Taratih

Taratih


Sebuah cerita semi-fiksi, yang berbentuk seri dan di dalamnya terdapat beberapa gambar sesuai kejadian di dalam cerita.

Kategori Roman

35 Tidak Diketahui

TARATIH / Story #1 : Pilot

TARATIH / Story #1 : Pilot TARATIH / Story #1 : Pilot

Ini adalah cerita kecil dalam hidupku. Seorang Tara Muhammad, anak muda yang memiliki minat di dunia menulis. Walau jarang sekali menulis, karena berbagai alasan. Minat menulis pun hadir saat duduk di bangku SMP. Saat itu, temanku yang ibunya bekerja di penerbit buku terkemuka di Jakarta, membawa buku Raditya Dika yang waktu itu sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Aku meminjam buku itu saat istirahat, dan lumayan tertarik. Aku sebelumnya hanya tertarik pada buku komik, khususnya Petualangan Tintin dan Detektif Conan. Menurutku, buku komik yang isinya misteri atau detektif, sangatlah seru karena menimbulkan banyak sekali perspektif pada pembacanya. Namun, ketertarikan pada buku yang isi di dalamnya hanya tulisan tanpa gambar, perlahan mulai tumbuh dan tumbuh semenjak membaca buku itu. Akupun saat itu langsung membeli buku serupa di toko buku. Tidak disangka, saat sesampainya di rumah, langsung tamat aku baca.

Hari-hari berikutnya diisi oleh minat yang semakin dalam. Walau referensi bukunya hanya dari Raditya Dika. Maklum, sekeluargaku tidak ada yang memiliki minat dengan buku, apalagi buku cerita. Memang sih, buku Raditya Dika jika dilihat-lihat, sebenarnya juga bukan buku cerita model novel, namun isinya tetap saja cerita yang dibalut dengan pembawaan catatan harian. Aku membaca buku-bukunya yang lain, dan membuat pikiranku menjadi terbuka tentang dunia penulisan. Hanya saja, media yang aku miliki agaknya kurang, sehingga membuat doronganku untuk menulis sering sekali mandek. Setiap membuat cerita, pasti berhenti atau buntu di tengah jalan. Terkadang, mood membuatku enggan untuk melanjutkan dan membuatku berpikir bahwa cerita yang telah ditulis kemarin-kemarin terlihat basi. Maka dari itu, sekarang saatnya aku memulai kembali menulis, dengan metode yang dipakai oleh penulis yang bukunya pertama kali aku minati. Aku akan menulis dengan cara ini, catatan harian.

Aku melanjutkan perjalanan hidupku saat memasuki SMA. Saat itu, aku lolos di salah satu sekolah yang favorit di sekitar pinggiran Jakarta. Walau masuknya di urutan-urutan kritis, yang penting bisa lolos dan juga bangga. Dengan melalui berbagai macam cobaan saat masa orientasi, akhirnya aku resmi menjadi siswa SMA. Perlu diketahui, aku dulu adalah orang yang ansos. Kepribadianku memang humoris, cuma kalau untuk aktif, bergaul, dan berbaur, bisa dikatakan aku salah satu yang sangat terpendam. Tapi, saat masa orientasi aku melihat ketua OSIS yang tampaknya sangat gagah dan berwibawa di hadapan banyak orang. Itu yang membuatku ingin menjadi lebih aktif. Aku ingin berubah di SMA. Makanya, saat pertama kali masuk kelas setelah masa orientasi, aku mengajukan diri sebagai ketua kelas dengan beberapa orang lain. Luar biasa, hampir seluruhnya memilihku, orang yang tidak tahu apa-apa.

Sesaat setelah terpilih, aku duduk di bangku tempatku duduk. Kebetulan aku duduk paling depan bersama teman SMP yang bahkan dulu aku belum kenal. Ya, aku baru mengenalnya saat masuk SMA. Aldo langsung cocok denganku seakan kami sudah lama kenal sejak SMP. Cuma, bukan itu yang mau aku ceritakan. Tapi perempuan yang duduk di sebelah kami. Perempuan berjilbab yang kurus dan lumayan pendiam. Kepalanya menoleh ke arahku, dan membuka sebuah kalimat.

 “Elo temennya Rafi ya?”. Dirinya tidak memperkenalkan diri, atau bertanya namaku. Dia hanya menanyakan kalimat itu, yang aku jawab dengan singkat.

 “Iya, kok tahu?”

“Gue temennya waktu SMP.”

“Oh gitu. Kalo gue sih temen SD nya. Di SDIT Ar-Rafiq.”

Perbincangan super singkat dan terkesan basa-basi tersebut, ternyata menjadi awal dari segalanya. Bahkan, terlalu awal mungkin. Lucu ya terkadang jika kita mengingat kembali kejadian awal, bahkan paling awal sekalipun. Akupun saat mengingatnya, kadang tersenyum sendiri, namun terkadang melamun tak karuan. Bukan tanpa alasan, karena suatu hari perempuan itu akan memiliki perasaan kepadaku.

