Mozzarella di Atas Pizza

Mozzarella di Atas Pizza Mozzarella di Atas Pizza

Oleh: Handry TM

MOZZARELLA di atas pizza sudah menjadi mitos yang tak terpisahkan. Selain adonan buah tomat, nanas, paprika, pepperoni dan daging sapi asap yang menyertai, mozzarella menjadi pemikat bagi lidah para penikmatnya. Namun tidak demikian dengan kisah Ratu Margherita. Ia lebih memilih pizza tanpa keju yang pertama kali dibuat di Naples – Italia itu. Ratu Margherita lebih suka berlama-lama menatap adonan saus tomat yang kemerah-merahan menyerupai bendera Italia. Hijaunya daun basil melengkapi warna bendera negaranya. Karena itu, pizza yang dibuat pada era 1800 ke atas itu popular dengan nama Pizza Margherita seperti nama Sang Ratu.

            Disebut sebagai keju pizza, karena kandungan susunya lebih lunak dibanding keju biasa. Ketika pertama dibuat di Naples, para petani menggunakan bahan susu kerbau untuk mozzarella. Jenis ini biasa disebut sebagai Mozzarella Di Bufala. Yang menggunakan bahan susu sapi bernama Mozzarella Fior Di Latte. Mula-mula mozzarella dibuat tanpa proses pasteurisasi, maka tidak tahan lama, lumer dan mudah leleh. Keju ini hanya siap saji selepas diolah jadi.

            Pizza bukan jenis makanan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin cepat kenyang. Roti yang dipanggang di atas loyang berdiameter 30 cm itu terbuat dari tepung terigu biasa. Soal tambahan rasa bisa dilumuri tumbukan bawang, wijen dan rasa lain sesuai selera. Topping di atasnya pun bermacam-macam, silakan taburi nanas, paprika atau tomat, tambahkan pula daging asap kemerahan yang menggugah selera.

            Yang pasti, pizza biasa dimakan untuk sarapan pagi atau makan malam. Ketika nampan pizza terletak di tengah meja, beberapa orang mengelilingi dan memotong seruas demi seruas. Apa yang terjadi pada orang-orang yang mengelilingi? Mereka bicara tentang pekerjaan, kekasih dan kesenangan. Satu-dua di antara mereka bergunjing mengenai masa lalu, sesekali mengolok kehidupan mereka sendiri.

            Tidak lupa, ujung lidah para pelahap itu meraih mozzarella yang lumer menyerupai adonan lasagna atau kue pasta. “Life is mostly pain and struggle; the rest is love and deep dish pizza.” (Hidup ini sebagian besar adalah rasa sakit dan perjuangan. Lebih dari itu adalah cinta dan kedalaman nampan pizza), tulis Benedict Smith, penulis buku The Pack dan Particularism and the Space of Moral Reasons.

 

Memotong dari Tepi

            Pilihan topping di dalam pizza mencerminkan pilihan tema yang akan dibicarakan ketika pizza tersaji. Di restoran kita bisa ngobrol apa saja, yang ringan dan lucu, sampai ke politik comberan yang sedang terjadi. Di rumah, pizza bisa dipesan melalui online, telepon atau antar saji. Di Italia, jenis makanan ini bisa dibeli di warung grosir, eat in atau takeaway.

            Mozzarella memaknai filosofi penting dalam upacara makan pizza di tengah kota. Keju berwarna putih kekuningan dan mudah lumer itu, menandai betapa sempurnanya selera pizza seseorang. Hanya mereka yang memiliki imajinasi besar di luar mainstream seperti Ratu Margherita yang berani mengesampingkan keberadaannya.

            Jika Anda berani mengambil keputusan untuk tidak established dalam sebuah perbincangan, bisa saja Anda mengorder ke pramusaji untuk senampan pizza tanpa bahan tertentu. Alasan lain yang dikemukakan, karena inilah saat yang tepat menggigit potongan pizza tanpa kerepotan oleh lumeran pasta.

            Dengan kata lain, adonan tambahan bisa dialihkan dengan sayur dan buah herbal tanpa harus diganggu oleh sari hewani seperti keju putih tadi. Selebihnya, upacara memakan pizza bisa lebih riuh dengan pembicaraan-pembicaraan yang dibenturkan. Misalnya, beradu dengan seorang kawan mengenai pilihan politik yang berbeda tajam, kemudian mencoba berdebat mengenai perbedaan itu. Sambil otak bekerja, perut lapar dan kita potong seruas demi seruas pizza di depan itu.

            Bagaimanakah nasib mozzarella yang tidak dianggap tersebut? Ia akan menjaga keberadaannya di dalam imajinasi kolektif. Pizza tanpa mozzarella, seperti lautan tak bergaram. Kita memilih tanpa mozzarella sebenarnya mengandung risiko, bisa saja rasa pizza yang kita pesan menjadi lain. Lawan makan kita tiba-tiba bertanya, “Masih merasakan kelezatannya tanpa mozzarella?” Mungkin Anda tidak bisa menjawab, karena Anda sedang mencoba dengan rasa yang beda.

            Tensi perbincangan bisa lebih tinggi dengan mengunyah ruas pizza yang kedua. “Jangankan selera rasa, arah politik yang berbeda pun bisa mengubah rasa mozzarella yang sama.”

            Perdebatan terus berlanjut. Masing-masing bersilat lidah, masing-masing mengemukakan latar-belakang dan asal sejarah. Pada titik terakhir, “Saya serahkan sikap politik saya pada dogma. Agama itu dogma lho, bisa saja tanpa akal sehat,” kata salah satu dari kerumunan upacara memakan pizza tadi.

            “Jadi, kita tidak bisa mencari titik temu?” Ketika tawaran simpatik itu dimunculkan, yang lain justru menggeleng tanpa ragu.

            “Baik, artinya kita sepakat untuk tidak sepakat?” Anda berkata begitu, yang lain saling mengangguk.

            Maka, ruas terakhir pizza pun tandas sudah. Mozzarella tak lagi berada di atas adonan kue, masing-masing menemukan rasa yang tidak sama seperti yang diperbincangan di awal.

* Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Dimuat di Harian Wawasan 18 Februari 2017

 

 

Quotes

Di rumah, pizza bisa dipesan melalui online, telepon atau antar saji. Di Italia, jenis makanan ini bisa dibeli di warung grosir, eat in atau takeaway.

 

 

 

 

 

handry tm

Mozzarella di Atas Pizza

Karya handry tm Kategori Inspiratif dipublikasikan 18 Februari 2017
Ringkasan
Sungguh tidak mudah mengingkari sejarah. Mozzarella yang biasanya menjadi pelengkap di nampan pizza, Ratu Margherita Savoia, istri Kaisar Umberto dari Italia, tak menyukai adonan itu. Adakah cerita menarik di balik semua kisah tersebut?
Dilihat 41 Kali