, hanya diperlukan manusia dan kepalanya, tanpa apa-apa yang melekat dalam hidupnya.

Dalam kepala, isi cerita akan membentur pengalaman-pengalaman dalam diri pembaca. Jika isi tulisan tersebut sama dan tak mengguncang kekayaan pengalaman tersebut maka bagi saya itu belum disebut sastra. Namun jika pengalaman atau pemikiran pembaca sama dengan isi cerita dan pembaca merasa mendapat kesamaan, sastra telah terbentuk dengan benar. Sastra tidak kaku. Ia lentur dan bisa masuk ke mana saja. Bisa menangkap segalanya.

Sastra hanya ada dan terjadi dalam kepala. Tidak dimana-mana.

Ayu Alfiah Jonas

Sastra Dalam Kepala

Karya Ayu Alfiah Jonas Kategori Kesusastraan dipublikasikan 28 Februari 2017
Ringkasan
Sedikit Tentang Sastra