Ujung Usia Part 5

Ujung Usia Part 5 Ujung Usia Part 5

Ujung Usia

By. Fatihah

Part 5

 

    Assalamu'alaikum Za.

    Zahira qalbi

    Sudah bertemu dengannya? Cieeee. Hhh

    Senyumku mengembang. Penamu seakan hidup Di. 

    Za. Ini kisah seorang perempuanku.

    "Perempuanku?"

    Ya, perempuanku. 

    Matanya sayu, jalannya pasrah. Kemana jalan berbelok, ia ikuti. Hanya diam. Tanpa suara seorang anak kecil mengikutinya. " Ibu..." Matanya basah perempuan itu mengabaikannya. Suaranya lirih menahan tangis, sesenggukan yang ia tahan tak bisa menutup telinga perempuan yang di panggilnya ibu.

    Langkahnya berhenti, "Mas mau ikut ibu?" mata polosnya berkedip. Ia menggandeng tanganku. Erat sekali. Seakan hanya aku saja miliknya. 

   "Dian haus bu..." Perempuan itu segera merogoh saku celanaya yang telah pudar di makan zaman. Seperak logam di dapat. Seketika matanya menajam. Jeli sekali. Bidikkan yang tepat. Sebuah warung tua kami hampiri.

    "Ibu mau?" tangan kecil itu mengulur hingga bibir perempuan itu meneguknya. Sebuah taman lengkap dengan ayunan mengakiri langkah kami.

    Aku tahu apa yang terjadi. Karena ini bukan pertama kalinya ibu seperti ini. Dia perempuanku. Separuh hidupku. 

    Sebelum subuh telah terjadi debat yang semakin lama semakin meninggi radiusnya. Tak ingin aku menyebutnya Abang, tapi begitulah adanya. Suara istri lebih benar daripada suara perempuanku. Semakin kemari aku menganggapnya seorang pecundang. 

    Hingga akirnya dia memilih tinggal bersama perempuannya. Aku dan perempuanku mengalah. Ruang kecil menjadi sandaran kami. Sejak itu aku sangat membencinya. Anak durhaka.

    Hhhhh

    Maaf Za, aku tidak mampu bercerita ketika menatapmu. Tepat 2 tahun yang lalu. Seorang kerabat jauh datang. Dia mengajakku tinggal bersamanya. "Jangan putus sekolah nak. Buatlah ibumu senang. Jadilah bintang, terangi hatinya yang kelam." 

    Senja sore melepas ku. Perempuanku sendiri. Ia tidak menangis. Tawanya sangat mengembang. Tapi. Binar mata itu. Tak mampu aku menatapnya. 

    "Jadilah elang. Jelajahi semua. Jangan kawatirkan ibu. Pejamkan matamu, ibu akan datang mencium keningmu. Simpan air matamu." Tangan itu untuk terakir kalinya menyentuhku.

    Ia melambai hingga mobil putih yang paman kemudi hilang dari pandangannya. Sepanjang jalan ku lukis janji. Janji setia pada perempuanku. Takkan ku biarkan hatinya menganga untuk kesekian kalinya. "Tunggu aku kembali ibu..."

    Terima kasih Za, kamulah satu - satunya orang yang aku percaya. Jangan takut menegurku bila kusalah, nasehati aku, atau diamkan aku jika kau marah. Karena aku sangat senang dengan hal itu. 

    Hhhh

    Inilah aku yang sebenarnya sahabat, masihkah engkau mau ku sebut sahabat. Bersahabat dengan orang yang papa ini. Aku sudah terbiasa sendiri, jadi kamu tidak usah kawatir. Tapi bisakah saat ini aku meminta tolong? Kirimkan sebuah al fatihah untuknya. Perempuanku.

    "... Al Fatihah... Aamiin." Lantunku hampir tak bersuara.

    Terima kasih Za. 

    Kamu Teman terbaikku.

    Assalamu'alaikum.

    "Wa'alaikumusalam... Kamu tetap sahabatku Di. Sampai kapanpun. Teruslah menjadi elang...

>Bersambung

Alif Fatihah

Ujung Usia Part 5

Karya Alif Fatihah Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 23 Februari 2017
Ringkasan
Cinta rahasia dari Sang Maha Cinta
Dilihat 20 Kali