"Petunjuk" Itu Nyata

     Kisah singkat perjalanan cinta terhadap lawan jenis yang nyata namun semu bagi penulis adalah pengalaman pertama namun terbodoh sepanjang perjalanan hidupnya.

Kisahnya...

     Kawan lamaku tiba-tiba datang ke kehidupanku. Entah mengapa, tiba-tiba ia menghubungiku. Karena 'cinta monyet, CLBK (cinta lama belum kelar)' itu, aku baper kegirangan menerima telepon dari doi. Dengan sigap kujawab teleponnya. Berbincang, curhat-curhatan si doi kepadaku. Aku yang notabene-nya CLBK dengan si doi, tak keberatan. Aku juga merasa bahwa ia adalah kawanku, tak masalah ia meminta pendapatku. Aku memberi pendapat sebisaku, dengan keterbatasan pengetahuan akan dunia 'pacaran'.

     Singkat cerita, seringnya doi curhat, bahkan nostalgia masa sekolah dulu, aku merasa biasa saja dan menganggap ia kawan yang patut dibantu saat kesulitan. Bahkan kuanggap pembicaraan itu hiburanku, pelepas penatku. Namun beberapa lama, si doi menyerempet ke arah yang agak 'sensitif' bagiku. Dalam teleponnya, ia sempat mengucapkan "maukah aku dengannya?" Pertama kali ucapan doi aku anggap hanya bercanda, walau bergetar rasa bapeku yang 'CLBK' itu. Tetapi, beberapa kali hingga aku merasa 'mungkin doi serius', atau pikiran jelekku mengatakan 'ia hanya putus asa' karena tak kunjung menikah.

     Setelah kesekian kali pertanyaan doi yang membuatku baper, berpikir berulang juga, bertanya dan memastikan doi benar dengan ucapannya, diriku ini luluh. Baperku benar baper, jadilah 'cinta monyet, CLBK cinta lama belum kelar' menjadi "CLBK cinta lama bersemi kembali". Kedekatan curhat dan nostalgia kami yang lebih dari 6 bulan itu menjadi lebih intens. Hanya dalam waktu 2 bulan doi dan aku benar-benar intens sebagai '2 orang yang memandang masa depan'. Angan jauh ke depan benar terbayang dan terencana. Bahkan seperti pasangan lainnya, saling memberi perhatian dan lebih sering menelepon.

     Tapi 2 bulan itu menjadi waktu yang benar-benar singkat. Entah ia bagaimana, sibuk, atau entahlah, itu urusan dia, ia menghilang dan jarang ada kabar. 'BAPERKU' ini kalut. haruskah kuhubungi dia atau bagaimana. Akhirnya sesekali hanya kukirim pesan WA untuk menghilangkan kegalauan hatiku. Sembari kulakukan sholat istikhoroh, yang katanya agar kita diberi petunjuk atas 2 pilihan yang tak tahu mana yang lebih baik. Tapi 'baperku' tidak kuat. 'Baperku' menangis, sesak benar dada ini. Bahkan pernah kulihat doi posting tentang wanita. Lebih baper lagi jadinya. Lebih kugiatkan lagi istikhorohku. Walau ternyata akhirnya kutahu doi posting untuk adiknya. 'Baperku' lega walau sempat terucap kuikhlaskan doi.

     Tapi semakin lama, semakin sakit rasanya ditinggalkan tanpa kabar. Benar 'baperku' sangat kalut. Kugiatkan lagi istikhorohku. Entah berapa lama kulakukan istikhoroh didampingi tahajjud. Hingga akhirnya, kudapatkan kemantapan hati bahwa doi memang harus kulupakan, kutinggalkan, mungkin bukan ia yang terbaik untukku. Karena jujur, awal doi 'kuterima', 'baperku' tak 100% yakin, ia benar atau hanya putus asa. Akhirnya, kutakar-takar, keikhlasanku melepas doi 75% kucatat dalam harianku. 'Baperku' pun lega, sudah mengikhlaskan doi terserah mau pergi ke mana, hahahaha.

     Dan setelah 4 bulan 'baperku' dalam keadaan kalut, carut-marut, kudapatkan kabar doi akan menikah dengan mantannya, wanita pilihannya, wanita calon istrinya 2 tahun silam. Ya, ternyata keikhlasan dan kemantapan hati yang 'baperku' dapatkan terbuktikan, dijawab oleh waktu, si doi menikah dengan mantannya.

     Jadi, kawan, jangan ragukan Allah, ya. Petunjuk itu ada kok. Tapi gak seperti di sinetron-sinetron atau film-film yang akan didapatkan dari mimpi. Petunjuk itu bisa kamu dapatkan dikeyakinan hati dan kehidupan nyata. Yakinlah, pilihan yang sulit akan kamu dapatkan jawaban pilihan terbaik dengan cara kamu meminta petunjuk dari Allah. Aku sudah membuktikannya kok.

Ini sebagai pembelajaran saja ya, share pengalaman, jalan hidup. Walau tidak terlalu berharga dan 'wow' pengalamannya, tetapi mungkin bisa jadi pengetahuan bagi kalian saja, kawan. Jangan lupa juga, jangan baper dan galau-galau amat kaya 'baperku' dalam menghadapi keadaan. Terlalu bodoh menjalani hubungan yang 'aneh' dan 'gak masuk akal' sebenarnya. Dasar aja 'baperku' yang terlalu terlena dengan keadaan. Tapi bukan salah doi juga kok. Aku paham mengapa dia seperti itu. Ini semua terjadi karena kesalahan 'baperku' yang masih terlalu bodoh, bukan salah orang lain, apalagi doi. Jangan berlarut-larut baper dan galaunya, nanti susah sendiri. :-D

Octaviani Istikharoh Riyadi

"Petunjuk" Itu Nyata

Karya Octaviani Istikharoh Riyadi Kategori Catatan Harian dipublikasikan 23 Februari 2017
Ringkasan
Terbawa perasaan dalam 'rasa cinta' terhadap lawan jenis, tanpa pengetahuan yang nyata, menjebloskanmu ke dalam perasaan yang 'sesaat tak berlogika'
Dilihat 26 Kali