Aku, kamu, dan suatu siang di musim panas itu!

Aku, kamu, dan suatu siang di musim panas itu! Aku, kamu, dan suatu siang di musim panas itu!

Siang itu terik sekali, suhu di luar mendekati empat puluh deraja celcius. Aku harus memiliki niat dan tekad yang sangat kuat serta tujuan yang jelas jika harus keluar dari ruangan kerja itu sebelum matahari tenggelam. Percayalah, musim panas berada di urutan terakhir musim favoritku. 

Siang itu, aku sedang membaca sesuatu di layar komputerku, tetiba kamu datang lalu duduk di bangku kerjamu. Seperti biasa, kamu menyapa dengan sapaan khasmu. Apa kabar hari ini? Seperti biasa juga, kamu akan sibuk dengan ponsel pintarmu, fokus dengan game itu. Game yang aku tidak pernah mengerti arah dan tujuannya. Tapi kamu bilang, ini game melatih cara berpikir. Baiklah. Itu duniamu. Nikmatilah. 

Biasanya, setelah kamu bosan, kamu akan keluar menuju ruangan lain, atau kemana yang kamu suka. Dan sungguh, aku tidak peduli. 

Lalu tetiba, kamu memanggil namaku. Aku melihat sekilas ke arahmu dan menyahut: ya, ada apa? Kamu masih fokus ke layar telepon pintarmu dan aku kembali menatap layar komputerku.

Lalu, aku dengar lagi suaramu, kamu bertanya apakah aku sudah jadi pergi menuju taman bunga itu.  Aku jawab seadanya, belum dan kenapa? Kamu menjawab: bagaimana kalau kita pergi siang ini? Rasanya belum terlambat dan hari juga cerah.

Aku langsung berbalik mendorong kursiku ke arahmu. Serius? Aku tanya dengan nada terlalu bahagia.

Iya, yuuk. Ajak Rahmi juga ya, katamu. Dengan senang hati, jawabku.

Kita bertiga  menuju tempat itu dengan mobilmu. Sepanjang perjalanan, kamu menceritakan bahwa ada beberapa tempat konsep yang sama, tapi tempat yang ajan kita tuju ini, yang paling recommended saat itu.

Hari cerah dan berangin. Kita datang di waktu yang tepat, teriakmu.  Engkau terlihat menikmati dan sesekali menawarkan diri untuk mengambil potret diriku dan Rahmi. 

Taman itu sungguh penyegaran yang sempurna di tengah padatnya deadline aku saat itu. Aku bahagia.  Terima kasih.

Sesekali, saat itu aku memperhatikanmu dari jauh, dan bertanya dalam hati. Ada apa denganmu hari ini? Aku rasanya tidak pernah meminta diantarkan ke sini. Seingatku, diperjalanan kita menuju kota lain waktu itu, aku hanya bertanya, bulan apa yang paling bagus untuk mengunjungi taman itu. 

Tapi sekali lagi, terima kasih. Beberapa kali aku mengucapkannya di perjalanan pulang. Terima kasih untuk hari ini. 

Diperjalanan pulang itu juga,  kamu memutarkan sebuah lagu tentang bunga itu,  ini lagu yang kamu sering kamu senandungkan ketika kamu kerja, katamu. Aku senyum. 

Kini, beberapa bulan sudah berlalu sejak siang itu, dan siang itu masih jadi siang favoritku sampai detik ini. 

Kini, beberapa bulan sudah berlalu sejak bulan itu, kamu mulai menjajah pikiranku. Adakah ini pertanda kamu akan menjadi yang favorit di hati ini? 

Aku, kamu, dan suatu siang di musim panas itu.

Farrah Hanum

Aku, kamu, dan suatu siang di musim panas itu!

Karya Farrah Hanum Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 25 Februari 2017
Ringkasan
Kini, beberapa bulan sudah berlalu sejak siang itu, dan siang itu masih jadi siang favoritku sampai detik ini.
Dilihat 55 Kali