Terbang bersama waktu ketika kejadian awal itu terjadi. Perempuan itu agaknya pendiam, dan kurang berbaur dengan sekitar. Setahuku, saat awal-awal dia di kelas, teman setianya hanya satu, Tia. Entah kenapa dia begitu pendiam pada awalnya. Namun, dia sempat antusias terhadapku yang memiliki buku khusus untuk menulis-menulis puisi yang aku buat atau aku lansir. Mungkin agak langka ya, di pergaulannya yang tidak terlalu luas, menemukan laki-laki yang menulis puisi di buku tulis yang diperuntukkan khusus. Aku tak tahu sekarang buku itu dimana, karena sudah tercecer dengan banyak buku. Padahal, isinya lumayan bagus untuk kadar pemula. Waktu itu, aku masih suci dari signature sajak zaman sekarang, layaknya kopi, hujan, senja, rindu dan lainnya. Dulu, aku menulis seperti tentang kematian, tentang amarah, dan tentang kesepian.

Enam bulan setelah perkenalan kami beserta tetek bengeknya, tepatnya di bulan Desember. Aku berniat pergi ke toko buku yang terletak di dalam mall dekat sekolah. Seperti biasa, aku berjalan sendirian. Temanku mungkin kurang berminat dengan buku, atau belum. Aku juga belum banyak mengenal teman, jadi ya sendirian saja. Kebetulan, di dekat toko buku, ada bioskop yang nangkring. Biasanya, aku membaca-baca sedikit buku yang aku baru beli di toko buku di pelataran sofa bioskop, atau sekadar mendengarkan lagu. Kaget betul, ketika toko buku sudah dekat, aku bertemu perempuan itu. Aku tak tahu apakah dia mengingat kejadian itu. Namun, aku mengingat sekali pertemuan singkat dan awkward kami.

“Loh, Ratih. Abis ngapain?” Ujar aku yang benar-benar kaget melihat dia.

“Eh Tara. Abis beli buku nih di gramed. Lo mau ke gramed juga ya?” jawabnya.

“Iya, ada yang mau dicari. Yah kita gak barengan deh nyarinya hehehe. Tumben gak bareng Tia, Rat.”

“Iya, dia pulang duluan. Gue juga mau langsung pulang nih. Duluan ya Tar.” Tutup percakapan kami sambil lambaian kecil darinya.

Sudah aku bilang kan. Terkadang, lucu jika kita  mengingat sesuatu dari awalnya. Aku bertemu dengannya di tangga dekat toko buku. Padahal jika dipikir-pikir, banyak tempat yang bisa kami masing-masing tuju. Toko buku tidak hanya satu gerai. Sekalipun kami menuju toko buku yang sama, waktu dalam sehari saja ada 24 jam. Meleset semenit saja, kami tidak akan bertemu kan? Atau bisa saja, aku bertemu dengan orang lain. Tapi, aku bertemu dengannya. Apakah rupa dirinya terpatri di alam bawah sadar sehingga menancap sangat dalam, dan timbul setelah beberapa lama dan menjadi sebuah perasaan, aku tak tahu. Yang jelas, cerita seperti ini, walaupun murah sekali, namun berkesan jika diingat. Akupun merasa berkesan sekali, hingga ingat sangat detil. Aku ingat, ketika pulang ke rumah, aku mengecek Twitter. Ternyata, ada dirinya yang membuat tweet berisikan foto dua buah buku novel. Aku bertanya kepadanya.

“Oh ini buku yang dibeli tadi ya?” Tulisku singkat.

“Iya Tar.” Jawabnya lebih singkat.

Singkat sekali. Sangat singkat. Namun, cerita ini tidak singkat. Walau waktunya melompat-lompat, tapi cerita ini jujur aku tulis setelah merangkai perasaanku. Masih banyak kisahku, yang bertemakan dirinya. Aku memutuskan untuk menulisnya perlahan-lahan, mengikuti kronologi. Aku tidak akan maju mundur, atau jalan cerita yang rumit. Aku akan membuatnya lurus. Karena, bagaimanapun aku juga ingin mengembalikan perasaan indah tentangnya, dan saat bersamanya, yang sekarang enggan untuk aku raih. Cerita ini bukan untuk kalian, tapi untukku, dan untukmu.

 

Fathur Alfarizi

TARATIH / Story #1 : Pilot

Karya Fathur Alfarizi Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 25 Februari 2017
Ringkasan
Aku menceritakan kejadian awal, bahkan paling awal dengannya. Perempuan yang suatu saat akan menjadi sesuatu, setidaknya untukku. Jujur, kami jarang mengambil gambar berdua karena terlalu menikmati. Jadi, aku kembali ke tempat-tempat yang pernah kami lalui, dan memotretnya ulang.
Dilihat 34 Kali