Nyinyir

Nyinyir Nyinyir

Ketika belum menikah, ada yang bertanya "Kapan menikah?" "Mau dikenalin sama si anu gak? Dia mapan". Padahal kenal sama yang mau ngenalin aja nggak.
Ketika sudah berencana menikah dan memperkanalkan calon "Calonmu kerjanya apa?" "Dulu dikenalin sama yang udah punya gak mau, nanti habis menikah tinggal dimana?". Padahal mapan bukan jaminan kebahagiaan.
 
Ketika sudah menikah baru seminggu udah ditanga "Kapan punya anak?". Giliran habis menikah langsung positif hamil, dicurigai MBA padahal perhitungan hamil dari HPHT (Hari pertama haid terakhir) bukan dari tanggal nikah! Lain cerita ketika sudah menikah setahun belum hamil juga "Kok belum ada momongan juga? nunda ya?" "Kurang kali ikhtiarnya". Padahal hamil gak hamil urusan Allah, manusia cuma merencanakan, berusaha dan berdoa.
 
Ketika hamil namun masih wara wiri jadi ibu bekerja, "Kamu kerja naik motor nyambung bus, turun angkot, kasihan itu bayi, udah resign aja ntar kenapa-kenapa". Padahal ada biaya rumah sakit yang terbayang di kepala untuk disiapkan. Ada kewajiban yang belum tertunaikan.
 
Ketika harus resign karena kandungan berisiko "Ya ampun begitu aja manja, dulu saya hamil pulang pergi naik kereta berangkat subuh pulang maghrib kuat kok". Padahal dia gak tau kalo bangun aja merintih susah apalagi bekerja?.
 
Ketika melahirkan secar dibilang gak normal "kenapa gak normal aja? Takut sakit? Kan lebih hemat. Gak merasakan jadi ibu". Padahal secar sakitnya berbulan-bulan, lebih mahal, lama sembuhnya, banyak pantangannya, masih gak layak kah dipanggil ibu?. Ngenes. Padahal secar bukan karena mau si ibu tapi karena kecemasan karena bayi terlilit tali pusar,, tekanan darah ibu tinggi, bayi sungsang, ketuban kurang yang butuh penanganan segera. Yang biayanya diusahakan dan dikeluarkan dari seluruh tabungan yang ada. Demi ibu dan anak yang selamat.
 
Apakah lahiran pervaginal bebas nyinyir? Gak juga. "Ih dia lama pembukaannya, males sih, banyak dosa". "Kalau normal mah di klinik aja ngapain juga di rumah sakit mending duitnya buat yang lain". Padahal mah suka-suka bayi mau keluar kapan asal aman. Padahal mah uang sendiri juga. 
 
Ketika sudah melahirkan "Udah dikasih ini aja, itu aja, biar begini, biar begitu". Padahal belum tentu itu benar, gak boleh sama dokter dan keilmuan yang sudah berkembang.
 
Ketika memutuskan kembali bekerja setelah cuti habis, " Ya ampun gak kasian bayi masih merah udah kerja, gitu amat cari duit" atau "Lebih percaya sama pembantu atau penitipan anak daripada orang tua sendiri buat ngurus anak" Padahal dia gak tau kalo ada cicilan rumah yang masih berjalan, dapur yang harus dibetulkan, tabungan pendidikan yang harus disiapkan, dan air mata yang berjatuhan setiap pagi beserta doa tulus yang tak pernah putus supaya pembantu/pengasuh yang dititipkan amanah menjaga anak kita.
 
"Gak liat apa ibunya udah tua, capek, masih juga suruh ngurusin cucu". Padahal ada banyak alasan disana: ibu yang kekeuh menawarkan diri, biaya pengasuh yang tinggi, atau lain lagi dan kita tidak tau.
 
Ketika memutuskan memberikan ASI saja tanpa susu formula "dasar pelit, gak modal, percuma kerja gak mampu beli susu". Padahal si ibu cuma berjuang memberikan cairan emasny yang hanya sampai 2 tahun untuk investasi tak ternilai selamanya. Mengorbankan waktu, tenaga dan uang untuk membeli peralatannya.
 
Apakah memberi sufor bebas masalah? O tidak, padahal dengan indikasi medis dokter "Kok gak ASI? Gak mau usaha ya? Gak mau payudara kendur ya?". Padahal si ibu menangis berusaha untuk kembali memberi ASI, relaktasi, atau memang tidak dibolehkan dokter karena suatu hal.
 
Ketika memutuskan resign di rumah saja "Udah sekolah sampe sarjana di dapur juga akhirnya" "Istri manja, males, maunya nadah sama suami" "Gak produktif amat itu hidupnya". Padahal hati menahan ego dan ambisi mengorbankan diri untuk sekedar patuh terhadap suami agar mendidik lansung buah hati.
 
Ketika mendidik dan merawat anak dengan cara yang berbeda sedikit dari biasanya "iiih kok gitu sih, gak bener, mau beda aja dari yang lain. Kebanyakan baca internet tuh jadi ga percaya sama orang tua dulu" atau "dasar orang tua baru kemarin, sok paling bener". Padahal hanya berusaha mendidik sesuai jaman dan kemajuan teknologi.
 
Pernah mendengar yang kaya diatas? Pernah. Ada yang kaya gitu? Ada.
 
Sebagian komentar orang di sekitar kita mulai dari anggota keluarga sampai sodara jauh dari tetangga samping rumah dulu yang udah pindah ke luar pulau (kebayang kan jauhnya dan gak ada hubungan juga) adalah komentar membangun dan bentuk kepedulian. Yang sangat bermanfaat. Namun banyak juga yang cuma nyinyir tanpa tau latar belakang masalahnya. Apa aja yang kita lakuin ya salah, harus dikomenin, kepo maksimal sampai gak tahan harus komentar.
 
Percayalah, yang nyinyir akan tetap nyinyir. Yang gak suka akan tetap gak suka. Udah, diemin aja.
 
Bukankah ada pepatah : Gajah di pelupuk mata tak terlihat, semut disebrang lautan nampak?
 
Emang udah bawaannya begitu. Ambil aja hikmahnya kalau dia peduli dan sayang sama kita. Tapi yang menurut mereka benar belum tentu sesuai dengan keadaan diri sendiri So, keputusan tetap ada ditanganmu, bukan karena dia atau orang lain.
 
Karena ini hidupmu, bukan hidup mereka. Kebahagianmu karena usahamu. Bawalah yang lain ikut berbahagia. Susah dan kesulitanmu milikmu, apalagi mereka gak akan mau ikut susah.
 
Jadi, dengarkanlah suara hatimu. Bukan nyinyiran orang
 
Ambil yang membangun diri jadi lebih baik, buang jauh-jauh yang cuma bikin stress dan baper apalagj bikin ASI seret.
 
Satu lagi, mari berusaha gak nyinyir sama orang lain, paling ga kurangin laah.. karena dinyinyirin itu gak enak sis!
 
Bekasi 3 Februari 2017
 
Dari emak yang masih terus berusaha menjadi lebih baik

fadillah putri dirgahayu

Nyinyir

Karya fadillah putri dirgahayu Kategori Catatan Harian dipublikasikan 18 Februari 2017
Ringkasan
Karena ini hidupmu, bukan hidup mereka. Kebahagianmu karena usahamu. Bawalah yang lain ikut berbahagia. Susah dan kesulitanmu milikmu, apalagi mereka gak akan mau ikut susah. Jadi, dengarkanlah suara hatimu. Bukan nyinyiran orang
Dilihat 25 Kali